Monday, February 4, 2013

ANTIBIOTIK (1)



Sebetulnya antibiotik bukan termasuk obat bebas. Obat ini mestinya hanya boleh didapatkan dengan resep. Dokter pun mestinya meresepkan dengan sangat cermat dan hanya menuliskan antibiotik ketika memang benar-benar dibutuhkan. Jadi, antibiotik mestinya bukan termasuk “obat sehari-hari”. Namun, di Indonesia fakta berbicara lain. Penggunaan antibitok yang berlebihan sudah menjadi salah satu masalah kronis kesehatan masyarakat di negara kita. Pemakaian antibiotik secara berlebihan membuat makin banyak bakteri baru yang kebal dan ganas.
Antibiotik adalah obat yang bekerja membasmi bakteri. Sekali lagi, bakteri. Obat ini hanya efektif untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Kalau penyebabnya virus, obat ini sama sekali tidak efektif. Bukan hanya mubazir jika diminum, tapi juga mendatangkan efek merugikan.
Contoh penyakit yang disebabkan oleh virus: flu, pilek, serta sebagian besar batuk dan bronkitis (radang tenggorokan). Memang, mungkin saja batuk dan radang tenggorokan disebabkan oleh bakteri, tapi sebagian besar disebabkan oleh infeksi virus. (Virus adalah kuman yang ukurannya lebih kecil dari bakteri).
Contoh infeksi yang disebabkan oleh bakteri: sebagian besar (tidak semua) infeksi telinga, radang tenggorokan yang berat (biasanya disertai demam dan nyeri), radang hidung yang tidak sembuh lebih dari dua minggu, infeksi infeksi saluran kemih, dan infeksi-infeksi organ dalam.
Orang awam sulit membedakan infeksi bakteri, infeksi virus, atau infeksi jamur. Salah obat bisa saja membayakan kesehatan. Itu sebabnya antibiotik mestinya tidak dikonsumsi bebas seperti parasetamol, harus dengan resep dokter. Aturan pembatasan seperti ini sebetulnya justru untuk melindungi masyarakat.
Untuk penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus, antibiotik tidak bermanfaat. Tapi faktanya, di masyarakat kita, antibiotik sangat sering digunakan untuk penyakit-penyakit macam ini, terutama pada anak-anak.

Kenapa Bakteri Bisa Kebal?

Dalam hal kemampuan bertahan hidup, bakteri punya sedikit kemiripan dengan manusia. Mereka bisa belajar. Ini bagian dari mekanisme alami untuk mempertahankan diri. Jadi, bukan manusia saja yang punya kecerdasan. Makhluk-makhluk renik pun memiliki kemampuan belajar.

Antibiotik ibarat senjata rahasia yang dimiliki manusia untuk mengalahkan bakteri. Semakin sering kita menggunakan antibiotik, artinya semakin sering kita menggunakan senjata rahasia itu. Akibatnya, bakteri lama-lama bisa mempelajarinya struktur kimianya. Setelah itu mereka melawan antibiotik itu dengan cara membuat perisai biologis atau menghasilkan senyawa kimia yang bisa melumpuhkan antibiotik.

Ini adalah salah satu alasan kenapa kalau kita mendapat resep antibiotik dari dokter, kita harus menghabiskannya walaupun kita sudah merasa sehat. Sebab, walaupun kita sudah merasa sehat, sebetulnya infeksi di dalam tubuh kita belum sepenuhnya terbasmi tuntas. Masih ada bakteri yang bersembunyi. Bakteri ini harus dibasmi sampai tuntas dengan cara kita terus minum antibiotik sampai habis.

Jika bakteri ini tidak dibasmi sampai tuntas, mereka akan bisa mempelajari struktur kimia antibiotik lalu mengembangkan mekanisme pertahanan diri sehingga mereka bisa menjadi kebal.


Dalam kondisi infeksi virus, antibiotik justru hanya akan membasmi bakteri menguntungkan di dalam usus. Padahal, bakteri-bakteri baik ini kita perlukan untuk menjaga kekebalan tubuh kita. Hilangnya bakteri baik bisa memicu ganggauan pencernaan, misalnya diare.
Pada wanita, penggunaan antibiotik yang berlebihan juga bisa memicu infeksi jamur di vagina. Ringkasnya, penggunaan antibiotik dalam kondisi tidak ada infeksi bakteri justu akan membuat tubuh rentan terhadap penyakit. Akibatnya, tubuh akan menjadi lebih mudah mengalami infeksi.
Makin banyak antibiotik digunakan, akan makin banyak bakteri yang kebal. Akibatnya, makin banyak infeksi yang sulit diobati. Dokter akan makin sulit memilihkan antibiotik yang efektif, dan biaya berobat pun menjadi semakin mahal. 

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 80% kasus infeksi virus pada saluran napas atas diobati dengan antibiotik. Para dokter yang meresepkan antibiotik tidak sepenuhnya salah. Seringkali mereka melakukannya karena tekanan pasien yang merasa kurang afdol pulang dari dokter tanpa membawa banyak obat. Jadi, masalah antibiotik ini sudah sedemikian kompleks. Semua pihak punya andil, mulai dari tenaga kesehatan hingga konsumen sendiri.    
Jika kita terus menggunakan antibiotik secara berlebihan seperti sekarang, akibat buruknya akan diderita oleh anak-anak kita nanti. Akan makin banyak bakteri yang kebal, dan makin mudah anak-anak menderita sakit infeksi. Sekali terkena infeksi, makin sulit disembuhkan, dan biaya pengobatan pun menjadi semakin mahal.
Karena itu, sebagai wujud rasa cinta kepada anak-anak kita, mari kita tinggalkan kebiasaan mengonsumsi antibiotik secara berlebihan. Usaha mengurangi konsumsi antibiotik haruslah menjadi program massal, seperti program imunisasi dasar. Harus melibatkan kesadaran semua konsumen maupun tenaga kesehatan secara bersama-sama.
Jika makin banyak kuman yang kebal, kita dihadapkan pada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, industri farmasi akan terus-menerus melakukan riset untuk menemukan antibiotik-antibiotik baru yang otomatis menyebabkan harganya makin lama makin mahal. Yang satu biji harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Siapa lagi yang akan membayar ongkosnya kalau bukan konsumen?
Kemungkinan kedua, laju pertumbuhan kuman yang kebal lebih cepat daripada kemampuan industri farmasi melakukan riset dan menemukan antibiotik baru. Jika ini yang terjadi, kesehatan anak-anak kita akan dipertaruhkan. 
Menggunakan antibiotik secara bebas untuk flu, pilek, batuk, radang tenggorokan yang disebabkan infeksi virus sama artinya dengan berfoya-foya menggunakan uang tabungan anak kita. Kita sendiri mungkin tidak langsung menderita akibatnya. Tapi bisa dipastikan, yang mengalami akibat buruknya adalah anak-anak kita. Makin banyak kuman ganas yang mengancam kesehatan mereka.
            


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.



1 comment: