Friday, January 25, 2013

OBAT BUAT IBU HAMIL (2)



Di bawah ini, contoh obat-obat yang aman buat ibu hamil. Sekalipun obat-obat berikut ini dikategorikan aman, ibu hamil sebaiknya tetap berkonsultasi kepada dokter sebelum meminumnya. Sebab, aman bagi kebanyakan orang belum tentu aman buat seseorang.   

1.       Obat pereda nyeri dan demam (analgesik-antipiretik).
Obat paling aman dalam kategori ini adalah parasetamol. Ibu hamil sebaiknya menghindari ibuprofen, kecuali atas resep dokter. Pemakaian reguler ibuprofen bisa mempengarui pertumbuhan pembuluh darah bayi dan menyebabkan hipertensi di paru-paru bayi.

Begitu pula asetosal (aspirin). Ibu hamil sebaiknya menghindari obat ini, kecuali atas resep dokter. Asetosal bisa meningkatkan risiko perdarahan pada ibu bersalin jika diminum menjelang bersalin.

2.      Obat alergi/antihistamin. Menurut Mayo Clinic, antihistamin pilihan pertama buat ibu hamil adalah loratadin. Namun, menurut FDA, antihistamin pilihan pertama adalah klorfeniramin (CTM) dan difenhidramin. Sekalipun dikelompokkan aman, obat-obat ini hanya boleh dikonsumsi dalam jangka pendek. Tidak boleh sampai berhari-hari. Bagaimanapun, bayi adalah makhluk hidup yang bisa merasakan efek samping kantuk dari CTM atau difenhidramin.

Dan, sekali lagi, sebisa mungkin hindari obat yang diminum. Jika kita mengalami alergi akibat sesuatu yang bersentuhan dengan kulit, sebaiknya kita berusaha mengobatinya dengan obat-obat yang digunakan secara lokal (topikal) alias dioleskan atau ditaburkan di kulit. Misalnya, sebelum memutuskan minum CTM atau difenhidramin, lebih baik mencoba bedak obat kulit lebih.

3.      Obat mual. Obat ini paling sering ditanyakan ibu hamil. Sesuai aturan pertama, sebisa mungkin usahakan melawan mual-muntah dengan cara non-obat. Misalnya:
·         Makan dan minum sedikit-sedikit tapi sering.
·         Hindari pemicunya, misalnya bau-bauan, kondisi stres, kecapekan, dan sejenisnya.
·         Istirahat yang cukup.
·         Pijat, terutama pijat oleh suami.
·         Jika perlu, manfaatkan jahe. Obat tradisional ini tergolong aman. Pemakaiannya bisa dengan cara direbus lalu diminum air rebusannya atau dimemarkan lalu dikulum dan disesap pelan-pelan.
Jika memang sangat diperlukan, obat seperti difenhidramin bisa menjadi pilihan untuk pemakaian sesekali. Ini golongan antihistamin yang juga berkhasiat antimual. Jika ibu hamil terus-terusan mengalami mual dan muntah, sebaiknya konsultasikan ke dokter. Bagaimanapun, janin adalah makhluk individu yang bisa merasakan efek samping difenhidramin.

4.      Obat sembelit. Susah buang air besar (BAB) juga merupakan salah satu masalah yang lazim dialami ibu hamil. Sembelit terjadi karena terjadinya perubahan hormonal di dalam tubuh ibu, juga karena tekanan dari kandungan terhadap usus besar. Sembelit bisa juga disebabkan oleh pil zat besi dosis tinggi.

Sesuai aturan pertama, sebisa mungkin atasi sembelit dengan cara-cara non-obat. Perbanyak konsumsi air dan serat (sayur dan buah-buahan). Minum air hangat di pagi hari. Usahakan tetap aktif dengan melakukan olahraga ringan, misalnya jalan kaki, olah napas, yoga, renang, bersepeda statis, dan olahraga lain yang tidak membahayakan janin. Aktivitas fisik bisa merangsang usus besar tetap aktif. Jika penyebabnya adalah karena kebanyakan pil zat besi, hentikan sementara konsumsinya.   

Apabila semua cara sudah dilakukan dan masih saja sembelit, ibu hamil bisa memilih obat sembelit dari golongan pelunak dan pelicin (lihat Bab Obat Sembelit). Contoh obat: laktulosa (misalnya Dulcolactol®, Duphalac®, Lactulax®, Lantulos®, Laxadilac®, Opilax®, Solac®), natrium lauril sulfat/sulfoasetat, PEG, dan sorbitol (misalnya Microlax®, Laxarec®).

Sebisa mungkin hindari penggunaan obat yang mengandung bisakodil kecuali atas resep dokter. Jika memang kita terpaksa mengonsumsi bisakodil, pilihlah obat yang dimasukkan ke dalam dubur (supositoria), bukan yang diminum.

Jika sembelit terus berulang selama kehamilan, sebaiknya konsultasikan ke dokter. Hindari penggunaan obat sembelit yang berulang-ulang. Sekalipun aman, dalam jangka pajang obat-obat ini tetap bisa menimbulkan efek samping. Sebagai contoh, minyak mineral bisa mengurangi penyerapan vitamin-vitamin yang diperlukan oleh janin. Begitu pula penggunanaan laktulosa jangka panjang mungkin bisa mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.  

Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


No comments:

Post a Comment