Sunday, December 4, 2016

GERAKAN BUKA MULUT

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:






Barangkali tidak ada aksi balita yang lebih menakutkan para ibu selain Gerakan Tutup Mulut (GTM). Problem anak susah makan sepertinya telah menjadi fase wajib yang dihadapi oleh hampir semua orangtua.

“Anak saya kalau makan, makanannya cuma diemut saja, enggak ditelan-telan.”

“Itu masih mending, anak saya malah mulutnya mingkem rapet kalau mau disuapin.”

Keluhan-keluhan seperti ini telah menjadi klise di obrolan para ibu, tak terkecuali istri saya. Tiap kali kesulitan menyuapi si kecil, dia seketika stres sampai-sampai saya tidak bisa membedakannya dengan gejala premenstrual syndrome (PMS) J. Saking sulitnya si kecil makan, sampai-sampai tugas menyiapkan makanan dan menemaninya makan harus kami lakukan berdua secara langsung.


Ketika saya menghadapi sendiri masalah ini, saya bisa merasakan betapa masalah anak susah makan memang bukan perkara yang gampang diatasi. Jadi, wajar kalau para ibu mengalami “gejala PMS” berkali-kali dalam sebulan.

Seperti kebanyakan orangtua lain di zaman digital ini, saya berusaha mencari solusinya lewat bantuan Google. Namun, kali ini saya tidak puas dengan layanan mesin pencari ini. Dengan menggunakan kata-kata kunci umum seperti anak susah makan, picky eater, fussy eater, dan sejenisnya, saya cuma dibawa berputar-putar dari satu situs ke situs lain yang isinya tak jauh-jauh beda. Belum ada satu situs web khusus yang secara komplet membahas perkara ini.

Akhirnya, saya banyak bereksperimen dengan dasar-dasar ilmu yang saya peroleh dari internet itu. Alhamdulillah, berhasil. Sekalipun anak saya nafsu makannya masih naik turun, setidaknya dia cukup makan, cukup gizi, dan sangat sehat. Dalam mengukur tingkat kesehatan dan tumbuh kembangnya, kami cuma menggunakan ukuran awam saja, yaitu bahwa dia sangat aktif dan jarang sekali sakit walaupun sejak bisa berjalan, dia biasa berhujan-hujan atau bermain di bawah terik matahari.

Sebagian isi buku ini ditulis berdasarkan pedoman umum yang diakui kalangan dokter anak dan ahli gizi, ditambah pengalaman pribadi menerapkannya. Sebagian lagi merupakan teori-teori yang masih diperdebatkan. Untuk teori-teori yang masih pro-kontra ini, penulis berusaha menyertakan referensinya supaya pembaca bisa mengecek sendiri.

Penulis buku ini bukan ahli di bidang gizi atau pengasuhan anak, hanya kebetulan tukang nulis yang giat mencari referensi untuk mengatasi masalah susah makan pada anaknya. Karena itu, masukan dan saran untuk perbaikan buku ini sangat dinantikan.

Pengalaman satu orang tentu tidak bisa dijadikan sebagai pedoman umum. Trik yang berhasil untuk anak saya mungkin saja tidak berhasil untuk anak lain. Kami sendiri pun sempat mencoba berbagai trik yang hasilnya tidak memuaskan. Meski demikian, bab-bab yang dibahas di buku ini adalah pedoman-pedoman umum dari berbagai referensi kesehatan anak yang terpercaya. Jadi, layak untuk dicoba atau dijadikan sumber ide.


Buku ini ditulis untuk pembaca awam yang tidak berlatar belakang pendidikan ilmu kesehatan tetapi terbiasa membuka internet, entah lewat ponsel, tablet, atau laptop. Referensinya saya sertakan dalam bentuk format googling supaya lebih mudah dicek. Semoga bermanfaat. Salam buka mulut. 

TIAP ANAK ITU UNIK

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:







Jika anak Anda susah makan, sebelum Anda senewen dan disangka mengalami PMS, mari sadari dulu bahwa Anda tidak sendirian. Hampir semua orangtua pernah mengalaminya. Tak usah merasa menjadi orangtua yang paling melarat di dunia. Masalah ini merupakan problem umum yang dihadapi oleh sebagian besar balita, hanya kadarnya yang berbeda-beda.

Ada anak yang sekadar susah makan, dalam arti masih mau makan walaupun susah. Ada yang picky eater, cuma mau makan makanan tertentu. Ada pula yang benar-benar tidak mau makan dan hanya mau minum susu selama tiga tahun atau bahkan lima tahun. Jadi, sekali lagi, jangan menganggap anak Anda sebagai anak yang paling rewel di dunia.

Kabar baiknya, problem yang biasa dialami anak balita ini biasanya akan berkurang sedikit demi sedikit dan akan menghilang dengan sendirinya seiring dengan bertambahnya usia anak.  

Kalau seorang anak mengalami susah makan, bisa jadi memang ia memiliki kelainan bawaan misalnya geligi atau organ cerna yang belum tumbuh sempurna. Namun, pada sebagian besar anak, masalah utamanya bukanlah kelainan bawaan melainkan kurang tepatnya cara orangtua dalam memberi makan dan mengawal tumbuh kembang si anak.

