Sunday, December 16, 2012

OBAT TBC PADA ANAK (1)


Sampai sekarang Indonesia masih merupakan salah satu negara dengan penderita tuberkulosis terbanyak di dunia. Dalam urusan ini, kita masih masuk lima besar. Sekalipun mungkin kita sudah mulai jarang menjumpai penderitanya, kita masih perlu memberi perhatian serius kepada penyakit yang oleh orang awam biasa disebut flek paru ini.
Dalam kaitannya dengan obat, ada dua masalah utama yang kita hadapi: Orang yang sakit TBC tidak merasa sakit; sementara orang yang tidak sakit TBC justru dianggap sakit TBC. Akibatnya, orang yang mestinya minum obat TBC tidak minum obat yang ia butuhkan. Sebaliknya, orang yang mestinya tidak minum obat TBC justru meminumnya.
Masalah pertama biasanya terjadi pada orang dewasa sementara masalah kedua umumnya menimpa balita. Kenapa bisa begitu? Mari kita bahas.
TBC (atau TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang disebut Mycobacterium tuberculosis. Si “Miko” ini termasuk salah satu “bioteroris” paling tangguh di dunia.
Di dalam tubuh manusia, bakteri ini biasanya bersarang di dalam paru-paru—sekalipun bisa saja berada di organ-organ lain. Karena paru-paru dijadikan sebagai sarang kuman, tubuh berusaha melawan dengan memproduksi banyak dahak di dalam paru-paru. Itu sebabnya penderita TB menujukkan gejala batuk berdahak yang berlangsung berbulan-bulan dan tidak sembuh-sembuh walaupun sudah diobati ini itu.
Biasanya gejala batuk ini disertai dengan gejala lain seperti berkeringat di malam hari (walaupun tidak melakukan aktivitas), kurang nafsu makan, berat badan menurun, badan lemah dan selalu terasa tidak enak. Jika parah, batuk bisa disertai dengan dahak dan bercak darah, dada terasa nyeri, dan napas sesak.    
Untuk mendiagnosis apakah seseorang menderita TB atau tidak, dokter biasanya meminta pasien melakukan tes rontgen dan pemeriksaan dahak. Pada penderita TB, foto rontgen dadanya akan menunjukkan gambaran khas adanya flek (bercak) di paru-parunya. Tapi pemeriksaan rontgen saja tidak bisa dijadikan dasar untuk memvonis TB. Dokter perlu melakukan pemeriksaan dahak. Jika pemeriksaan dahak di bawah mikroskop menunjukkan adanya kuman TB di riak pasien, berarti memang ia menderita TB.


Pemeriksaan dahak ini merupakan tes yang paling akurat untuk membuktikan seseorang menderita TB atau tidak. Tes ini merupakan metode standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan (Depkes) dan harus diikuti oleh semua dokter. Foto rontgen saja mugkin masih menipu, tapi pemeriksaan kuman dahak di mikroskop biasanya tidak akan menipu. Ibarat proses pengadilan di meja hijau, adanya kuman TB di dahak adalah bukti nyata kejahatan yang tidak bisa dibantah lagi.


Diagnosis TB Anak Lebih Sulit
Jika lewat pemeriksaan di atas, seseorang (dewasa) divonis oleh dokter bahwa dia menderita TB, maka “dua kali dua sama dengan empat”. Suka tak suka, ia harus disiplin minum obat, setiap hari, berturut-turut, tanpa henti, selama paling tidak enam bulan. Ini adalah vonis yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Tak ada proses naik banding.
Akan tetapi, berbeda halnya jika yang divonis TB adalah pasien balita. Jika seorang dokter memvonis seorang anak balita menderita TBC, sebaiknya orangtua mencari second opinion lebih dulu sebelum menjalani pengobatan. Orangtua sebaiknya menggunakan hak untuk naik banding lebih dulu sebelum menerima vonis, terutama jika vonis itu dijatuhkan padahal pasien baru datang ke dokter satu atau dua kali.
Naik banding bisa dilakukan dengan berkonsultasi ke dokter lain yang lebih ahli, entah ke dokter spesialis anak (Sp.A) atau dokter spesialis paru (Sp.P). Lebih tepat lagi kalau ke dokter Sp.A (K), spesialis anak yang mengkhususkan diri (subspesialis) di bidang paru anak. Kalau kita tinggal di kota besar, biasanya kita dapat menemukan dokter Sp.A (K) yang subspesialis paru anak ini di rumah-rumah sakit besar.
Ini tidak berarti bahwa kita tidak percaya kepada dokter pertama. Ini semata-mata demi alasan kesehatan si anak. Kedokteran bukanlah ilmu pasti. Dokter mungkin saja keliru tanpa disengaja. Medicine is a science of uncertainty and an art of probability. Ilmu kedokteran adalah sains tentang ketidakpastian dan seni tentang kemungkinan-kemungkinan.
Pada anak-anak, diagnosis TB tidak begitu mudah dilakukan. Jika baru satu dua kali kunjungan, lalu dokter sudah langsung bisa meyimpulkan bahwa si anak menderita TBC, orangtua sebaiknya menggunakan haknya untuk mencari pendapat dokter lain.
Kenapa begitu?
Sekali lagi, tes yang paling akurat untuk memastikan seseorang menderita TB adalah dengan memeriksa dahaknya di bawah mikroskop. Jika di dalam dahak itu ada bakteri TB, berarti memang ia menderita penyakit ini. Di sinilah masalahnya. Orang dewasa gampang saja disuruh mengeluarkan dahak. Tapi anak balita? Mereka belum punya kemampuan mengeluarkan riak. Karena mereka belum bisa berdahak, dokter akan melakukan pemeriksaan dengan cara lain.

Tes Mantoux Saja Tak Cukup
Untuk memperkuat diagnosis, dokter harus melakukan beberapa tes, antara lain tes Mantoux di kulit pasien dan foto rontgen dada. Tes Mantoux bertujuan untuk menguji apakah tubuh si anak pernah terpapar kuman TB ataukah tidak. Sedangkan foto rontgen untuk mengetahui ada tidaknya flek (bercak dahak) di paru-paru.
Meski dua tes ini sudah dilakukan pada pasien anak, dokter tidak bisa langsung dengan mudah bisa membuat kesimpulan. Sebab, di tahap ini masih ada banyak hal yang bisa mengecoh diagnosis.
Tipuan pertama timbul pada saat tes Mantoux. Tes ini dilakukan dengan menyuntikkan protein dari kuman TB ke dalam kulit lengan bagian bawah. Hasilnya positif jika timbul pembengkakan kemerahan dengan diameter lebih dari 10 mm pada bekas tempat suntikan.
Jika tes Mantoux positif, artinya: si anak pernah kemasukan kuman TBC. Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa dia pasti menderita TB. Bisa saja tubuhnya pernah kemasukan kuman TB tapi dia tidak sakit. Contohnya, anak yang pernah mendapat vaksin BCG akan memberikan respons positif terhadap tes Mantoux. Seperti yang pernah diajarkan kita di sekolah menengah, vaksin adalah kuman yang dilemahkan. Vaksin BCG sejatinya adalah kuman yang dilemahkan lalu dimasukkan ke dalam tubuh agar tubuh belajar membuat kekebalannya.
Kemungkinan lain, si anak pernah terpapar kuman TB, tapi daya tahannya cukup kuat untuk melawan. Jadi, meskipun kemasukan kuman, dia tidak sakit. Jadi, tes Mantoux saja tidak bisa dijadikan sebagai patokan, kecuali jika kemerahan di kulit pasien sangat tebal hingga 20 mm. Kalau bercaknya sangat tebal, kemungkinan besar memang ia menderita TB.

Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.



No comments:

Post a Comment