Sunday, December 16, 2012

OBAT TBC (5)


Lebih Baik ke Puskesmas

Pemberantasan TB menuntut komitmen dari semua pihak. Bukan hanya pasien yang dituntut disiplin minum obat, Pemerintah dan sarana pelayanan kesehatan pun dituntut disiplin memastikan obat TB gabungan selalu tersedia. Jangan sampai pasien putus obat hanya karena ia tidak mendapatkannya di sarana pelayanan kesehatan.
Sayangnya, sampai saat ini mungkin masih ada sarana pelayanan kesehatan yang belum mengikuti cara standar Pemerintah. Belum semua apotek atau klinik memiliki obat TB sesuai standar.
Jika begitu, apa yang bisa dilakukan pasien TB agar bisa mendapatkan pelayanan standar? Jawabannya mungkin terdengar mengherankan bagi sebagian kalangan: daripada ke rumah sakit swasta, lebih baik datanglah ke Puskesmas! Ya, datanglah ke Pusat Kesehatan Masyarakat yang selama ini sering dianggap sebagai sarana pelayanan kesehatan kelas bawah itu.
Dalam urusan penanggulangan TB, Puskesmas secara umum lebih bisa diandalkan daripada rumah sakit swasta. Hampir seluruh Puskesmas sudah menerapkan standar yang ditetapkan Pemerintah. Sementara, mungkin belum semua layanan kesehatan swasta menerapkannya.
Kalau pasien datang ke layanan swasta, ada kemungkinan ia mendapatkan obat yang tidak standar. Sebaliknya, kalau ia datang ke Puskesmas, kemungkinan besar ia akan mendapatkan pelayanan standar. Dalam urusan penyakit lain, mungkin rumah sakit swasta lebih unggul. Tapi dalam perkara TB ini, Puskesmas lebih bisa diandalkan.
Tak perlu khawatir jika, misalnya, ternyata penderita memerlukan perawatan yang fasilitasnya tidak dimiliki oleh Puskesmas. Jika itu terjadi, Puskesmas akan merujuk pasien ke rumah sakit yang memang telah memakai standar Kemenkes.
Keuntungan lain buat pasien, di Puskesmas, obat TB standar ini sama sekali gratis. Pasien tidak perlu membayar karena memang tanggung jawab penyediaan obat ini ada di tangan Pemerintah. Dengan datang ke Puskesmas, pasien secara tidak langsung telah membantu program Pemerintah memberantas TB. Di Puskesmas, semua data penderita TB tercatat secara nasional. Ini akan memudahkan Pemerintah dalam memantau keberhasilan program pemberantasan TB.
Dokumentasi ini merupakan salah satu strategi penting dalam pemberantasan TB. Puskesmas memang mendapat amanat untuk memantau perkembangan pasien sampai ia sembuh. Jika, misalnya, pasien tidak kembali ke Puskesmas sebelum dinyatakan sembuh, maka pihak Puskesmas akan melacaknya untuk memastikan bahwa pasien tidak putus obat sesuai amanat Pemerintah.
Sebagian Puskesmas tertentu bahkan menerapkan strategi yang lebih ketat. Semua pasien dan pengawas minum obat harus menandatangani semacam surat perjanjian kontrak yang menyatakan bahwa pasien akan menjalani pengobatan sampai tuntas.
TB memang bukan penyakit yang bisa diremehkan. Penyakit ini mudah menular melalui percikan batuk penderita. Di tahun 2012, jumlah penderitanya di Indonesia diperkirakan masih 450 ribu orang. Padahal, tiap satu orang penderita TB yang aktif bisa menularkan kuman ini kepada 10–15 orang lain. Itu sebabnya, penyakit ini harus diberantas dengan gerakan terpadu secara nasional.


PENCEGAHAN

Agar terhindari dari TB, kita bisa melakukan upaya pencegahan sbb:

       Pastikan anak mendapat vaksinasi BCG.
       Perkecil kemungkinan kontak dengan penderita.
       Atur jendela rumah supaya sinar matahari bisa masuk ke dalam rumah sebab kuman TB bisa mati jika terkena sinar matahari.
       Terapkan pola hidup sehat, jaga daya tahan tubuh. Sebagian besar kita mungkin pernah terpapar kuman ini. Meski terpapar, kita tidak lantas menjadi sakit TB jika daya tahan tubuh kita baik.
       Jika ada yang sakit, ia harus segera diobati. Setelah dua bulan pengobatan, ia tidak lagi menularkan penyakitnya meskipun penyakitnya belum sembuh total. Saat batuk, ia harus menutup mulutnya.



Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


No comments:

Post a Comment