Sabar dan Telaten
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang teknik-teknik memberi makan anak, pertama-tama kita harus sadar bahwa usaha untuk mengatasi masalah anak susah makan butuh kesabaran ekstra. Ya, sabar yang ekstra. Klise memang tapi demikianlah faktanya. Kesabaran dan ketelatenan adalah bekal utama sebelum kita bicara tentang trik ini dan itu.

Paling awal, kesabaran ini diperlukan untuk mengenali sifat-sifat dan perilaku si anak. Mungkin terdengar aneh, sebetulnya banyak orangtua, termasuk kami, yang belum begitu mengenal sifat dan perilaku anak dengan baik.

Setiap anak memiliki keunikan tersendiri. Ini yang harus dikenali oleh orangtua agar bisa menemukan trik yang paling tepat buat dia. Kita boleh meniru trik orang lain tapi satu trik yang berhasil buat seorang anak, belum tentu berhasil untuk anak kita.

Sebagai contoh, anak kami. Sebelumnya kami masih berpikir dengan perspektif nasi. Yang namanya makan, harus dengan nasi. Jadi kami mulanya menyiasati masalah sulit makan itu dengan menyiapkan lauk yang berganti-ganti. Sekali dua kali memang berhasil, tapi tetap saja ia sering menolak makan.

Nasi Bukan Segalanya
Kami butuh waktu beberapa minggu untuk mengamati dan membuat kesimpulan bahwa dia bukan jenis “anak nasi”. Jika disuguhi nasi, ia lebih sering menolak daripada menerima. Bahkan, sebelum dia fasih bicara, dia sudah sangat pintar bilang “ndak doyan”. Untungnya, meski tidak suka nasi, dia mau makan kacang-kacangan, mulai dari kacang hijau, kedelai, termasuk tempe, hingga kacang tanah dan kacang tunggak.

Pada mulanya kami menvonis dia sebagai anak yang susah makan karena memang jarang mau makan nasi. Tapi setelah pengamatan dengan karbohidrat lain, kami meralat vonis sebelumnya. Kamilah yang tidak mengerti. Memang dia tidak makan nasi setiap hari, tapi itu bukan masalah besar karena toh gizi dari nasi bisa digantikan oleh gizi dari makanan-makanan lain.

Dalam urusan makan anak, orang-orang tua tidak selalu benar. Jika kami menggunakan pedoman orang-orang tua zaman dulu yang menganggap nasi sebagai segala-galanya, tentu anak saya sudah masuk kategori gawat darurat karena kadang dalam beberapa hari dia sama sekali tidak makan nasi.

Tiap kali kami berkunjung ke rumah ayah-ibu saya, emak saya bahkan selalu mengomeli istri saya kalau dia melihat si kecil tidak mau makan nasi sama sekali. Tapi karena kami tahu bahwa gizi nasi bisa tergantikan oleh makanan lain, kami tidak mencemaskannya sama sekali.

Setelah melakukan pengamatan beberapa minggu, kami biasanya baru mengetahui sifat-sifat uniknya dalam soal makan. Misalnya, dia biasanya menjadi lahap makan setelah dibiarkan bermain air sepuasnya. Pada awalnya, kami lebih sering melarang dia bermain air lama-lama karena kami khawatir dia jatuh sakit. Dalam kebiasaan keluarga Jawa, anak kecil memang tidak boleh lama-lama bermain di kamar mandi.

Tetapi karena dia sering menagis jika dilarang bermain air, akhirnya kami membolehkan dia kecipak-kecipuk di depan kamar mandi sampai puas. Awalnya kami bereksperimen sederhana, membiarkan dia bermain air sepuasnya, entah main semprotan, kecipak-kecipuk, hingga berendam di dalam bak.

Mulanya sekadar agar dia tidak menangis karena memang dia jenis “putri duyung” yang suka sekali bermain di air. Jika ia dibiarkan bermain lalu diberi bak dan selang dengan air yang mengalir, ia akan segera menjadi anak yang paling bahagia di dunia. Air akan ia semprotkan di lantai lalu ia bermain perosotan di lantai yang licin itu.

Selalu Waspada
Tentunya selama ia bermain, kami tetap mengawasinya, jangan sampai dia kedinginan atau melakukan sesuatu yang berbahaya. Ternyata, selain bisa menghentikan tangisnya, cara ini juga efektif sekali sebagai penambah nafsu makan.

Setelah bermain air sepuasnya, dia biasanya minta mentas sendiri dan setelah itu makan dengan lahap. Dugaan saya, selain karena hatinya puas, kelihatannya ini juga karena air yang dingin membuat tubuhnya aktif membakar energi untuk menghangatkan diri sehingga menjadikan dia lapar.

Trik bermain ini kami terapkan tidak hanya dalam urusan makan tapi juga urusan mandi. Kalau si kecil tidak mau mandi, saya ajak dia ke kamar mandi, lalu saya melepas baju saya sendiri dan berjongkok sembari menyuruh dia menyabuni badan saya. Pada saat dia menyabuni badan saya, saya menyabuni badannya.

