Friday, November 16, 2012

OBAT ASMA (5)

Bentuk Obat Asma
Asma termasuk salah satu penyakit yang cukup rumit pengobatannya. Obatnya tersedia dalam bermacam-macam bentuk. Ada yang berupa obat minum seperti tablet atau sirup, ada pula yang berbentuk supositoria yang dimasukkan ke dalam dubur, ada pula yang berbentuk obat hirup. Pasien asma sebaiknya memahami betul cara pakai obatnya agar terhindar dari efek buruk yang bisa timbul akibat salah pakai.

1.    Sirup atau tablet biasa. Di sini ada tambahan kata “biasa” untuk membedakan dengan tablet jenis nomor dua. Begitu diminum, obat ini biasanya membutuhkan waktu sekitar setengah sampai satu jam untuk bereaksi. Jadi, kalau kita terkena serangan asma dan membutuhkan pertolongan cepat, obat ini tidak bisa diharapkan langsung bereaksi. Kita harus sabar menunggu reaksinya sekitar satu jam.

2.    Tablet “lepas lambat”. Obat jenis ini biasanya ditandai dengan adanya imbuhan SR atau Retard di nama dagangnya. SR merupakan singkatan dari Sustained Release. Baik Sustained Release maupun Retard menunjukkan bahwa zat obat dilepaskan secara lambat dan pelan-pelan di dalam saluran cerna.
Karena itu, obat jenis ini harus ditelan apa adanya, tidak boleh dikunyah atau dihancurkan sebelum diminum. Obat jenis ini digunakan untuk pencegahan. Pelepasan lambat dan pelan-pelan dimaksudkan agar efek pencegahannya berlangsung lebih lama dan agar pasien tidak perlu berkali-kali minum obat. 

3.    Supositoria. Obat ini harus dimasukkan ke dalam dubur. Kenapa kita harus repot-repot menggunakan obat seperti ini? Dengan langsung dimasukkan ke dalam dubur, obat bisa masuk ke peredaran lebih cepat sehingga reaksinya juga lebih cepat. Selain itu, penggunaan obat lewat dubur juga bisa meminimalkan efek samping obat minum yang harus melewati lambung dan saluran cerna.   

4.    Obat hirup. Obat hirup pun bentuknya macam-macam. Ada yang berupa inhaler (semprot-hirup), ada pula yang harus digunakan dengan nebulizer (alat penguap).
Obat hirup pada umumnya hanya membutuhkan waktu sekitar lima sampai beberapa belas menit untuk bereaksi. Karena itu, bentuk obat hirup cocok digunakan untuk obat pertolongan pertama maupun pencegahan. Dibandingkan obat minum, obat hirup secara umum relatif lebih aman digunakan dalam jangka panjang.

a.    Inhaler
Ini bentuk yang obat asma yang paling banyak digunakan. Inhaler berupa botol kecil yang bisa dikantongi dan dibawa ke mana-mana. Tiap semprotan mengandung obat dalam dosis yang sama. Ini bentuk obat hirup yang paling praktis.
Sayangnya, inhaler ini hanya cocok untuk orang dewasa yang sudah bisa mengoordinasikan gerakan napas sebab penyemprotan harus dilakukan persis bersamaan dengan hirupan napas. Tepat ketika jari tangan memencet inhaler, pasien harus menarik napas. Anak-anak biasanya belum memiliki keterampilan ini.
Untuk mereka ini, tersedia alat bantu bernama spacer yang bisa mempermudah pasien menghirup obat. Spacer berupa sebuah tabung yang menghubungkan antara moncong inhaler dengan mulut. Cara pakainya: obat disemprotkan ke dalam spacer, lalu pasien bernapas seperti biasa dengan menghirup udara dari dalam spacer tersebut.


