Monday, March 25, 2013

OBAT BATUK (1)


 

“Ada obat batuk yang paling manjur?” ini pertanyaan khas pasien yang datang ke apotek. “Mahal enggak apa-apa, asal manjur,” yang ini biasanya diucapkan oleh pasien berduit yang suka menyelesaikan masalah dengan uang. Mereka menyangka obat yang mahal pasti manjur, dan yang murah pasti tidak manjur.

Tentu saja pertanyaan seperti ini sulit dijawab. Sangat sulit. Bahkan, bisa dibilang tidak mungkin dijawab dengan menyebut satu nama obat. Apoteker bukan dukun yang selalu bisa memberi jawaban atas semua pertanyaan sulit. Tidak ada obat batuk yang paling manjur. Untuk bisa tahu obat batuk yang kita perlukan, kita harus tahu penyebab batuknya.

Hal pertama yang perlu dipahami, batuk merupakan refleks normal sistem pertahanan tubuh untuk mengeluarkan “benda asing” dari saluran napas. Dengan kata lain, batuk adalah sesuatu yang normal.

Sebagian besar batuk yang biasa kita alami sebetulnya termasuk masalah kesehatan ringan yang bisa sembuh dengan sendirinya tanpa diobati secara khusus. Biasanya disebabkan oleh virus seperti halnya flu-pilek. Batuk jenis ini tidak berbahaya meskipun tak diobati dan berlangsung selama satu sampai dua minggu. Hanya sebagian kecil batuk yang memang benar-benar membutuhkan obat. Kalaupun kita memutuskan untuk membeli obat batuk, pilihlah obat yang komposisinya memang benar-benar kita perlukan.

Gerakan batuk ini dikendalikan oleh sistem saraf pusat di otak. Refleks ini bisa disebabkan oleh infeksi virus, infeksi bakteri, alergi debu, alergi makanan, dan sebagainya. Karena itu, pemilihan obat batuk harus disesuaikan dengan penyebabnya. Batuk yang disebabkan oleh infeksi butuh obat berbeda dari batuk yang disebabkan oleh alergi.

Jenis batuk pun bermacam-macam. Ada batuk yang tidak berdahak (kita menyebutnya batuk kering), ada batuk yang disertai dahak, ada batuk yang disertai dengan sakit kepala, hidung meler dan tersumbat. Masing-masing jenis batuk ini membutuhkan penanganan yang berbeda sesuai gejalanya.

Saat ini terdapat ratusan merek obat batuk yang dijual bebas. Saking banyaknya merek dagang, apoteker pun kadang bingung, apalagi konsumen. Sebagian besar obat batuk ini masuk kategori obat bebas. Karena itu, mestinya semua kandungan obat batuk sudah dipahami oleh pembeli. Sayangnya, kebanyakan konsumen masih belum bisa membedakan fungsi berbagai jenis obat batuk.

Berdasarkan cara kerjanya, ada empat golongan utama obat yang sering digunakan di dalam obat batuk. Semua merek obat batuk yang dijual bebas mengandung paling tidak salah satu dari keempat golongan di bawah ini. 

1.      Penekan batuk (antitusif)

Secara harfiah, antitusif berarti antibatuk. (Tussis berarti batuk.) Obat golongan ini bekerja menghentikan batuk secara langsung dengan menekan refleks batuk pada sistem saraf pusat di otak. Contohnya, dekstrometorfan dan noskapin. 

2.      Pengencer dahak (ekspektoran)

Dalam kelompok ini sebetulnya ada dua subkelompok obat yaitu ekspektoran dan mukolitik. Keduanya berbeda dalam hal mekanisme kerja tapi sama-sama berfungsi mengencerkan dahak dan mempermudah pengeluarannya dari saluran napas. Secara harfiah, expectorate berarti mengeluarkan sesuatu dari dada. Dari kata ex-, yang berari keluar, dan pectoris yang berarti dada. Adapun mukolitik (mucolytic) berasal dari kata mucus yang berarti dahak dan -lysis yang berarti memecah.

Dari dua istilah ini, yang paling perlu kita ketahui adalah ekspektoran karena istilah ini banyak digunakan dalam produk obat bebas. Golongan obat ini tidak menekan refleks batuk, melainkan bekerja dengan mengencerkan dahak sehingga lebih mudah mudah dikeluarkan. Dengan demikian tidak rasional jika obat ini digunakan pada kasus batuk kering, sebab hanya akan membebani tubuh dengan efek samping.

Obat golongan ini bisa mengiritasi lambung, karena itu harus digunakan secara hati-hati, terutama sekali pada penderita sakit mag. Untuk menghindari efek buruk ini, ekspektoran harus diminum dalam keadaan perut terisi makanan. Contoh golongan obat ini antara lain bromheksin, guaifenesin (biasa disebut juga gliseril guajakolat, GG), ambroksol, karbosistein, amonium klorida, natrium sitrat. 

3.      Antialergi (antihistamin)

Antihistamin juga banyak digunakan di dalam obat flu-pilek. Lihat juga Bab Obat Alergi. Di obat batuk, antihistamin bekerja dengan cara menetralkan alergi yang menyebabkan batuk. Histamin sendiri merupakan substansi yang diproduksi oleh tubuh sebagai mekanisme alami untuk mempertahankan diri atas adanya benda asing. Adanya histamin ini menyebabkan hidung kita berair dan terasa gatal, yang biasanya dikuti oleh bersin-bersin.

Contoh obat golongan ini klorfeniramin maleat (CTM, chlor-trimeton), difenhidramin, difenhidramin, feniramin, doksilamin, dan tripolidin. Selain berfungsi melawan alergi, antihistamin juga punya aktivitas menekan refleks batuk, terutama difenhidramin dan doksilamin. Sayangnya, obat golongan ini bisa menyebabkan kita mengantuk. Karena itu hati-hati minum obat ini saat Anda harus berkendara atau melakukan aktivitas yang menuntut kewaspadaan tinggi. 

4.       Pelega Hidung (dekongestan)

Untuk pembahasan lebih lengkap, silakan baca juga Bab Obat Pelega Hidung. Obat golongan ini sering terdapat di dalam obat batuk tapi sebetulnya tidak bekerja melawan batuk, melainkan bekerja melegakan hidung tersumbat yang biasanya menyertai batuk. Dengan kata lain, jika batuk Anda tidak disertai dengan hidung tersumbat, sebaiknya jangan memilih obat batuk yang mengandung dekongestan. Buang-buang uang dan malah membahayakan karena bisa menyebabkan efek samping jantung berdebar-debar, tekanan darah meningkat, dan mungkin sampai sulit tidur. Contoh obat golongan ini, fenil propanolamin (PPA, phenyl-propanolamine), pseudoefedrin, efedrin, etilefedrin, dan fenilefrin.



Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.



1 comment:

  1. anak saya 3th menderita batuk kering kalau diberi cohistan boleh ? atau actifed ? terima kasih.- Lisa, Jakarta-

    ReplyDelete