Cara ini selalu berhasil membuat dia mau mandi dengan riang gembira. Bonusnya, setelah mandi penuh kegembiraan itu biasanya dia akan makan dengan lahap. Dari berbagai pengamatan ini, kami menyimpulkan bahwa dia menjadi lebih bernafsu makan kalau diajak bermain sampai puas.

Pengamatan selama beberapa minggu juga membuat kami tahu bahwa si kecil doyan makan sumber karbohidrat selain nasi seperti kentang, pisang, roti, singkong, ubi jalar, dan makanan yang dibuat dari tepung terigu. Jadi walaupun dia jarang makan nasi, dia masih bisa mendapatkan gizi dari tepung terigu dan kacang-kacangan.

Intinya, sebagai orangtua kita harus mau mengakui bahwa kita kadang belum begitu mengenal sifat dan perilaku anak kita sendiri. Kita harus telaten melakukan pengamatan pada anak. Trik yang berhasil pada seorang anak belum tentu berhasil untuk anak lain, tapi pesan utamanya sebetulnya sama: orangtua harus telaten mengamati keunikan pada anaknya.

Pengamatan ini mirip dengan penelitian di laboratorium. Perlu eksperimen. Yang namanya eksperimen, kadang berhasil, kadang gagal. Yang penting kita tetap memantau keadaan si anak, jangan sampai eksperimen itu membahayakan dia, misalnya membuat dia sampai kelaparan dan sakit.

Begitu pula dengan eksperimen bermain air. Kalau tidak kita awasi, bisa saja karena saking asyiknya bermain, si anak sampai kedinginan atau menelan banyak air mentah. Bisa juga air itu menjadi sumber penyakit kulit jika tempat bermainnya kotor.

Berpikir dengan Kacamata Anak
Setiap anak itu unik. Tiap anak punya hal yang disukai dan tidak disukai. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun punya kegemaran sendiri-sendiri dalam hal makanan. Saya, misalnya, suka tempe yang digoreng basah, sementara istri saya suka tempe yang digoreng kering. Saya suka kerupuk ikan yang agak alot, istri saya suka kerupuk yang renyah kriuk-kriuk.

Pada anak-anak, sifat unik ini sudah mulai tampak dan harus dikenali oleh orangtua. Anak saya, misalnya, suka makan sup dan soto ayam tapi kalau di mangkuknya ada irisan bawang daun, dia akan bilang dengan judes, “Ndak doyan!”

Untuk memudahkan pengamatan, kita bisa menggunakan buku harian khusus anak. Di buku itu kita catat makanan apa saja yang kita siapkan, bagaimana responnya, dan bagaimana kondisi anak. Dari situ nanti kita akan terbantu untuk membuat dugaan dan kesimpulan.

Agar lebih mudah membuat dugaan dan kesimpulan, kita sebaiknya berpikir menggunakan kacamata si anak. Bayangkan diri kita menjadi si kecil. Perspektif orang dewasa bisa jadi jauh bertentangan dengan perspektif si anak. Tanpa berempati kepada mereka, kita tidak mungkin bisa memahami dunia anak-anak.


Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Mereka belum mengenal konsep jijik, kotor, bahaya, dan sejenisnya. Agar kita bisa memahami pikiran anak-anak, kita harus membayangkan diri menjadi mereka. 

BIARKAN MAKAN SENDIRI

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:





Di kalangan ibu-ibu yang anak balitanya menjadi anggota Gerakan Tutup Mulut (GTM), ada satu teknik pemberian makan yang cukup populer, yaitu Baby-led Weaning (BLW). Sesuai namanya, inti dari teknik ini adalah membiarkan si kecil makan sendiri sejak usia enam bulan, yaitu saat awal dia diperkenalkan pada makanan pendamping ASI (MPASI). Metode ini dipopulerkan oleh Gill Rapley, bidan yang juga konsultan ASI di UNICEF Inggris.

Teknik ini bertolak belakang dengan kebiasaan yang kita praktikkan selama ini. Kita biasanya memperkenalkan makanan pertama kepada bayi usia enam bulan berupa makanan lembut seperti bubur.

Dalam budaya kita, orangtua menyuapi bayi dengan bubur menggunakan sendok. Tapi dalam teknik BLW, bayi tidak diperkenalkan pada bubur melainkan langsung makanan padat yang lunak dan bisa dilumat dengan gusi bayi. Misalnya kentang rebus, pucuk brokoli kukus, pepaya, pisang, tahu rebus, alpukat, dan sejenisnya.

Lihat bagian meja yang menempel dada si kecil, di situ ada tadah yang menahan makanan agar tidak jatuh ke lantai atau mengenai si kecil.
(Sumber: Blog.honest.com/)

Makanan-makanan ini diiris kecil-kecil tapi tidak terlalu kecil, yang penting bisa diraih dan dipegang oleh jari-jari bayi. Lalu irisan makanan itu disajikan di atas meja makan bayi, kemudian si bayi dibiarkan belajar makan sendiri dengan instingnya.

