Monday, March 18, 2013

OBAT ALERGI


Tubuh manusia dibekali dengan sistem imun (daya tahan). Sistem imun ini akan bereaksi setiap kali terpapar sesuatu dari luar tubuh, misalnya bakteri, virus, bahan kimia, dan sejenisnya. Sistem imun inilah yang menjadi benteng pertahanan pertama kalau tubuh kemasukan benda-benda asing yang berbahaya.

Namun, ada kalanya sistem imun mengalami gangguan. Bahan-bahan yang tidak berbahaya pun dilawan karena dianggap berbahaya. Reaksi keliru inilah yang kemudian muncul dalam bentuk alergi.

Bahan-bahan yang sering menyebabkan alergi antara lain debu, rambut hewan, gigitan serangga, serbuk sari, udang, ikan, terutama seafood, kacang-kacangan, kedelai, telur, susu formula, tepung terigu, lateks (karet), keringat, asap rokok, bahan kimia (misalnya detergen), dan obat-obatan tertentu (seperti ampisilin dan amoksisilin). Reaksi alergi bisa juga dipicu oleh kondisi, misalnya suhu dingin. 

Gejala alergi sangat bervariasi, mulai dari yang ringan sampai yang sangat berat. Mulai dari hidung meler, bersin-bersin, gatal, iritasi, biduran, radang tenggorokan, bengkak, hipotensi (tekanan darah rendah), asma, diare, muntah, jantung berdebar-debar, hingga sampai pingsan dan syok.

Ada dua kelompok besar obat alergi, yaitu:

1.     Antihistamin

Obat ini bekerja dengan cara menetralkan histamin. Histamin sendiri adalah bahan yang bertanggung jawab terhadap timbulnya gejala alergi. Contoh obat golongan ini klorfeniramin maleatdifenhidramin, tripolidin, bromfeniramin maleat, bromfeniramin, cetirizin, loratadin, desloratadin, dan fexofenadin.

Dari sekian banyak contoh antihistamin di atas, yang paling banyak digunakan adalah klorfeniramin maleat. Dalam bahasa sehari-hari, kita mengenalnya dengan sebutan CTM, singkatan darichlor-trimeton, nama lain klorfeniramin maleatCTM, klorfeniramin maleat,chlor-trimeton, semuanya setali tiga uang alias sami mawon.

Biasanya antihistamin memiliki efek samping membuat kantuk. Itu sebabnya, saat minum obat yang mengandung antihistamin, kita disarankan untuk tidak mengendarai kendaraan bermotor karena obat ini bisa menyebabkan kantuk dan mengurangi konsentrasi. Efek samping ini sebetulnya tidak buruk karena dengan begitu kita akan beristirahat dan memberi kesempatan kepada tubuh untuk menyehatkan diri.  

Namun, tidak semua antihistamin menyebabkan kantuk. Sebagian obat generasi baru, misalnya loratadin, tidak memiliki efek samping ini. Efek kantuknya mungkin tetap ada tapi sangat kecil. Anda bisa memintanya kepada dokter jika memang Anda sedang beraktivitas penting dan tidak boleh mengantuk.


2.     Kortikosteroid
     
     Ini bukan obat bebas. Tapi pasien perlu mengetahuinya karena sering diresepkan oleh dokter, dan kadang digunakan secara serampangan (bebas-tapi-salah). Obat ini bekerja dengan cara menekan sistem daya tahan tubuh sehingga tidak bereaksi kepada alergen. Karena cara kerjanya yang justru menekan daya tahan tubuh, obat ini harus digunakan secara sangat hati-hati. Untuk penjelasan lebih detail, baca Bab Kortikosteroid.

Semua obat di atas hanya bekerja sebagai pertolongan pertama yang menghilangkan gejala. Untuk mencegah terulangnya alergi, kita harus mengetahui dengan tepat penyebabnya lalu sebisa mungkin menjauhinya.

Alergi termasuk salah satu masalah yang sering terjadi pada anak-anak. Anak yang lahir dari orangtua yang punya riwayat alergi biasanya punya kemungkinan lebih besar memiliki kecenderungan alergi. Alergi pada anak tidak selalu sama dengan alergi pada orangtuanya. Misalnya, si bapak alergi terhadap seafood, bisa saja anaknya tidak alergi terhadap seafood tapi alergi terhadap telur atau kacang. Peluang alergi makin besar pada anak-anak yang tidak memperoleh ASI eksklusif. Oleh sebab itu, untuk mencegah alergi pada anak, orangtua sangat disarankan untuk memberi ASI terutama di usia bayi enam bulan pertama sampai dua tahun.


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


1 comment: