Saturday, December 24, 2011

OBAT TIFUS (2)


Pengobatannya Jelas
Sekalipun kuman tifus bisa mengecoh saat diagnosis, penyakit ini, untungnya, bisa disembuhkan dengan metode terapi yang jelas. Ada tiga unsur penting dalam terapi tifus yaitu pemberian antibiotik, istirahat total, dan makan makanan yang mudah dicerna di usus. “Trilogi” pengobatan ini harus diikuti oleh pasien. Asal ketiganya dilaksanakan dengan baik, tifus tidak begitu sulit disembuhkan. Namun, jika salah satu saja ditinggalkan, penyembuhan tifus bisa menjadi lebih sulit.
Ada beberapa jenis antibiotik yang biasa digunakan untuk menumpas kuman tifus. Misalnya, kloramfenikol, tiamfenikol, siprofloksasin, atau antibiotik jenis lainnya. Ini seratus persen urusan dokter. Pasien sebaiknya tidak melakukan pengobatan sendiri karena pemilihan antibiotik yang salah justru bisa membuat kuman menjadi semakin ganas dan penyakit makin sulit dibasmi. Baca juga Bab Antibiotik.
Jika pemilihan antibiotiknya tepat, dalam waktu kira-kira satu minggu, agresi kuman biasanya sudah bisa ditumpas. Namun, sekali lagi, supaya terapi ini efektif, pasien harus mengimbanginya dengan diet yang tepat dan istirahat. Obat, diet tepat, dan istirahat merupakan trilogi yang saling menunjang yang tidak boleh dipisahkan.

Boleh Makan Nasi
Dulu pasien tifus hanya diberi bubur saring, lalu ditingkatkan perlahan-lahan menjadi nasi padat seiring kondisinya. Alasannya, makanan yang kasar dikhawatirkan dapat mengikis dinding usus yang sedang bermasalah. Tapi pada pedoman diet tifus sekarang, pasien boleh saja makan makanan padat seperti nasi asalkan tidak terlalu keras dan tidak mengandung banyak serat kasar.
Dalam kondisi sehat, kita memang diajurkan banyak makan serat dari buah dan sayur. Tapi dalam kondisi sakit tifus, konsumsi serat harus dilakukan dengan penuh pertimbangan. Pasalnya, serat tidak bisa dicerna dan akan membuat feses (tinja) lebih keras bervolume sehingga dikhawatirkan menimbulkan masalah pada saat kontak dengan dinding usus yang masih lemah.
Karena alasan itulah sebaiknya pasien membatasi sayuran berserat tinggi seperti sawi, daun singkong, dan kangkung. Jadi, jika biasanya kita dianjukan banyak makan serat, khusus untuk kondisi tifus, aturan ini boleh dimasukkan laci. Nasi padat yes, serat kasar no.
Aturan baru ini menjadi sangat penting karena nyaris semua penderita tifus mengalami penurunan nafsu makan. Kalau setiap hari disuruh makan bubur halus, pasien biasanya mengeluh tidak doyan dan merasa tidak bertenaga. Padahal untuk mempercepat penyembuhan, pasien amat memerlukan asupan gizi yang cukup.


“Sakit Gejala Tifus”

Di masyarakat kita, ada satu istilah yang cukup unik, yaitu “sakit gejala tifus”. Biasanya yang dimaksud dengan istilah ini adalah penyakit yang seperti tifus tapi tidak parah. Karena ini istilah awam, tak ada pengertian baku tentang penyakit ini. Mungkin yang dimaksud adalah penyakit paratifus—tifus yang ringan. Mungkin juga kondisi di mana dokter baru mencurigai tifus tapi masih belum yakin betul. Apa pun yang dimaksudkan, sakit tifus, sakit gejala tifus, atau sakit paratifus, semua itu adalah wilayah dokter. Pasien disarankan untuk mengikuti petunjuk trilogi: minum obat, diet yang tepat, dan total beristirahat.

Umumnya pasien mengeluh, bubur saring tidak menggugah selera makan. Maunya nasi padat, tapi takut makan karena sudah terbawa pandangan yang selama ini diyakini. Karena itulah, pasien boleh makan nasi padat dengan lauk yang lebih menggugah selera asalkan tidak mengiritasi saluran cerna dan tidak tinggi serat.
Selain diet yang tepat, pasien juga harus menjalani istirahat total (bed rest atau “tirah baring”). Dengan tirah baring, diharapkan usus tidak banyak bergerak, sehingga mempercepat proses penyembuhan.

Pencegahan
Penyakit ini bisa dicegah dengan vaksinasi yang harus diulang setiap beberapa tahun. Vaksinasi penyakit ini tidak masuk ke dalam program vaksinasi massal pemerintah. Kita bisa memintanya kepada dokter.
Buat kita yang tak pernah mendapat vaksinasi tifus, cara terbaik mencegah penyakit ini adalah dengan membiasakan diri hidup bersih. Kalau memang harus makan di luar rumah, usahakan untuk memilih warung yang bersih. Apa pun makanannnya, apa pun minumannya, pastikan bersih warungnya.   
Selama ini sebagian dari kita mungkin beranggapan bahwa tifus adalah penyakit masyarakat kelas menegah ke bawah akibat sanitasi yang jelek dan pola hidup yang kurang higienis. Mungkin ini benar—sebagian. Tapi itu tidak berarti tifus memilih-milih kasta. Akibat keteledoran kecil saja, misalnya makan lalap yang kurang bersih dicuci, kuman tifus bisa berkunjung ke rumah-rumah yang jauh dari kesan jorok. Buktinya, rumah-rumah sakit kelas atas pun selalu kedatangan pasien tifus.
Selain hidup bersih, cara pencegahan yang tak boleh dilupakan adalah dengan menjaga daya tahan tubuh. Ini faktor penting yang tak boleh dilupakan. Kuman tifus adalah bagian dari kehidupan kita yang tinggal di Indonesia. Sebagian besar dari kita mungkin pernah terpapar kuman ini. Tapi kenapa kita tidak sakit? Sebab daya tahan tubuh kita cukup kuat untuk melawannya.
Kuman tifus sangat mungkin ada di dalam makanan kita saat makan di warung. Asalkan daya tahan tubuh kita cukup kuat, kita bisa tetap sehat. Sebaliknya, begitu daya tahan tubuh kita lemah, misalnya akibat kecapekan bekerja lembur setiap hari, kuman-kuman itu tadi bisa menjadi ganas dan menyebabkan kita sakit tifus.


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


No comments:

Post a Comment