Dasar pemikiran dari BLW mirip dengan teknik inisiasi menyusu dini (IMD). Pada IMD, bayi yang baru keluar dari rahim langsung diletakkan di dada ibunya, lalu ia dibiarkan menggunakan instingnya untuk mencari sendiri puting payudara ibunya. Nyatanya bayi bisa menemukan puting ibunya lalu menyusu padahal selama di rahim dia belum pernah menyusu lewat puting. Jika si bayi bisa menyusu sendiri, tentu dia juga bisa belajar makan sendiri. Kira-kira begitu logikanya.

Di metode BLW, saat anak awal diperkenalkan dengan makanan padat, ia mungkin tidak langsung bisa makan. Mungkin dia hanya meraih makanan itu, memasukkan ke mulutnya, lalu melepehnya, atau hanya memain-mainkannya. Tidak masalah. Ini bagian dari proses belajar bayi makan sendiri. Yang penting, orangtua harus telaten mengajari anaknya makan dengan cara itu.

Dengan makan sendiri, anak dibiarkan belajar mengenali rasa, tekstur, dan warna makanan seperti kegiatan bermain. Dengan begitu, ia akan tumbuh menjadi anak yang menyukai kegiatan makan karena ia bebas melakukan apa yang dia inginkan.

Masih Kontroversial
Oleh para penganut BLW, metode ini dipercaya bisa mencegah maupun mengatasi masalah GTM yang biasa terjadi pada bayi. Di Indonesia, penganut BLW ini terbilang cukup banyak.

Jika Anda ingin belajar tentang metode ini dari ibu-ibu yang sudah mempraktikkannya, silakan bergabung di grup Facebooknya (Facebook.com/groups/Blwindonesia/). Silakan baca juga buku Gill Rapley, Baby Led Weaning, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Hingga sekarang metode ini memang masih kontroversial. Banyak dokter tidak merekomendasikannya karena mengkhawatirkan risiko yang mungkin terjadi. Sebagian dokter membolehkannya tapi tidak untuk bayi berusia enam bulan, melainkan bayi di atas satu tahun. Kementerian Kesehatan sendiri lewat Buku Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) menganjurkan pemberian bubur halus dengan sendok untuk bayi usia enam bulan sampai satu tahun.

Untuk referensi ringkas mengenai BLW, silakan baca Guidelines for implementing a baby-led approach to the introduction of solid foods di situs Rapleyweaning.com/. Atau, silakan baca web Blwindonesia.com/ sebagai pemanasan sebelum membaca buku Gill Rapley.

Esensinya: Belajar Mandiri
Bagi kita yang terbiasa menyuapi bayi dengan bubur menggunakan sendok, cara  BLW ini mungkin terlihat menakutkan. Bagaimana kalau bayi tersedak? Apakah gizinya cukup? Belum lagi masalah kebersihan karena tentu lantai dan meja akan berlepotan sisa makanan.

Di kalangan dokter, metode ini mungkin masih kontroversial. Meski begitu, ada pesan penting yang layak kita ambil dari metode ini, yaitu melatih anak untuk mandiri.

Di luar urusan metode makan, latihan mandiri adalah tahapan penting yang harus dilalui semua bayi. Pada dasarnya semua bayi memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka senang mengenal dan mengeksplorasi jenis-jenis makanan untuk dimasukkan ke dalam mulutnya.

Prinsip latihan mandiri ini pula yang kami terapkan pada anak kami walaupun kami tidak menerapkan BLW. Selain masih menyuapinya, kami juga biasa menghidangkan makanan lalu membiarkan dia makan sendiri. Sebagian makanan itu pasti tumpah dan tempat makannya jadi berantakan. Sering kali makanan yang kami hidangkan itu tidak dia makan dan hanya ia main-mainkan.

Ia paling senang kalau makanan itu disajikan dengan dua wadah, ditambah air. Kadang makanannya cuma dipindah-pindah dari satu mangkuk ke mangkuk lain kemudian dikembalikan ke mangkuk semula, lalu dituangi air. Persis seperti anak yang bermain masak-masakan. Tapi sejak ia diperbolehkan makan sendiri, makanan yang ia santap lebih banyak daripada biasanya. 

Siasat agar mudah dibersihkan: anak telanjang dada, meja berbahan plastik, lantai keramik berlapis koran. (Sumber: Huffingtonpost.com/)

Berani Kotor Itu Baik
Kebanyakan orangtua enggan membiarkan anak makan sendiri karena tidak mau repot-repot membersihkan tempat makan yang kotor. Kalau anak disuapi bubur dengan sendok, orangtua cukup mencuci piring dan sendoknya. Semenit beres. Tapi kalau si kecil dibiarkan makan sendiri, orangtua harus mau berepot-repot membersihkan lantai dan bekas alas makannya.

