Friday, January 11, 2013

OBAT PADA BAYI DAN ANAK



Dalam hal konsumsi obat, kita sering menganggap bahwa anak-anak adalah miniatur orang dewasa. Kita berpikir, obat yang aman buat orang dewasa logikanya tentu aman buat anak-anak jika dosisnya disesuaikan dengan umurnya.

Jelas, ini anggapan yang salah. Dalam hal keamanan obat, anak-anak bukanlah miniatur orang dewasa. Obat yang aman buat orang dewasa belum tentu aman buat anak-anak walaupun dosisnya sudah disesuaikan dengan umurnya.

Pada anak-anak, organ-organ tubuhnya masih dalam masa perkembangan, termasuk ginjal dan lever (hati) yang berfungsi sebagai penyaring dan penetral obat. Organ tubuh mereka masih rentan terhadap materi asing seperti obat. Karena alasan inilah obat-obatan harus diberikan secara sangat hati-hati kepada anak-anak, terutama di bawah usia dua tahun. Di mana-mana, tidak hanya di Indonesia, anak adalah kelompok umur yang paling sering mengonsumsi (lebih tepatnya, dicekoki) obat-obat yang sebetulnya tidak ia perlukan.

Dari sekian banyak jenis gangguan kesehatan yang membuat bayi dan anak-anak dibawa ke dokter adalah demam, flu-pilek, batuk, diare, dan radang tenggorok. Sebagian besar penyakit itu termasuk kategori self limiting disease, penyakit yang bisa sembuh sendiri tanpa diobati secara khusus. Penyebabnya yang paling umum adalah virus. Dan sampai hari ini, belum ditemukan obat yang bisa membasmi virus-virus tersebut.

Memang, ada sebagian penyakit langganan ini yang disebabkan oleh bakteri yang bisa dibasmi dengan antibiotik, misalnya sebagian diare dan sebagian radang tenggorok. Tapi secara umum persentasenya tidak besar. Baca juga Bab Antibiotik.

Celakanya, semua penyakit di atas diperlakukan sama. Semua dianggap infeksi bakteri. Dan tiap kali anak-anak ini dibawa ke dokter, hampir bisa dipastikan mereka akan pulang membawa obat berisi antibiotik di samping obat ini-itu lainnya.

Padahal, makin sering seorang anak minum antibiotik yang tidak diperlukan, makin rentan daya tahan tubuhnya. Kenapa begitu? Karena antibiotik akan membasmi bakteri normal (nonpatogen) di saluran cerna. Padahal bakteri-bakteri ini berfungsi membantu produksi vitamin dan mendesak pertumbuhan bakteri jahat (patogen).

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh orangtua agar anak tidak sering sakit dan tidak terlalu banyak minum obat?

Pertama-tama, tindakan pencegahan. Salah satu bentuk pencegahan yang paling murah dan paling baik adalah pemberian ASI. Berbagai penelitian menunjukkan, anak yang mendapat ASI lebih sehat daripada anak yang tidak. Banyak orangtua tidak menyusui bayinya karena alasan ini dan itu. Padahal sebetulnya ibu yang benar-benar punya halangan menyusui itu amat sedikit jumlahnya. Sebagian besar masalah menyusui bisa diatasi. Wanita karier yang supersibuk pun tetap bisa melakukannya. Untuk mengetahui trik-trik mengatasi berbagai masalah menyusui, kita bisa bergabung dengan komunitas ASI seperti Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (http://aimi-asi.org/).

Jika tindakan pencegahan sudah dilakukan dan anak masih sakit, pedoman pertama: jangan mudah panik. Banyak orangtua yang, karena tak begitu mengerti masalah kesehatan, mudah panik dan gopoh ketika anaknya sakit. Saat membawa anaknya ke dokter, mereka biasanya cenderung menuntut dokter untuk “memberi anaknya obat apa saja yang penting ia sembuh”.

Tuntutan inilah yang kemudian memaksa dokter untuk meresepkan “obat sapu jagat” yang berisi bermacam-macam obat, mulai dari penurun panas, penekan batuk, pengencer dahak, antihistamin, pelega hidung, dan... tak lupa antibiotik. Para dokter tentu sudah paham dengan prinsip pengobatan rasional dan polifarmasi, tapi memberi penjelasan kepada orangtua yang panik dan gopoh tentu lebih menghabiskan waktu daripada menulis resep.

