Sunday, January 13, 2013

OBAT BUAT IBU MENYUSUI (1)



Sebisa mungkin, orangtua sangat dianjurkan untuk memberikan ASI kepada buah hatinya, terutama ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Namun, sebagian besar obat yang diminum ibu menyusui bisa masuk ke dalam ASI. Ada yang kadarnya besar, ada pula yang kadarnya kecil. Sebagian di antaranya tidak berbahaya, sebagian lainnya mungkin berisiko buruk bagi bayi.
Contoh, antibiotik golongan kotrimoksazol bisa menyebabkan bayi kuning. Obat golongan estrogen bisa menyebabkan penurunan produksi ASI. Estrogen biasanya terdapat di dalam pil KB (kontrasepsi oral) atau obat hipertensi golongan diuretik tiazida. Sebagian besar obat golongan antihistamin bisa menyebabkan bayi mengantuk. Antihistamin biasanya terdapat di dalam obat alergi, obat flu-pilek, atau obat batuk. Ini hanya beberapa contoh bahwa apa yang diminum si ibu bisa menimbulkan efek merugikan buat si bayi.
Karena alasan kesehatan bayi itulah, selama menyusui, si ibu dianjurkan sebisa mungkin untuk tidak minum obat. Caranya, tentu saja dengan menjaga kesehatan secara ketat. Jika berdasarkan pengalaman, gorengan atau makanan tertentu bisa menyebabkan batuk atau radang tenggorokan, maka si ibu sebisa mungkin harus menghindarinya. Demi cinta kepada buah hati, menghindari makanan tertentu selama menyusui tentu bukan perkara besar.
Biasanya aktivitas menyusui dan merawat bayi membuat ibu kecapekan dan mungkin menyebabkan daya tahan tubuhnya turun. Jika si ibu kurang istirahat, ia bisa memberi ASI sambil tiduran. Untuk mengganti cairan yang ASI yang keluar, si ibu sebaiknya minum cairan setiap kali habis menyusui.

Pilih Obat Tunggal
Jika si ibu sudah berusaha keras menjaga kesehatan tapi tetap sakit, ia disarankan sebisa mungkin mengobati sakitnya dengan cara non-farmakologis (tanpa minum obat). Kalaupun terpaksa minum obat, pilihlah obat tunggal yang memang aman untuk ibu menyusui.
Hindari obat-obatan yang kandungannya berupa kombinasi bermacam-macam zat aktif. Ini misalnya banyak kita jumpai di dalam obat flu dan obat batuk yang banyak dijual bebas. Sebagai contoh, obat-obat flu dan batuk mungkin saja berisi campuran parasetamol, dekstrometorfan, fenilpropanolamin, gliserilguajakolat, dan CTM. Sebagian isi obat ini sangat mungkin tidak diperlukan si ibu.
Komposisi obat ini secara mudah bisa kita baca di kemasan atau brosurnya. Makin banyak kandungan obat yang diminum si ibu, makin besar risiko si bayi mengalami efek merugikan. Jika si ibu memerlukan obat penurun demam atau pereda nyeri dan sakit kepala, ia bisa minum obat yang isinya parasetamol tunggal. Bukan yang campuran dengan beberapa jenis obat lain. Jika kita tidak tahu merek dagang obat yang isinya tunggal, kita bisa bertanya di apotek. Sekali lagi, prinsipnya, batasi hanya minum obat yang memang diperlukan saja.
Informasi kemananan suatu obat buat ibu menyusui biasanya tercantum di dalam brosur yang ada di kemasan obat. Kadang, informasi hanya menyebutkan keamanan pada ibu hamil. Pada umumnya, obat yang tidak aman buat ibu hamil juga tidak aman buat ibu menyusui.
Perlu tidaknya ibu menyusui minum obat harus selalu didasarkan pada pertimbangan rasio antara risiko dan manfaat. Harus ditimbang, seberapa besar risiko buat bayi dan seberapa besar manfaat buat si ibu. Ini patokan umum dalam ilmu kedokteran. Si ibu diperbolehkan minum obat hanya jika memang risiko buat si bayi bisa lebih kecil daripada manfaat yang didapat si ibu. 

Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


No comments:

Post a Comment