Biasanya orangtua tidak sabar ketika melihat anak memain-mainkan makanannya. Karena tidak sabar, mereka biasanya segera mengambil makanan itu, menyendoknya, dan menyuapkannya ke mulut si kecil. Padahal seharusnya orangtua berpikir lebih dulu tentang kepentingan si anak, baru berpikir tentang dirinya. Urusan perkembangan si anak semestinya lebih didahulukan daripada urusan membersihkan lantai.

Ini memang salah satu masalah orang dewasa. Masalah kita. Padahal kita mestinya berpikir dengan perspektif anak. Lantai kotor adalah perspektif orang dewasa. Anak tidak berpikir begitu.

Mereka senang bermain-main, memindah makanan dari satu wadah ke wadah lain, mengaduk-aduknya. Ini bagian dari proses belajar makan sendiri. Yang penting, orangtua harus selalu mengawasinya.

Sekali lagi, sabar adalah bekal pertama.

Dengan membiarkan anak makan sendiri, sebetulnya kita juga memberi kesempatan dia untuk melatih kemampuan motoriknya. Saat makan sendiri, ia sebetulnya melatih kemampuan koordinasi antara gerakan tangan, penglihatan, dan mulut. Jadi, dengan belajar makan sendiri, si anak mendapat tiga hal sekaligus: doyan makan bonus pintar dan mandiri.


Sebagai bahan referensi, silakan googling dan baca hasil penelitian “Messy children make better learners” di situs University of Iowa (now.uiowa.edu). 

MAKAN BERVARIASI

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:





Salah satu penyebab anak kurang bernafsu makan adalah makanan yang monoton. Kita saja, orang dewasa, bisa bosan kalau setiap hari cuma disuguhi ayam goreng dan telur dadar. Selain membosankan, makanan yang monoton juga cenderung kurang lengkap gizinya.

Itu sebabnya salah satu cara untuk mengatasi aksi GTM adalah menyediakan makanan dengan berbagai variasi. Tidak hanya variasi dalam penyajian. Yang tidak kalah penting dari itu adalah variasi jenis makanannya sendiri. Makin variatif dalam hal gizinya, makin baik.

Dalam hal karbohidrat, jangan cuma terpaku pada nasi putih. Alternatif karbohidrat lain masih banyak. Si kecil bisa diperkenalkan juga pada beras merah, nasi jagung, jagung muda, kentang, singkong, pisang, ubi jalar, ubi kelapa, ketan putih, ketan hitam, olahan tepung terigu (roti dkk), juga kacang-kacangan.

Kacang Makanan Istimewa
Kacang-kacangan (polong-polongan) adalah makanan bergizi tinggi. Selain kaya protein dan lemak, makanan ini juga banyak mengandung karbohidrat sehingga bisa dijadikan sebagai alternatif dari nasi. Kacang-kacangan pun tidak hanya kacang hijau yang biasa kita makan. Kita masih punya kedelai dan kacang tunggak.

Satu jenis makanan bisa disajikan dalam berbagi bentuk. Misalnya, kacang hijau bisa dibubur, dikolak, dikukus lalu diberi urap kelapa, atau dalam bentuk kacang hijau-tanpa-kulit yang dikukus, seperti yang biasa kami berikan pada anak kami.

Yang disebut terakhir ini merupakan salah satu makanan favoritnya saat giginya belum begitu kuat. Kacang hijau tanpa kulit ini, yang biasa digunakan sebagai isi onde-onde atau bakpia, bisa kami dapatkan di pasar-pasar tradisional, bahasa Jawanya lempok.

Mungkin tidak semua jenis sumber karbohidrat di atas akan dimakan si kecil. Tapi setidaknya kita sudah berusaha memperkenalkannya pada anak, dan dia diberi kebebasan untuk memilih. Lagi pula, dengan memperkenalkannya pada berbagai jenis makanan, kemungkinan besar dia akan menerima beberapa di antaranya.

Aneka Makanan, Aneka Penyajian
Dari daftar protein, jangan hanya terpaku pada susu, telur dan daging ayam. Kacang-kacangan juga masuk dalam kategori ini. Daging sapi, berbagai jenis ikan, udang, dan aneka seafood lain juga merupakan sumber protein yang perlu masuk dalam daftar menu si kecil.

Satu jenis sumber protein bisa dihidangkan dalam berbagai bentuk penyajian. Misalnya, daging ayam bisa digoreng, disoto, disup, dibuat nugget, sosis, ditumis, disate, dan masih banyak lagi. Ikan tak hanya bisa digoreng tapi juga bisa dibuat sosis, bakso, tumis, dipanggang, atau lainnya.

Merepotkan? Demi buah hati yang sehat, orangtua memang harus telaten menyediakan makanan buatnya. Itu sebabnya, sekali lagi, modal utama mengatasi masalah anak mogok makan adalah kesabaran. Agar tidak kehabisan ide, kita bisa bergabung dengan komunitas MPASI Rumahan di milis Yahoo atau di grup Facebook.

Memperkenalkan buah lebih gampang. Kebanyakan anak tidak bermasalah dalam hal ini. Kebetulan anak saya juga mau makan hampir semua jenis buah-buahan. Salah satu buah favoritnya sejak dia berumur setahun adalah kersen, buah yang oleh orang dewasa dianggap sebagai makanan burung.