Dalam kondisi seperti ini, pasien bisa memberdayakan diri dengan cara banyak belajar tentang kesehatan dasar anak. Untuk urusan ini, kita bisa belajar dari sesama orangtua di komunitas Milis Sehat (http://milissehat.web.id/). Selain itu, kita juga bisa belajar perawatan kesehatan anak di situs Ikatan Dokter Anak Indonesia di www.idai.or.id. Sayangnya, situs ini sering tidak bisa diakeses.

Agar kesehatan anak bisa dipantau dengan baik, orangtua sebaiknya punya buku diary catatan kesehatan anak. Mirip rekam medis milik rumah sakit, tapi yang dibuat sendiri oleh orangtua. Di buku itu orangtua bisa mencatat apa yang dimakan oleh anak, apa saja gejala sakit yang dialami, berapa lama gejalanya, berapa derajat demamnya, telah berkunjung ke dokter siapa saja, diberi obat apa saja, berapa miligram dosisnya, diminum berapa kali sehari, dan seterusnya. Tiap kali berkunjung ke dokter, orangtua bisa menunjukkan buku catatan ini sehingga bisa menghemat waktu di ruang dokter. Cara seperti ini juga akan membuat dokter lebih terbantu karena dia akan lebih mudah mendiagnosis keadaan si anak.

Dalam banyak kondisi sakit, anak-anak sebetulnya sering kali tidak memerlukan obat. Mungkin ia hanya perlu ASI lebih banyak, minum lebih banyak, dan istirahat lebih banyak.

Sebelum berpikir tentang obat, orangtua sebaiknya mencoba lebih dulu cara non-obat. Contoh, untuk membantu mengencerkan dahak, orangtua bisa mencoba memberi uap air panas. Caranya, taruh satu ember air panas di dalam kamar lalu tutup pintu kamar. Biarkan uap hangat memenuhi ruangan dan dihirup oleh anak. (Lihat Bab Obat Batuk.)

Kalaupun anak membutuhkan obat, sebisa mungkin usahakan memilih obat yang risikonya paling kecil. Misalnya, untuk mengatasi hidung tersumbat, daripada menggunakan obat minum yang berisi dekongestan (pelega hidung), lebih aman menggunakan dekongestan dalam bentuk obat tetes hidung. Kalau sumbatan hidung hanya disebabkan oleh ingus yang kental, si anak mungkin tak perlu obat yang berisi dekongestan, tapi cukup tetes hidung yang berisi larutan garam steril. (Lihat Bab Obat Pelega Hidung.)

Kalaupun tidak bisa menghindari obat, usahakan menggunakan obat yang aman. Misalnya, untuk kondisi demam, sebagai pilihan pertama sebaiknya orangtua menggunakan parsetamol lebih dulu daripada langsung memberikan ibuprofen. Jika parasetamol tidak mempan, barulah boleh dicoba ibuprofen, dengan syarat tidak ada kecurigaan demam berdarah.

Ketika menggunakan obat, pastikan dosisnya tepat. Sebagai contoh, obat sirup parasetamol. Pada umumnya, sirup obat di Indonesia menggunakan tanda volume 2,5 ml dan 5 ml. Kandungan parasetamol biasanya sekitar 120 mg tiap 5 ml sirup.

Jika anak mestinya minum 2,5 tapi kita beri 5 ml, artinya ia harus menenggak kelebihan parasetamol 60 mg. Pada anak-anak dan bayi, perbedaan miligram yang kecil bisa berakibat overdosis yang membahayakan.

Begitu pula dengan obat yang diberikan dalam bentuk tetes. Pada obat tetes, kandungan obat biasanya dibuat lebih pekat daripada sirup. Biasanya 100 mg parasetamol tiap ml. Jadi, jika volumenya meleset 0,2 ml saja, si bayi harus menenggak kelebihan obat 20 mg.

Kalau memang kita harus menggunakan obat bebas, pilihlah obat bebas dengan kandungan yang memang diperlukan. Hindari produk sapu jagat yang berisi banyak sekali obat. Bagaimanapun, industri farmasi juga punya sisi bisnis—sebagaimana apotek, rumah sakit, klinik, dan dokter praktik. Sebagain pabrik membuat obat sapu jagat supaya lebih laris. Satu produk diisi bermacam-macam obat, kadang sampai lima macam. Tujuannya, kalau obat pertama tidak bekerja, obat kedua, ketiga, dan seterusnya masih bisa bekerja. Tak peduli efek sampingnya.

