Sunday, December 16, 2012

OBAT TBC PADA ANAK (2)


Foto Rontgen Bisa Menipu
Karena tes Mantoux saja tidak cukup, untuk memperkuat diagnosis diperlukan tes foto rontgen. Tapi di sini pun tipuan masih terus berlanjut. Pada orang dewasa, foto rontgen biasanya menunjukkan gambaran flek paru di bagian atas. Sebab di sinilah kuman TB membangun sarangnya. Tapi pada anak-anak, kuman TB tidak membangun sarangnya di paru-paru bagian atas, tetapi di kelenjar getah bening.
Susahnya, lokasi kelenjar ini berdekatan dengan jantung. Jika hanya difoto dari depan, kadang flek tertutup oleh bayangan jantung. Apalagi jika hasil foto kurang bagus. Itulah sebabnya, untuk memperkuat diagnosis, foto rontgen juga harus dilakukan dari samping. Dengan begitu, gambaran paru tidak diganggu oleh jantung.
Ruwetnya lagi, kalaupun hasil rontgen menujukkan flek paru, itu pun masih tidak berarti bahwa si anak positif TB. Flek paru di foto rontgen tak selalu indikasi TB. Ada kemungkinan lain. Misalnya pada anak-anak yang sedang batuk grok-grok. Saat dirontgen, mungkin saja hasil fotonya menunjukkan flek, meskipun ia tidak menderita TB. Karena itu, foto rontgen sebaiknya dilakukan pada saat anak dalam kondisi terbaik. Jika mungkin, setelah batuk grok-grok-nya disembuhkan lebih dulu atau paling tidak saat batuknya minimal.
Karena sulitnya menegakkan diagnosis TB pada anak, dokter biasanya memerlukan waktu lebih lama sebelum menjatuhkan vonis. Dokter akan menegakkan vonis dengan mempertimbangkan berbagai hasil pemeriksaan, mulai dari gejala yang dialami si anak, gambaran foto rontgen, hingga hasil tes Mantoux.

Selidiki Riwayat Kontak
Selain itu, ada ada satu faktor lain yang tak kalah pentingnya, yaitu riwayat kontak si anak dengan penderita TB. Tentu yang lebih tahu masalah ini adalah orangtua pasien. Jika misalnya, di rumah ada penderita TB, maka ini bisa memperkuat dugaan TB pada si anak.
Biasanya si anak tertular penyakit ini dari orang dewasa, bukan dari teman-temannya. Pasalnya, penderita TB anak belum bisa menularkan kumannya kepada orang lain.


Bukan “Penyakit Orang Miskin”

            Selama ini sebagian dari kita mungkin menganggap TB identik dengan penyakit orang miskin. Orangtua akan merunduk malu jika anaknya diketahui mengidap TB. Tapi mengingat bahwa penyakit ini bisa menular secara tidak langsung di luar rumah, anggapan “penyakit orang miskin” ini mestinya tidak dijadikan pedoman. Siapa saja bisa tertular TB.
            Sekalipun tidak ada anggota keluarga atau pembantu yang menderita TB, bisa saja si anak kemasukan kuman saat berada di luar rumah. Penularannya terjadi secara tidak langsung. Mungkin saat si anak berada di luar rumah ia menghirup udara yang tercemar kuman TB. Saat seorang penderita (yang entah siapa) batuk dan tidak menutup mulutnya, kuman TB keluar dari paru-parunya bersama percikan air ludah. Kuman-kuman ini lalu bertahan hidup sambil beterbangan di udara, dan akhirnya terhirup oleh si anak yang malang itu.


Menyerang Kelenjar Getah Bening
Dalam tubuh anak, kuman ini bersarang di kelenjar getah bening. Itulah sebabnya, orangtua harus waspada jika si upik atau si buyung punya benjolan kelenjar getah bening di leher bagian belakang telinga.
Selain itu, orangtua juga bisa mengamati gejala-gejala yang lain. Di antaranya, batuk yang tak kunjung sembuh, gampang sakit, nafsu makan hilang, berat badan yang tidak naik-naik atau bahkan turun, serta demam berulang-ulang tanpa sebab yang jelas.
Namun, gejala-gejala ini bersifat subjektif sehingga tidak selalu menjamin diagnosis yang tepat. Sebagai contoh, batuk bisa saja disebabkan oleh alergi atau asma. Demam yang berulang-ulang bisa saja karena infeksi virus langganan. Pembesaran kelenjar getah bening pun bisa disebabkan kuman yang lain. Gejala-gejala ini hanya sebagai salah satu pertimbangan untuk segera berkonsultasi ke dokter ahli anak atau paru-paru.
Jika setelah melakukan berbagai pemeriksaan di atas, dokter menyimpulkan bahwa si anak menderita TB, itu berarti orangtua harus siap-siap untuk meminumkan obat kepada anaknya secara disiplin setiap hari selama paling tidak enam bulan. Mungkin lebih lama dari itu, tergantung resep dokter.
Intinya, orangtua perlu memastikan bahwa vonis itu dijatuhkan setelah dokter melakukan pemeriksaan yang menyeluruh terhadap si anak. Bukan sekadar pemeriksaan foto rontgen. Orangtua perlu memastikan hal ini sebab vonis TB pada anak adalah sebuah vonis berat yang akan membawa konsekuensi yang juga berat.

Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.



No comments:

Post a Comment