Cara Pakai Inhaler

·         Pastikan obat disertai dengan brosur cara pakai yang detail. Ini penting untuk memperkecil kemungkinan efek buruknya sebab masing-masing produk bisa saja memiliki cara pakai yang berbeda-beda.
·         Sebelum digunakan, kocok dahulu wadahnya agar obat tercampur homogen dan agar tiap semprotan mengandung dosis yang sama persis.
·         Untuk pemakaian pertama, buang sekitar dua atau semprotan ke udara, jauhkan dari wajah kita.
·         Sebelum menyemprotkannya, embuskan napas sebanyak mungkin (tanpa memaksakan diri); masukkan moncong inhaler ke dalam mulut; tutup rapat-rapat dengan bibir; lalu secara bersamaan tekan inhaler dan tarik napas pelan-pelan dan dalam. Tahan napas selama sekitar 10 detik untuk memberi kesempatan obat merasuk ke dalam paru-paru, setelah itu baru lepaskan moncong inhaler lalu embuskan napas pelan-pelan dan bernapas seperti biasa. Jangan terlalu kuat mengembuskan napas.
·         Jika dosisinya dua semprot, beri jarak sekitar satu menit antarsemprotan. Interval waktu ini diperlukan untuk memberi kesempatan agar obat merasuk dulu ke dalam paru-paru.
·         Selesai menghirup obat, berkumur-kumurlah untuk membersihkan sisa obat di rongga mulut. Ini perlu dilakukan untuk mengurangi kemungkinan efek buruk obat itu, misalnya mulut kering atau sariawan.
·         Catat berapa semprotan yang sudah dikeluarkan. Biasanya satu kemasan inhaler bisa digunakan untuk 200 semprotan. Jumlah semprotan maksimal bisa dibaca di kemasan. Setelah digunakan sebanyak 200 kali semprotan, sebaiknya sisanya tidak digunakan lagi walaupun mungkin masih ada beberapa semprotan lagi. Pasalnya, jika jumlah semprotan sudah melampaui angka yang ditetapkan, maka semprotan berikutnya mungkin tidak lagi berisi dosis yang optimal. Padahal, pengobatan asma harus dilakukan dengan dosis yang sangat teliti.  


Inhaler seperti di atas biasa disebut MDI, singkatan dari metered-dose inhaler. Selain MDI, ada pula jenis inhaler lain yang penggunaannya berbeda. Inhaler jenis ini tidak menyemprotkan larutan obat melainkan obat dalam bentuk bubuk padat yang halus.
Inhaler jenis ini disebut DPI, singkatan dari dry powder inhaler. Disebut “dry-powder” karena memang yang dilepaskan adalah obat dalam bentuk bubuk kering. Oleh karena bentuk obatnya berupa partikel padat, obat ini hanya bisa merasuk ke dalam paru-paru kalau dihirup dengan cepat dan kuat. Tidak seperti MDI, inhaler jenis bubuk kering ini tidak pelu dikocok sebelum digunakan.   

b.    Nebulizer
Berupa alat yang cukup besar (dan mahal) serta membutuhkan listrik saat digunakan. Sesuai namanya, nebulizer, alat ini mengubah obat dalam bentuk larutan menjadi nebula (kabut) yang harus dihirup oleh pasien.
Alat ini biasa digunakan untuk pasien anak-anak karena mereka belum bisa mengatur koordinasi napas, juga belum bisa menghirup dengan kuat. Setelah obat diuapkan, si anak cukup bernapas seperti biasa menghirup udara dari nebulizer menggunakan masker khusus. Satu kali pemakaian biasanya membutuhkan waktu beberapa belas menit.

Pencegahan
Ketika kita bicara tentang asma, biasanya kita akan cenderung lebih banyak bicara tentang apa obatnya dan bagaimana caranya. Sering kali ini melupakan kita bahwa hal terpenting dari pengendalian asma adalah mencegahnya alias menghindari pencetusnya. Karena itu, pasien atau orangtua pasien sebaiknya berusaha sungguh-sungguh untuk mengetahui apa saja pencetusnya.

Semua faktor yang disebut di awal bab ini harus diteliti kemungkinannya sebagai pencetus. Jika pencetusnya sudah ketemu, maka pasien harus berusaha sungguh-sungguh mengatasinya. Jangan hanya mengandalkan obat sebab, sekali lagi, obat asma sama sekali tidak menyembuhkan asma. Obat asma hanya meredakan gejala dan mencegah serangannya. Yang lebih menentukan kesehatan kita adalah sistem pertahanan tubuh kita sendiri. 


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.



No comments:

Post a Comment