Saturday, December 24, 2011

OBAT TIFUS (1)


Di negara kita, tifus masih merupakan salah satu penyakit yang banyak dijumpai. Sebagian dari kita bahkan mungkin pernah mengalaminya. Hingga sekarang, penyakit lawas ini masih sulit diberantas. Penyebabnya tak lain adalah kurangnya kebersihan diri atau kebersihan lingkungan.


Jika Anda membaca situs-situs referensi medis, penyakit ini mungkin tidak disebut dengan istilah tifus melainkan tifoid atau demam tifoid. Yang benar memang mestinya demam tifoid karena tifus adalah sebuah penyakit tersendiri yang jarang kita jumpai.

Tifus dalam pengertian para dokter adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Rickettsia typhi. Sedangkan tifus yang kita maksud sehari-hari adalah penyakit akibat infeksi Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi. Meski nama belakangnya sama, Salmonella dan Rickettsia adalah dua jenis kuman yang berbeda. Tapi untuk alasan kemudahan, di buku ini kita akan menggunakan istilah tifus untuk demam tifoid.


Kuman tifus ini masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang tercemar. Lalu di dalam tubuh, kuman ini berkembang biak dan membangun koloni di usus halus. Usus halus adalah bagian usus yang panjang yang berfungsi sebagai tempat penyerapan zat makanan. Dari usus halus, kuman-kuman ini kemudian menerobos masuk ke dalam pembuluh darah.

Gejala Awal Tidak Khas
Saat terjadi agresi ini, tubuh berusaha melawannya dengan memproduksi antibodi. Antibodi adalah zat kekebalan untuk melawan kuman. Sekalipun agresi kuman sudah terjadi, penderita mungkin masih sehat-sehat saja. Gejala sakitnya baru muncul setelah 10–14 hari sejak masa invasi. Jadi, kita mungkin baru akan merasakan gejala sakit tifus dua minggu setelah kita makan makanan yang tercemar.
Pada minggu pertama, gejala tifus yang muncul sering mengecoh. Keluhannya mirip dengan infeksi lainnya antara lain demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, tidak nafsu makan, mual, muntah, rasa tidak enak di perut, batuk, mimisan, sembelit (susah buang air besar), atau kadang malah diare.
Oleh karena gejala yang tidak khas ini, bukan hanya pasien yang sering tertipu. Dokter pun kadang keliru diagnosis dan tidak menyadari bahwa yang sedang dihadapi adalah kuman tifus. Tak jarang gejala ini disangka demam berdarah, pneumonia (radang paru) atau radang tenggorok.

Tes Widal
Biasanya dokter akan meminta pasien melakukan tes yang disebut tes Widal. Tes ini bisa membantu dokter menegakkan diagnosis. Meski begitu, hasil tes ini saja tidak bisa langsung dipakai dasar untuk mengambil kesimpulan. Meskipun tes Widal positif, belum tentu pasien positif tifus.
Sebab, tes Widal bukan untuk memeriksa ada tidaknya kuman tifus melainkan hanya memeriksa ada tidaknya antibodi terhadap kuman tersebut. Di sinilah masalahnya. Setiap orang yang pernah kontak dengan kuman ini pasti memiliki antibodi tifus. Tak peduli, apakah ia menderita tifus atau tidak.
Di Indonesia, kuman-kuman ini adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Nyaris semua orang pernah kontak dengan kuman ini walaupun tidak otomatis menyebabkan sakit tifus. Mungkin tubuh kita pernah kemasukan kuman ini saat makan gado-gado atau cendol di warung yang kurang bersih.
Meski demikian, itu tidak berarti bahwa tes widal sama sekali tak berguna. Hasil tes ini tetap dapat membantu dokter menegakkan diagnosis. Dokter bisa mengambil interpretasi dari tinggi rendahnya antibodi. Semakin tinggi kadar antibodinya, semakin besar kemungkinan seseorang menderita demam tifoid.

Gejala yang Khas
Dalam membuat diagnosis, dasar utama yang dipakai dokter adalah gejala yang khas. Umumnya gejala ini muncul pada minggu kedua, meski kadang muncul juga pada minggu pertama. Gejala yang khas antara lain, demam terjadi terutama pada sore atau malam hari (temperatur bisa mencapai 39–40 C), lidah kelihatan kotor seperti berselaput, kesadaran terganggu, hati dan limpa membesar, serta adanya rasa nyeri saat perutnya ditekan.
Gejala-gejala khas inilah yang bisa membedakan demam akibat tifus dengan infeksi lainnya. Sebagai contoh, pada demam berdarah dengue, lama demam tidak hanya di malam hari dan tidak lebih dari satu minggu.
Karena tingkat kesulitan diagnosis inilah pasien disarankan agar segera memeriksakan diri ke dokter jika demam tidak juga sembuh dalam tiga hari. Jangan menunggu sampai parah. Di luar itu, kejelian dokter dalam membaca gejala dini tifus merupakan kunci yang sangat penting agar pasien tidak berlama-lama dalam kondisi sakit tanpa diketahui penyebabnya.
Jika dibiarkan terus-menerus, bukan tak mungkin penyakit ini akan menimbulkan komplikasi yang lebih serius. Tanpa perawatan yang benar, agresi kuman bisa menyebabkan usus mengalami perdarahan. Jika berlangsung terus, kondisi ini bisa menyebabkan terjadinya kebocoran usus.


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


No comments:

Post a Comment