Pencampuran berbagai obat ini banyak terjadi di produk obat batuk dan flu-pilek. Satu produk bisa mengandung golongan analgesik-antipiretik (antinyeri dan penurun demam), antitusif (penekan batuk), ekspektoran (pengencer dahak), antihistamin (pereda alergi), dekongestan (pelega hidung), dan mungkin masih ada lainnya.

Terakhir, jika bayi atau anak tidak mau minum obat (yang memang ia butuhkan), orangtua bisa menggunakan spuit 2,5 ml tanpa jarum. Jika obat berbentuk tablet, gerus dengan sedikit (sekitar 1 ml) air, lalu masukkan semuanya ke dalam spuit. Arahkan ujung spuit ke belakang pangkal lidah bayi dan keluarkan pelan-pelan. Bagian belakang pangkal lidah dipilih karena bagian ini tidak memiliki saraf perasa.

Namun, sekali lagi, sebelum kita berusaha keras mencekoki anak kita dengan obat-obatan, pertama-tama kita harus bertanya, apakah obat itu memang benar-benar diperlukan. Ini pertanyaan yang harus dipastikan jawabannya lebih dulu sebelum bertanya bagaimana cara memberikan.



Mengatasi Flu-Pilek-Batuk pada Anak

            Obat-obat flu-pilek dan batuk sebetulnya adalah obat yang diperuntukkan buat orang dewasa. Karena itu produk ini harus digunakan secara sangat hati-hati pada anak-anak. Bahkan, menurut standar FDA, obat-obat ini sebetulnya tidak boleh digunakan secara bebas pada anak di bawah dua tahun kecuali atas resep dokter. Lagi-lagi pertimbangannya adalah alasan keamanan. Saat minum obat batuk, sangat mungkin si anak mengalami efek buruk tapi tidak kelihatan oleh orangtuanya, misalnya jantung berdebar-debar atau bermimpi buruk.
            Sama seperti demam, batuk pun sebetulnya memiliki manfaat pertahanan tubuh, yaitu mengeluarkan benda asing dari saluran napas atas. Benda asing itu mungkin kuman, debu, dahak, atau alergen. Kalau refleks batuk ditekan, justru manfaat batuk ini akan hilang.
            Lalu apa yang bisa dilakukan orangtua kalau bayinya mengalami flu-pilek dan batuk?

  • Beri ASI atau minuman hangat lain lebih sering dari biasanya.
  • Jika ingusnya mengental dan menyumbat hidung, tetesi dengan obat tetes hidung yang berisi larutan garam supaya ingus tersebut lebih lembap dan encer. Saat ingus encer, keluarkan dengan cara memencet hidung bayi secara lembut menggunakan tisu.
  • Jika batuknya berdahak dan mengganggu, encerkan dahak di hidung dan tenggoroknya dengan cara membiarkan bayi menghirup uap air hangat. Caranya, saat bayi tidur, letakkan ember berisi air panas lalu tutup kamar dan biarkan uap kamar memenuhi ruangan.
  • Sebagian orang menambahkan beberapa tetes minyak kayu putih atau minyak telon ke dalam air panas untuk mencipatakn efek terapi aroma. Juga memijat bayi dengan balsem khusus bayi. Ini cara tradisional yang secara empiris banyak dipraktikkan di Indonesia sekalipun mungkin tidak banyak kita temui di referensi-referensi kedokteran. Boleh saja cara ini diterapkan asal hati-hati, jangan sampai keliru menggunakan balsem untuk orang dewasa karena kulit dan saluran napas bayi masih sangat rentan. Salah satu merek balsem bayi yang sangat populer adalah Transpulmin BB. Jika kurang teliti, orangtua bisa keliru dengan balsem Transpulmin (tanpa “BB”) yang bukan untuk bayi.
  • Jauhkan bayi dari kemungkinan penyebab pilek dan batuk, seperti kipas angin, asap rokok, dan debu.
  • Saat bayi tidur, atur posisi tidurnya miring dan beri bantal yang agak tinggi.
  • Jika batuknya sampai membuat bayi sulit bernapas dan sulit tidur, bawa bayi ke dokter.




Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


No comments:

Post a Comment