Wednesday, January 23, 2013

OBAT BUAT IBU HAMIL (4)


8.       Obat mag. FDA menggolongkan obat-obat antasida yang berisi kombinasi aluminium hidrosida dan magnesium hidroksida ke dalam kategori B, alias boleh digunakan. Simetikon (komponen obat mag yang berfungsi mengikat gas di lambung) digolongkan ke dalam kategori C. Tapi karena obat ini tidak diserap, maka FDA menganggapnya sebagai obat yang aman (generally regarded as safe, GRAS).

Jadi, obat mag yang berisi dua atau tiga komponen di atas termasuk kategori aman. Contoh merek dagang yang beredar di Indonesia: Promag®, Mylanta®, Maalox®, Antasida DOEN®, Madrox®, Polycrol®, Polysilane®, dsb. (Lihat juga Bab Obat Mag)
Obat mag golongan simetidin, ranitidin, dan famotidin sebaiknya dihindari kecuali atas resep dokter. Ketiga obat ini biasanya digunakan untuk sakit mag yang agak berat. Dalam pengelompokan FDA, ketiga obat ini termasuk kategori B. Boleh digunakan tapi harus sangat hati-hati, terutama di trimester pertama, karena obat-obatan ini bisa masuk ke peredaran darah janin lewat plasenta.

9.      Obat perut kembung. Jika perut kembung disebabkan oleh mag, obat-obat mag di atas bisa digunakan. Jika perut kembung disebabkan oleh kurangnya enzim cerna, obat-obat dari golongan enzim cerna seperti amilase, protease, lipase, pankreatin bisa digunakan. Contoh merek dagang: Enzyplex®, Enzimfort®, Vitazym®, Librozym®, Pankreaoflat®.
   
Sebaiknya hindari suplemen yang mengandung bromelain. Bromelain adalah enzim yang juga banyak terdapat di dalam buah nanas, yang berfungsi membantu pencernaan protein.

10.      Obat diare. Sesuai aturan pertama, usahakan sebisa mungkin untuk tidak menggunakan obat. Diare sendiri merupakan refleks tubuh untuk membuang sesuatu yang dianggap berbahaya dari saluran cerna. Sesuatu yang berbahaya itu bisa kuman (virus, bakteri, protozoa), toksin (racun), makanan yang mengiritasi, atau komponen makanan yang tidak bisa dicerna.

Sebagian diare bisa berhenti dengan sendirinya tanpa diberi obat. Pada dasarnya diarenya sendiri tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah dehidrasinya, alias kekurangan cairan. Itu sebabnya, “obat” pertama yang harus diminum adalah oralit. (Lihat juga Bab Obat Diare)

Jika diperlukan, pilihlah obat obat diare yang tidak diserap, misalnya karbon aktif, kaolin, attapulgit, dan pektin. Obat-obat ini aman buat ibu hamil karena tidak diserap ke peredaran darah.

Karbon aktif bekerja dengan cara menyerap (meng-adsorbsi) toksin penyebab diare di usus. Contoh merek dagang karbon aktif: Norit®, Bekarbon®. Sekalipun obat jadul, karbon aktif tetap merupakan obat pilihan dalam diare, terutama dalam urusan safety. Ditelan sepuluh butir pun aman.

Kaolin bekerja dengan cara menyerap toksin penyebab diare. Attapulgit bekerja dengan cara melapisi permukaan usus sehingga tidak berkontak langsung dengan bahan penyebab diare. Sementara pektin bekerja dengan cara memadatkan tinja. Meski relatif aman, pektin tetap bisa menimbulkan efek samping, misalnya sembelit karena tinja menjadi terlalu padat.

Contoh merek dagang yang berisi kombinasi kaolin dan pektin: Kaopectate®, Neo Kaolana®, Guanistrep®, Kaotin®, Kanina®, Kaolimec®, Omegdiar®. Contoh merek dagang yang berisi attpulgit saja atau attapulgit plus pektin: Neo Entrostop®, New Diatabs®, Diagit®, Molagit®, Kaotate®, Biodiar®.

Jika penyebab diare adalah infeksi atau sesuatu yang tak bisa diadsorpsi (diserap), obat-obat di atas biasanya kurang efektif, bahkan bisa menyebabkan risiko sembelit akibat pektin. Bila diare berlanjut atau malah menjadi sembelit, sebaiknya ibu hamil pergi ke dokter. Hindari penggunaan obat diare yang berisi loperamid, kecuali atas resep dokter.

Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.



No comments:

Post a Comment