Saturday, December 24, 2011

OBAT TIFUS (3)


Pengobatan Harus Tuntas
Dalam ilmu kedokteran modern, metode pengobatan tifus sebetulnya sudah sangat jelas, yaitu trilogi “DIOBATI”: DIet, OBAT, Istirahat. Ketiga hal ini adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Minum obat saja tidak cukup. Harus disertai istirahat dan pola makan yang tepat. Asalkan antibiotiknya tepat, dengan trilogi DIOBATI ini, tifus akan sembuh.
Bagaimana kalau tidak sembuh?
Kemungkinannya banyak. Kita tidak bisa membuat kesimpulan tentang penyebab ketidaksembuhan itu. Pertama-tama harus ditanyakan: apakah memang sakit yang diderita pasien itu memang benar-benar tifus? Bisa saja seseorang dikira sakit tifus padalah sebetulnya bukan tifus. Kalau ia diobati dengan metode pengobatan tifus dan tidak sembuh, tentu yang salah bukan obatnya tapi diagnosisnya.
Kalaupun pasien memang benar-benar sakit tifus, dan dokter sudah meresepkan antibiotik, tapi ternyata tidak sembuh juga, ada kemungkinan antibiotiknya sudah tidak mempan terhadap kuman tifus itu. Dalam kondisi ini, antibiotik itu harus diganti dengan jenis antibiotik lain yang lebih kuat yang masih ampuh membasmi kuman ganas tersebut. Ini sepenuhnya wilayah dokter.  
Kemungkinan lain: ada kalanya obat sudah tepat tapi pasien tidak patuh. Bentuk ketidakpatuhan itu bisa bermacam-macam. Misalnya, antibiotik tidak diminum sampai habis. Resep antibiotik untuk tifus bisa selama seminggu, sepuluh hari, dua minggu, atau bahkan lebih lama dari itu tergantung jenis antibiotik yang dipakai dan kondisi pasien. Antibiotik ini harus diminum sampai habis walaupun pasien sudah merasa sembuh.
Pengobatan tifus harus dilakukan sampai tuntas tas. Setelah minum antibiotik yang tepat selama beberapa hari, pasien tifus akan mengalami proses penyembuhan. Panas badan mungkin mulai hilang. Tapi ini tidak berarti pasien sudah sembuh dan boleh menghentikan obatnya. Yang boleh dihentikan konsumsinya adalah obat penurun demam—jika memang ada. Baca juga Bab Obat Demam. Adapun antibiotiknya harus diteruskan sampai habis sesuai resep dokter.
Sekalipun demam mungkin sudah hilang, kuman tifus sebetulnya masih bertahan dan bersembunyi di dalam tubuh pasien. Kuman-kuman ini harus dibasmi sampai tuntas. Jika kuman “gerilyawan” ini tidak dibasmi, sakit tifus akan mudah kambuh lagi. Dan ketika kambuh, sakitnya menjadi lebih parah. Kuman menjadi lebih ganas. Pemilihan antibiotik pun menjadi lebih sulit. Dan lebih dari itu, pasien juga bisa menjadi sumber penularan tifus bagi orang lain.
Jadi, sekalipun panas sudah hilang, pasien tetap harus menghabiskan antibiotik dan, jangan lupa, tetap beristirahat. Sebab, ada kalanya pasien merasa sudah sehat lalu kembali berangkat bekerja padahal sebetulnya ia masih dalam tahap penyembuhan. Padahal memaksa fisik bekerja di masa istirahat itu sama artinya dengan memperlemah kembali daya tahan tubuh. Dalam kondisi seperti itu, jika kondisi tubuh kembali memburuk, yang salah tentu bukan obatnya tetapi pasien sendiri.

Ekstrak Cacing untuk Tifus
Sebagian pasien yang tidak kunjung sembuh walaupun sudah minum obat dokter biasanya kemudian berpaling ke obat-obat tradisional. Salah satu yang terkenal adalah obat berisi serbuk atau ekstrak cacing.
Dokter biasanya tidak mengizinkan pasien minum obat tradisional semacam ini. Harap maklum, mekanisme kerja obat tradisional memang belum banyak diketahui. Akan tetapi, bagaimanapun, minum obat tradisional obat adalah hak setiap orang.
Selama ini ekstrak cacing diduga membantu penyembuhan tifus karena kandungan asam aminonya. Sekali lagi, ini masih dugaan, tebakan. Bukan sebuah penjelasan sebab masih belum bisa menjawab banyak pertanyaan. Kalau sekadar kandungan asam amino, ekstrak protein hewani seperti daging-dagingan dan seafood pun kaya asam amino dan harusnya bisa menggantikan ekstrak cacing.
Tapi ini tidak berarti bahwa logika asam amino ekstrak cacing itu hanya strategi jualan tukang obat. Mungkin saja memang ekstrak cacing mengandung senyawa, entah apa namanya dan entah bagaimana struktur kimianya, yang mungkin memang bisa membantu penyembuhan tifus. Kemungkinan itu ada, tapi kita tak pernah tahu. Wallahua’lam. Sementara dalam ilmu medis, dokter hanya akan meresepkan obat yang memang benar-benar diketahui cara kerjanya.
Jadi, kalau pasien minum serbuk cacing, itu memang haknya. Tapi ini sudah berada di luar wilayah dokter. Risiko ditanggung penumpang. Baca juga Bab Obat Tradisional.


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.



1 comment:

  1. Great blog. Thanks for share this post. It may helpful for all newbie bloggers, i really appreciate. KENACORT INJECTION 40mg

    ReplyDelete