Sunday, December 16, 2012

OBAT TBC (4)



Obat Harus Jadi Satu

Oleh Pemerintah, kuman TB ini dianggap dan diperlakukan sama dengan teroris. Maka penanganannya pun harus mengikuti standar Kemenkes (Depkes). Obat yang digunakan pun harus mengikuti standar Kemenkes.
Ada lima jenis obat TB yang biasa digunakan, yaitu isoniazida (INH), rifampisin, pirazinamida, streptomisin, dan etambutol. Seorang pasien biasanya mendapatkan kombinasi beberapa jenis obat ini.
Satu dekade lalu, masing-masing obat di atas dibuat dalam tablet atau kapsul yang terpisah-pisah. Sehingga saat pasien pulang dari klinik, ia biasanya membawa satu kresek obat-obatan yang berisi beberapa jenis, dalam jumlah belasan strip.
Ini biasanya menimbulkan masalah bagi pasien maupun tenaga kesehatan. Tiap hari, pasien harus minum banyak sekali obat. Dosis satu obat berbeda dari obat yang lain sehingga membingungkan. Kadang, satu obat sudah habis tapi obat yang lain masih tersisa banyak. Padahal jika pasien keliru minum atau salah dosis, pengobatan bisa gagal dan kuman malah menjadi kebal.
Untuk mengatasi ini, Depkes kemudian membuat aturan bahwa obat TB harus diberikan dalam bentuk kombinasi supaya memudahkan pasien dan tenaga kesehatan. Jadi, satu tablet obat anti-TB (OAT) yang sesuai standar Depkes sudah berisi beberapa macam obat yang digabung jadi satu. Pasien hanya perlu menelan satu obat saja dalam satu dosis. Ia tidak perlu dipusingkan dengan empat macam obat.
Jadi, kalau Anda mendapatkan obat TB tapi dalam sediaan yang terpisah-pisah, itu berarti obat tersebut mungkin tidak sesuai standar Kemenkes. Tapi ini tidak berarti bahwa obat tersebut tidak efektif. Keduanya sama-sama efektif asalkan diminum dengan disiplin. Disiplin adalah kata kuncinya. Meski begitu, obat yang digabung memang lebih memudahkan pasien dan meminimalkan timbulnya masalah kepatuhan.
Kalau kita menginginkan obat yang digabung, kita bisa pergi ke layanan kesehatan Pemerintah seperti Puskesmas atau rumah sakit umum daerah (RSUD). Di sini biasanya kita akan mendapatkan obat standar.
Pemerintah memang sengaja membuat program penggabungan obat TB karena belajar dari pengalaman. Pada satu dekade lalu pemberantasan TB kurang berhasil karena pasien tidak patuh minum obat. Padahal, ketidakpatuhan adalah masalah utama dalam terapi TB.
Biasanya, setelah minum obat selama dua bulan, pasien merasa sehat lalu berhenti minum obat. Padahal, kondisi sehat itu tidak berarti bahwa kuman TB sudah terbasmi secara sempurna. Pasien memang sudah sehat, tapi kuman masih bersembunyi di dalam tubuh. Pengobatan hanya dianggap tuntas kalau pasien minum obat selama 6–8 bulan.


Banyak Makan Protein
            Selama minum obat TB, pasien dianjurkan banyak mengonsumsi makanan dan minuman yang banyak mengandung protein seperti ikan, telur, daging, ayam, tempe, tahu, susu, dan sebagainya. Protein ini diperlukan untuk menjaga daya tahan tubuhnya terhadap kuman TB sekaligus terhadap gempuran obat yang harus ia minum selama berbulan-bulan.



“Malaikat” Pengawas Minum Obat
            Ketidakpatuhan minum obat merupakan masalah sangat serius yang menghambat pemberantasn TB. Karena itu, dalam pedoman Kemenkes, semua penderita TB harus diawasi oleh seseorang yang melakukan tugas waskat—pengawasan melekat. Setiap pasien TB harus punya seorang pendamping yang disebut sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO). Persyaratan ini tidak boleh ditawar.
            Pengawas ini umumnya anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien. Ia dilatih secara khusus, tugasnya memastikan pasien minum obat secara disiplin dalam waktu yang telah ditentukan. Tugas pengawas ini tidak sekadar seperti jam weker yang mengingatkan pasien agar mimun obat. Ia harus mengawasi dan memastikan pasien benar-benar menelan obatnya. Ia harus benar-benar melihat dengan yakin bahwa pasien menelan obatnya.


Ketidakpatuhan minum obat ini merupakan masalah besar dalam penanggulangan TB. Jika pasien tidak patuh, kuman TB bisa menjadi kebal dan lebih ganas. Jika itu terjadi, pengobatan selanjutnya menjadi lebih rumit, pemilihan obat lebih sulit, waktu pengobatan lebih lama, biayanya pun lebih mahal. Lebih dari itu, pasien juga akan menjadi sumber penularan yang berbahaya. Ia tidak sekadar menularkan kuman TB biasa, tapi kuman TB yang kebal dan ganas.

Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


No comments:

Post a Comment