Sekali lagi, ini adalah contoh bagaimana anak memiliki selera dan perspektif yang berbeda dengan orang dewasa. Buah kersen bisa kelihatan sangat berbeda di mata anak dan di mata orang dewasa.

Adapun untuk sayur, kita bisa menyajikannya bersama sumber protein supaya rasanya lebih gurih. Contoh, wortel, tomat, brokoli, dan kembang kol di dalam sup ayam atau tumis udang. Adanya kaldu ayam atau udang akan membuat rasa sayuran menjadi lebih gurih sehingga lebih mudah diterima anak.

Anak-anak suka berinteraksi dan diperkenalkan dengan warna-warni makanan. Sebagai contoh, nasi bisa disajikan dalam bentuk nasi kuning atau nasi merah. Tugas orangtua adalah memperkenalkan anak pada makanan sevariatif mungkin. Lalu biarkan dia memilih makanan kesukaannya.

Mungkin saja anak tidak suka telur tapi suka ikan. Mungkin dia tidak suka bayam tapi suka brokoli. Mungkin dia tidak suka wortel tapi suka kembang kol. Mungkin dia tidak suka nasi tapi suka kentang. Kita hanya akan tahu keunikannya jika kita memberinya pilihan.


Yang Bervariasi Lebih Bergizi
Variasi makanan merupakan unsur yang sangat penting karena anak pada dasarnya senang melihat benda-benda yang baru. Sebagian anak bahkan sangat gampang merasa bosan. Anak saya termasuk di dalamnya.

Buat dia, menu makan pagi, makan siang, dan makan malam harus berbeda. Jika di hari Senin dia begitu doyan makan pisang, biasanya esoknya dia tidak mau menyentuhnya lagi. Jika di hari Selasa dia lahap makan kentang, besoknya dia minta menu yang lain lagi. Begitu seterusnya.

Tapi dalam waktu beberapa minggu kemudian, biasanya dia kembali doyan lagi sehingga kami bisa menggilir jenis-jenis makanan tiap beberapa minggu. Jenis-jenis makanan yang ia maui itu kami jadikan sebagai pedoman umum untuk menyiapkan makanan buat dia setiap harinya:

-          Nasi putih
-          Singkong kukus
-          Jagung muda rebus
-          Kolak kacang hijau
-          Nasi kuning
-          Kentang rebus
-          Kacang hijau kukus
-          Bubur ketan hitam
-          Pisang
-          Lepet (makanan tradisional dari ketan, kacang tunggak, dan urap kelapa yang dibungkus janur)
-          Ubi jalar kukus
-          Bubur tepung beras
-          Roti tawar plus susu, atau selai buah, atau selai kacang
-          Ubi kelapa kukus 
-          Kacang hijau tanpa kulit (lempok) yang dikukus
-          Talas
-          Bubur beras
-          Mi
-          Getuk atau srawut singkong
-          Dan seterusnya

Sumber protein juga kami gilir:
-          Ikan tongkol goreng
-          Tempe goreng
-          Telur rebus
-          Ayam goreng
-          Ikan panggang
-          Nuggetayam
-          Tahu rebus/kuah santan
-          Telur ceplok
-          Sup ayam
-          Cumi-cumi tumis
-          Nuggetdaging sapi
-          Sosis ayam
-          Bakso ikan
-          Telur dadar
-          Tempe lodeh
-          Udang tumis
-          Bakso ayam
-          Ayam tumis
-          Dan seterusnya

Kebetulan desa kami adalah desa nelayan sehingga berbagai jenis ikan laut segar selalu tersedia. Walaupun si kecil mudah bosan dengan satu jenis ikan, kami tidak pernah kehabisan stok jenis ikan lain.

Memang aktivitas menyediakan makan bagi si kecil agak merepotkan karena istri saya harus bisa memasak berbagai jenis masakan. Dia harus belajar membuat nugget, sosis, bakso, selai (sayur, kacang, buah), dan lain-lain. Tapi semua kerepotan itu terbayar melihat si buah hati tumbuh sehat dan cerdas.


Saya sendiri pun harus sering berburu umbi-umbian dan biji-bijian ke pasar untuk variasi makanannya. Tapi justru karena kegiatan ini, saya jadi tahu macam-macam umbi dan biji yang kini terlupakan seperti sorgum dan kimpul. 

MAKAN SEPERTI AYAH DAN IBU

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:


Makan Seperti Ayah dan Ibu
Cara yang kami terapkan di atas sebetulnya tidak bagus menurut pedoman umum pemberian makan anak. Sebagian besar referensi kesehatan anak menyatakan, anak sebaiknya dibiasakan makan menu yang dimakan kedua orangtuanya. Jadi, dia tidak perlu dibuatkan masakan khusus. Apa yang dimakan orangtuanya, itulah yang dihidangkan kepadanya. 

Karena anak kami sulit makan, akhirnya kami  mengalah dan mengikuti dia dalam hal menu makan. Kalau dia waktunya makan soto, kami pun ikut makan soto. Kalau dia waktunya makan ikan tongkol goreng, kami pun ikut makan tongkol goreng.

