Monday, March 25, 2013

OBAT BATUK (2)



Tabel-1 berikut bisa Anda jadikan sebagai panduan ringkas dalam memilih obat batuk.

Jika batuk Anda

Pilihlah yang mengandung
Contoh senyawa obat
Kering (tanpa disertai dahak)
Antitusif
Dekstrometorfan, noskapin
Disertai dahak
Ekspektoran
Bromheksin, gliseril guajakolat (GG, atau guaifenesin), ambroksol, karbosistein, atau ammonium klorida
Akibat alergi dan disertai dengan hidung meler
Antihistamin
Difenhidramin, klorfeniramin maleat (CTM), doksilamin, feniramin, atau tripolidin
Disertai dengan penyumbatan hidung
Dekongestan
Fenil propanolamin (PPA), efedrin, pseudoefedrin, etilefedrin, atau fenilefrin

Tabel di atas hanya memberi contoh jenis obat tapi tidak menyebutkan nama dagang. Agar tabel-1 bisa diaplikasikan ketika Anda berada di apotek, tabel-2 bisa Anda gunakan sebagai simulasi mengenali komposisi dan cara kerja berbagai obat batuk. Penyebutan nama merek dagang sama sekali bukan dimaksudkan sebagai iklan atau antiiklan. Tujuan penyebutan merek dagang semata-mata agar Anda lebih mudah mengaitkannya dengan nama-nama produk yang mungkin biasa Anda konsumsi. Pemilihan merek dagang terserah Anda.

Tabel-2: Contoh komposisi dan contoh merek dagang obat batuk:


Perhatikan, makin ke bawah makin banyak komposisinya, dan tentu saja makin besar kemungkinan efek samping dan mudaratnya. Perhatikan juga dosis per takaran. Sekalipun obatnya tunggal atau hanya berisi dua macam, bisa saja risiko efek sampingnya  lebih tinggi jika dosisnya tinggi. Sebagai contoh, dosis wajar dekstrometorfan adalah 10 mg per takaran untuk orang dewasa. Jika dosisnya sampai 15 mg per takaran, kemungkinan timbulnya efek samping juga lebih tinggi. Selain itu, produk obat batuk juga kadang berisi dua obat yang khasiatnya sama, misalnya sama-sama ekspektoran atau sama-sama punya efek menekan batuk. Jika keduanya digabung, khasiatnya memang akan lebih kuat, tapi pada saat yang sama, risiko efek sampingnya tentu juga lebih besar.

Komposisi
Merek dagang

Penekan batuk

Romilar, Bisoltussin, Code, Dexitab, Metorfan, Siladex Antitussif, Zenidex, Mercotin

Pengencer dahak

Bisolvon, Mucopect, Bisolvon Extra, Woods Expectorant, Woods Peppermint Child, Ambril, Brolexan, Bromifar, Bronex, Broncozol, Bronchopront, Broxal, Dexolut, Epexol, Extropect, Erphahexin, Farmavon, Hexolyt, Gunapect, Graxine, Hustab P, Interpec, Lapimuc, Lexavon, Limoxin, Mucera, Mucotab, Mucohexin, Mucosulvan, Mucoxol, Sohopect, Silopect, Solmux, Solvax, Solvinex, Thephidron, Transmuco

Penekan batuk & antialergi

Vicks formula 44, Woods Antitussive, Contrexyn Batuk Tidak Berdahak, Dextromex, Konidin, Scanidi, Tusilan

Penekan batuk & pelega hidung

Benadryl DMP Child, Bantif Child, Kemodryl DMP Child, Oskadryl, Triaminic Batuk

Penekan batuk & pengencer dahak

Romilar Expectorant, Vick Anak Formula 44

Pengencer dahak & antialergi

Allerin, Cohistan Expectorant, Dantusil, Decadryl Expectorant, Benadryl Cough, Hufadryl, Ikadryl, Koffex, Kemodryl, Sanadryl, Toplexil

Pengencer dahak & pelega hidung

Sudafed Expectorant, Triaminic Expectorant
Penekan batuk, antialergi & pelega hidung
Actifed DM, Actifed Plus Cough Suppressant, Alco Plus DMP, Bronchophen,  Erphakaf, Lapifed DM, Primadryl Plus, Siladex Cough & Cold

