Saturday, November 17, 2012

OBAT ASMA (1)


Gangguan kesehatan yang oleh orang Indonesia disebut mengi, bengek, manggah, mengguk, ampek, alias sesak napas ini termasuk salah penyakit yang membuat penderita biasanya harus menggunakan obat jangka panjang. Padahal, hampir semua obat asma memiliki efek buruk.  
Selain itu, batas antara sifat racun dan sifat obatnya sangat tipis. Kelebihan satu tablet atau satu dosis saja bisa membuat obat ini berubah menjadi racun. Itu sebabnya, sebaiknya penderita asma sangat dianjurkan mengetahui seluk-beluk obat yang digunakan sehari-hari.
Beberapa jenis obat asma, seperti fenoterol, salmeterol, dan tiotropium, pernah diduga meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah meski pendapat ini masih diperdebatkan valid tidaknya. Sebagai orang awam, sebaiknya kita mengambil sikap waspada saja: hanya gunakan obat asma atas petunjuk dokter. Saat menggunakan obat dan mengalami efek samping, sekecil apa pun, komunikasikan ke dokter agar ia bisa memilihkan obat yang paling tepat.   

Penyebab Sakit Asma
Hingga sekarang, para ilmuwan belum bisa mengetahui dengan pasti penyebab yang membuat seseorang menderita asma sementara yang lain tidak. Yang diketahui hanya proses terjadinya serangan asma. Diduga, penyebabnya adalah kombinasi antara faktor lingkungan dan faktor genetik (keturunan).
Sama seperti hipertensi dan diabetes, asma dalam pandangan dokter termasuk penyakit belum bisa disembuhkan. Itu sebabnya pasien asma biasanya membutuhkan persediaan obat sebagai pertolongan pertama dan untuk mencegah kekambuhannya.
Jika seorang anak menderita asma kronis, biasanya penyakit ini juga akan dibawa sampai dewasa. Namun, seiring dengan bertambahnya umur dan meningkatnya kekebalan tubuh, serangan asma biasanya menjadi lebih jarang.  

Pencetus Serangan Asma
Pada serangan asma, penderita mengalami sesak napas karena saluran napasnya menyempit atau membengkak. Asma akan semakin parah jika disertai dengan produksi dahak yang berlebihan di saluran napas.
Serangan asma bisa dicetuskan oleh banyak faktor, di antaranya:
·         Alergi, misalnya alergi terhadap debu, bulu hewan, tungau debu, serbuk sari, atau makanan, seperti kacang, udang, telur, seafood, dsb. Asma adalah penyakit yang punya kaitan erat dengan alergi. Biasanya orang yang punya asma juga memiliki alergi, meski tidak selalu demikian. (Lihat juga Bab Obat Alergi.)
·         Iritasi, misalnya iritasi akibat asap rokok, asap knalpot, asap pembakaran, uap cat, parfum, uap bahan kimia, semprot rambut, pengharum ruangan, gelembung sabun mainan, dsb.
·         Suhu dingin atau perubahan suhu udara yang mendadak.
·         Infeksi saluran napas atas, flu, radang tenggorok, dan sejenisnya.
·         Kecapekan, misalnya setelah aktivitas yang menguras tenaga atau setelah olahraga berat.
·         Stres yang berat. Pada anak-anak, menangis lama pun bisa mencetuskan asma.
·         Naiknya cairan lambung ke kerongkongan akibat sakit mag berat.
·         Perubahan hormonal pada perempuan.
·         Obat-obatan, misalnya obat demam atau obat darah tinggi golongan tertentu.
·         Pengawet makanan atau minuman jenis sulfit.
·         Dan sebagainya.
Karena banyaknya kemungkinan pencetus asma, penderita sebaiknya punya catatan harian sehingga memudahkan dokter menemukan pencetusnya. Catatan harian itu harus meliputi faktor-faktor di atas, seperti kapan terjadinya serangan asma, makanan atau minuman apa saja yang dikonsumsi sebelumnya, apa saja bahan-bahan makanan atau minuman tersebut, aktivitas apa yang telah dilakukan, dan sejenisnya.
Gangguan kesehatan ini cukup sering terjadi pada anak-anak, terutama yang lahir prematur atau memiliki orangtua penderita asma atau alergi. Karena saluran napas mereka masih sempit, masalah asma pada anak harus lebih diwaspadai.
Biasanya serangan asma menjadi satu paket dengan flu, pilek, batuk, atau radang tenggorok. Itu sebabnya, pencegahan asma perlu dilakukan satu paket dengan pencegahan flu, pilek, batuk, dan radang tenggorok.

Di samping harus menggunakan obat, penderita asma harus tetap berolahraga tapi dengan cara yang terukur, tidak sampai membuat asma kambuh.

Satu-satunya pencetus asma yang tidak perlu dihindari adalah olahraga. Kita tahu, olahraga atau aktivitas fisik sangat diperlukan untuk kesehatan dan daya tahan tubuh kita. Daya tahan tubuh yang baik sangat diperlukan untuk mengurangi kemungkinan asma. Jika olahraga membuat seseorang terserang asma, sebaiknya ia berkonsultasi ke dokter agar tetap bisa berolahraga tanpa serangan asma. Penderita asma harus tetap berolahraga tapi dengan cara yang terukur.


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


No comments:

Post a Comment