Yang Penting, Gizi Cukup
Sumber karbohidrat tidak harus dimakan bersama sumber protein dan lemak. Sekali lagi, orangtua sebaiknya menggunakan perspektif anak. Apalagi menurut Pedoman Gizi Seimbang (pengganti pedoman Empat Sehat Lima Sempurna) sumber karbohidrat jelas bukan hanya nasi.

Banyak orangtua keliru memahami aspek gizi. Mereka menyangka, anak harus makan nasi plus lauk tiga kali dalam sehari, seperti kebiasaan orang dewasa. Pokoknya harus begitu, tidak ada alternatif lain. Kalau memang kita bisa mengajarkan itu kepada si kecil, tentu itu lebih baik. Tapi anak-anak bisa jadi punya kesukaan unik tersendiri. Anak saya, misalnya, senang makan lauk saja tanpa nasi. Bahasa Jawanya, nggado.


Pedoman Gizi Seimbang ini untuk orang dewasa. Tetapi dalam hal variasi makanan, esensinya sama saja dengan pedoman gizi anak balita.

Kalau kami kebetulan mengajak dia berkunjung ke rumah neneknya, sang nenek selalu ketar-ketir melihat dia makan nasi cuma satu sendok. Itu dianggap belum makan.

Kadang kala bahkan dia tidak mau makan nasi sama sekali. Lalu biasanya kami dinasihati ini itu oleh emak saya agar si kecil mau makan nasi. Emak memberi contoh dirinya yang dulu menyuapi anak-anaknya, termasuk saya, dengan nasi plus garam sehingga rasa nasinya asin bukan main. Bahkan hingga dewasa pun saya masih bisa mengingat rasanya yang asin bukan alang kepalang.

Awalnya, kami selalu berusaha agar si kecil meninggalkan kebiasaan nggado. Kami tak henti membujuknya agar dia mau makan lauk dengan nasi. Tapi karena dia sering menolak, kami akhirnya mengalah dan mengikuti kemauannya.

Dia biasa menghabiskan ikan tongkol goreng satu potong kecil atau telur ayam kampung satu butir tanpa nasi. Dan selama beberapa hari kadang dia sama sekali tidak mau makan nasi.

Apakah gizinya cukup? Kalau kita menghitungnya cuma dengan melihat ikan atau telurnya, tentu saja gizinya belum cukup. Agar kebutuhan karbohidratnya terpenuhi, kami juga menyediakan sumber karbohidrat lain yang bisa dia santap tanpa lauk.

Dari contoh kasus anak saya ini, kita bisa melihat bahwa sebetulnya orangtua sering mengkhawatirkan sesuatu yang sebetulnya tidak perlu dicemaskan. Makan telur tanpa nasi bukanlah kebiasaan yang perlu dikhawatirkan asalkan setelah itu si anak juga makan sumber karbohidrat tanpa lauk.

Yang penting, jumlah total gizinya mencukupi. Tidak masalah apakah makanan itu disantap sendiri-sendiri atau bersamaan. Bahkan sebetulnya orang dewasa pun bisa saja menerapkan pola makan seperti ini. Lihat saja para penganut metode food combining.

Mereka di pagi hari cuma sarapan buah tanpa nasi. Siang hari mereka makan nasi plus sayur tanpa lauk. Malam hari mereka makan lauk plus sayur tanpa nasi. Toh kebutuhan gizi mereka tetap terpenuhi.

Masing-masing anak punya keunikan tersendiri. Tugas orangtuanyalah untuk mengenalinya. Tak perlu khawatir jika anak kita memiliki keunikan yang tidak lumrah asalkan masih dalam batas aman. Anak saya, misalnya, sejak usia dua tahunan suka makan sate kambing.

Awalnya dia hanya mencicipi sate kambing yang akan dimakan kakeknya. Ternyata dia menyukainya. Sejak itu, menu sate kambing sesekali masuk ke dalam daftar makanannya. Jika dia sedang ingin makan sate kambing tapi kami tidak membelikannya, dia bisa menangis tak henti-henti sampai kami mengajaknya ke warung.

Kalau makan sate, dia minta kecap manis untuk dia lumurkan sendiri di sate, kemudian dagingnya ia gigit dan ia kunyah-kunyah lalu sarinya ia telan. Serat dagingnya ia lepeh. Dalam sekali makan, dia biasanya menyesap tiga sampai empat iris daging. Cukup banyak untuk ukuran anak usia dua sampai tiga tahun.

Bagi sebagian besar orang, sate kambing dianggap makanan yang tidak cocok buat balita, apalagi batita, karena dianggap “panas”. Tapi saya belum menemukan referensi yang valid mengenai larangan balita makan daging kambing. Berdasarkan pengamatan kami, si kecil juga sama sekali tidak bermasalah dengan daging kambing. Maka kami sama sekali tidak khawatir memberikannya. Kami menganggap ini sebagai keunikannya. Sekali lagi, setiap anak itu unik.