Pengencer dahak, antialergi & pelega hidung

Actifed Expectorant, Allerin Expectorant, Bufagan Expectorant, OBB, Triadex Expectorant

Penekan batuk, pengencer dahak & antialergi

Polaramine Expectorant, Benacol DTM, Codecon, Grantusif, Kalibex, Komix, Sanadryl DMP

Penekan batuk, pengencer dahak, antialergi & pelega hidung

Benadryl DMP, Anakonidin, Cosyr, Cough EN Plus, Dextral, Ersylan, Ikadryl DMP, Kemodryl Plus DMP, Mixadin, Mucotussan, Pyridryl Plus, Quelidrine, Lapifed Expectorant, Tuseran, Tussigon

Contoh kombinasi obat batuk dengan parasetamol bisa dilihat di Bab Obat Flu-Pilek.

Dari Tabel-2 ini Anda bisa melihat cara kerja masing-masing obat batuk. Masing-masing obat batuk punya cara kerja yang berbeda-beda. Jadi, tidak ada obat batuk yang paling manjur. Tiap kali Anda mau minum obat batuk, selalu biasakan lihat dulu kemasannya. Baca apa saja isinya supaya Anda bisa tahu bagaimana cara kerjanya. Jangan percaya kalau ada yang menyebut satu merek dagang sebagai obat yang paling manjur.

Sama seperti obat flu-pilek, obat batuk sebetulnya juga dibuat untuk orang dewasa, dan tidak dianjurkan untuk diberikan pada anak-anak, terutama di bawah usia dua tahun. Baca juga Bab Obat Pada bayi danAnak.

Obat Batuk Hitam

Salah satu produk obat batuk yang cukup populer di Indonesia adalah Obat Batuk Hitam (OBH). Obat ini termasuk golongan obat tradisional yang berisi Succus liquiritiae, ekstrak tanaman akar manis (Glycyrrhiza glabra). Secara empiris, ekstrak tanaman ini berkhasiat meredakan batuk meskipun mekanisme kerjanya belum diketahui secara detail seperti mekanisme kerja dekstrometrofan atau bromheksin. Baca juga Bab Obat Tradisional (1-6).

Obat Batuk Cair vs. Padat

Secara umum, obat batuk cair (sirup) lebih mudah diserap daripada bentuk padat (tablet atau kapsul). Ini karena dalam sediaan cair, senyawa obat sudah berada dalam bentuk molekul terkecilnya. Sementara yang bentuknya padat memerlukan waktu untuk dipecah menjadi satuan-satuan kecil.

Namun kelemahannya, obat cair lebih mudah terurai dibandingkan obat padat selama masa penyimpanan. Karena itu saat membeli, pastikan batas kedaluwarsanya masih lama. Soal khasiat, keduanya tidak berbeda sepanjang memenuhi persyaratan minimal standar obat yang baik.

Obat Batuk Sapu Jagat

Pada umumnya kita fanatik pada satu merek obat untuk semua jenis batuk. Ini bukanlah kebiasaan yang baik. Akan lebih baik jika memilih obat sesuai dengan gejalanya, bukan obat “sapu jagat” yang berisi semua golongan di atas.

Semakin banyak obat yang masuk ke dalam tubuh, semakin banyak efek samping yang terjadi. Sebagai contoh, jika batuk tidak disertai dengan penyempitan saluran napas, pemakaian PPA hanya akan menambah efek samping jantung berdebar, dan bahkan peningkatan tekanan darah yang bisa membahayakan penderita hipertensi. Kebiasaan minum obat sapu jagat sebaiknya dihindari, terutama untuk anak-anak.

Yang tak kalah penting untuk diingat, batuk bisa menyertai berbagai penyakit, seperti flu, alergi, asma, bronkitis, TBC, pneumonia (radang paru), atau infeksi lain. Karena itu jika batuk berlangsung lebih dari seminggu dan tidak berhenti meskipun sudah diobati macam-macam, ingat pesan iklan, “Segera hubungi dokter”.




No comments:

Post a Comment