AJAK BERMAIN

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:





Anak-anak suka bermain. Semua orangtua sudah mengetahui fakta ini. Tapi mungkin tidak semua orangtua secara sadar menjadikannya sebagai pedoman ketika memberi makan anaknya.

Kegiatan makan memang harusnya menyenangkan. Di bab tentang Baby-led Weaning kita sudah membahas bahwa anak lebih suka kegiatan makan yang bisa dilakukan sendiri sambil bermain. Bagaimana jika kita sudah berusaha membiarkan dia makan sendiri tapi ternyata dia hanya mengorak-arik makanan itu dan tidak mau memakannya? 

Pertama, kita harus tetap sabar J. Kalau memang dia tidak mau makan sendiri, oke, kita bisa pakai cara lama: suap. Sambil menyuapinya, kita ajak si kecil bermain-main. Ide permainan tentu saja terserah kita, yang penting si anak menikmatinya.

Ajak Bicara
Hasil penelitian di Cornell University mungkin bisa memberi kita ide. Menurut penelitian itu, anak-anak akan makan wortel lebih banyak jika wortel itu diberi nama-nama yang menarik bagi mereka. Anak-anak suka berimajinasi. Kita bisa menghubungkan makanan itu dengan hewan-hewan atau tokoh-tokoh kartun kesukaan mereka: Upin & Ipin, Masha & The Bear, Thomas & Friends, Dora The Explorer, SpongeBob, atau yang lain.

Di film kartun favorit si kecil, Masha & The Bear, ada tokoh kelinci yang suka makan wortel. (Sumber: Wallfem.com/)

Akan lebih menarik lagi jika makanan itu dihidangkan dalam bentuk-bentuk yang menarik sehingga bisa dijadikan bahan cerita, misalnya telur atau buah dan sayur iris yang dibentuk seperti orang atau hewan. Untuk mencari ide-ide seperti ini, kita bisa bertanya kepada Mbah Google.

Sumber: Ittybittyfoodies.com/

Kita juga bisa menggunakan cara lawas yang dipakai banyak orang, yaitu membujuk anak agar mau membuka mulut dengan mengajaknya membayangkan sendok makanan itu sebagai pesawat terbang yang akan mendarat.

Ini cara kuno yang masih efektif pada sebagian anak. Kami sendiri tidak menggunakan teknik ini. Kalau mau mencoba cara ini, silakan. Tapi perlu diketahui, sebagian besar referensi tidak menganjurkan cara ini karena ini akan mengalihkan anak dari fokus kegiatannya, yaitu latihan menyukai kegiatan makan. Tujuan dari kegiatan makan adalah agar anak suka makanannya, bukan suka mainannya.

Sumber: Blibli.com/

Setiap anak itu unik dan memerlukan pendekatan yang unik pula. Kebetulan anak saya senang sekali diajak belajar. Sejak bisa bicara, dia selalu bertanya “Apa itu?” tiap kali melihat benda-benda baru. Dalam satu hari, dia bisa puluhan kali mengucapkan pertanyaan ini sampai kadang membuat kami kewalahan menjawabnya.

Keingintahuannya yang besar ini kami manfaatkan dengan cara memperkenalkan nama-nama dan warna-warni makanan pada saat ia makan. Jangan remehkan otak anak-anak. Walaupun mereka mungkin belum bisa mengerti nama, warna, dan alur cerita, mereka sangat senang diajak bicara.

Anak saya pun sangat menikmati proses ini walaupun kadang ia cuma senang diajak mengobrol tapi tetap tidak mau makan. Setidaknya, cara ini bisa meningkatkan kemungkinan dia mau makan dibandingkan jika dia cuma disuruh makan saja tanpa diajak mengobrol tentang makanan itu.

Makan Duduk Paling Baik
Sebagian besar referensi perawatan anak menganjurkan cara makan sambil duduk di kursi menghadap ke meja. Anak-anak harus dibiasakan makan mengikuti cara makan orang dewasa.

Setiap kali jam makan tiba, ajak si kecil makan dengan posisi duduk. Matikan televisi supaya tidak mengganggu kegiatan makan. Orangtua makan bersama si kecil agar dia mengamati dan meniru apa yang dilakukan orang dewasa.

Sumber: Indianrecipesfood.com/

Ini cara ideal. Sebaiknya orangtua berusaha demikian. Namun, cara seperti ini tidak selalu berhasil buat sebagian anak, apalagi pada mereka yang memiliki bawaan tidak suka makan. Dalam kehidupan nyata, “cara ideal” memang sering kali mirip dengan “istri ideal” atau “suami ideal”. Cuma ada di buku, tak ada di kehidupan nyata J.

Untuk anak-anak unik yang susah diajak makan dengan cara ideal, orangtua memang harus berusaha lebih keras agar mereka mau makan walaupun dengan cara yang tidak ideal.


Salah satu cara gampang makan sambil bermain adalah mengajak si kecil makan bersama anak kecil lain, misalnya saudaranya atau kawannya. Ketika si kecil melihat kakaknya atau temannya makan dengan lahap, ia akan lebih terdorong untuk meniru mereka.