Friday, March 22, 2013

OBAT DIARE (1)




Dalam ilmu kesehatan masyarakat, diare—alias mencret, murus, berak air, buang-buang air, mencuru, mencirit—termasuk golongan common problems. Penyakit umum yang sering terjadi, seperti flu-pilek dan batuk. Obat diare pun banyak yang termasuk kategori obat bebas, bisa didapatkan di toko-toko dan apotek tanpa resep dokter.

Berdasarkan survei Top Brand Award 2012 yang dilakukan oleh lembaga riset Frontier dan majalah Marketing, dua merek obat diare yang paling laris adalah Diapet® (buatan PT Soho Industri Pharmasi) dan Neo Entrostop® (buatan PT Kalbe Farma). 

Pada umumnya setiap orang punya satu merek obat andalan untuk diare. Merek inilah yang akan diminum setiap terserang diare, tanpa memperhitungkan penyebabnya. Yang sudah biasa minum Diapet® biasanya akan selalu memilih Diapet® tiap kali terserang diare. Begitu juga, yang sudah biasa minum Entrostop® biasanya akan selalu memilih Entrostop® apabila terkena diare. Padahal, penyebab gangguan ini bisa bermacam-macam, dan karena itu sebetulnya tidak ada satu pun obat universal untuk segala macam kasus diare.

Sebelum kita membahas obat diare, mari kita bahas dulu biang keladi yang paling sering menjadi penyebabnya.

Secara alami, usus melakukan gerakan peristaltik (gerakan teratur memeras sari pati makanan agar bisa diserap oleh tubuh). Gerakan inilah yang menyebabkan ampas makanan terdorong ke belakang sebagai feses (air besar).

Jika terjadi abnormalitas di usus, gerakan peristaltik menjadi semakin cepat. Akibatnya, frekuensi pengeluaran feses juga ikut meningkat bersama air. Biang keladi abnormalitas itu bermacam-macam, antara lain:

              Racun dari makanan atau minuman.
              Bahan makanan yang mengiritasi, misalnya makanan yang terlalu pedas.
              Infeksi virus, bakteri, jamur, atau protozoa. Bakteri penyebab infeksi pun bisa bermacam-macam. Contoh yang paling sering menjadi penyebab diare adalah Escherichia coli. Bakteri ini sebetulnya merupakan bakteri normal di usus yang tidak merugikan. Kuman ini bisa menyebabkan diare jika menjadi ganas dan populasinya melebihi normal.
              Makanan yang sulit dicerna, misalnya daging yang belum matang. Bahkan, makanan atau minuman lazim seperti susu pun bisa menyebabkan diare. Ini sering terjadi pada orang-orang (terutama anak-anak) yang kekurangan enzim laktase. Enzim ini diperlukan untuk memecah laktosa (gula susu). Saat mereka minum susu, organ cerna mereka tidak sanggup mencernanya sehingga menyebabkan diare. Selain itu, protein susu sapi juga bisa menjadi biang alergi yang memicu diare.
              Ketidakseimbangan bakteri usus, misalnya akibat terlalu banyak minum antibiotik.
              Kecemasan, stres, dan perubahan internal tubuh lainnya.

Ringkasnya, diare bisa disebabkan oleh bermacam-macam faktor. Maka pengobatanya pun tentu saja berbeda-beda, tergantung penyebabnya. Tak ada satu pun merek obat yang bisa mengatasi semua jenis diare di atas.
Berdasarkan cara kerjanya, obat diare bisa dibagi ke dalam tiga kelompok besar:

1.            Adsorben

Secara harfiah, adsorben berarti bahan penyerap, dari kata adsorb yang berarti menyerap di permukaan. (Berbeda dari absorb yang berarti menyerap sampai ke dalam). Adsorben bekerja mengatasi diare dengan cara mengikat kuman atau toksin (racun) di saluran cerna, supaya tidak bersentuhan dengan permukaan usus. Jika toksin dan kuman ini kontak dengan usus, gerakan peristaltik usus secara otomatis akan meningkat sebagai refleks alami untuk mengeluarkan racun itu. Obat yang masuk dalam golongan ini antara lain karbon aktif, attapulgit, pektin, dan kaolin.

Karena cara kerjanya menyerap kuman dan toksin, obat golongan ini hanya berguna jika penyebab diare adalah infeksi ringan atau toksin. Jika penyebabnya adalah perubahan internal tubuh, misalnya karena cemas, stres, atau depresi, obat-obat ini tidak lagi efektif.

Contoh merek dagang yang cukup populer antara lain: Neo Entrostop® (berisi attapulgit dan pektin), Norit® (berisi karbon aktif), Diatabs® (attapulgit). Obat-obat ini termasuk golongan obat bebas yang paling banyak beredar di pasaran. Relatif aman, bisa diminum oleh anak-anak, ibu hamil, juga ibu menyusui.

2.            Antiinfeksi

Jika diare disebabkan oleh infeksi berat, biasanya obat golongan adsorben saja tidak cukup untuk menghentikannya. Harus ada obat lain yang tidak sekadar mengikat kuman, tetapi juga berfungsi sebagai antimikroba pembasmi kuman, misalnya antibiotik. 

Semua antibiotik untuk diare termasuk kategori obat resep! Itu sebabnya, untuk kasus infeksi berat, sebaiknya penderita memeriksakan diri ke dokter. Apalagi jika diare disertai dengan demam atau adanya darah di dalam tinja. Dua gejala ini menunjukkan bahwa diare tersebut bukan diare biasa. (Lihat juga Bab Antibiotik)


3.            Penghambat Peristaltik Usus

Obat utama golongan ini adalah loperamida. Sekadar menyebut, contoh merek dagang yang populer adalah Imodium®. Harap dicatat, ini bukan golongan obat bebas seperti obat flu. Obat ini harus digunakan dengan sangat hati-hati.

Obat golongan ini bekerja dengan cara menghambat gerak peristaltik usus dan meningkatkan penyerapan kembali cairan di usus besar. Jadi, tidak membasmi kuman, tidak mengikat toksin. Oleh karena cara kerjanya demikian, loperamida tidak tepat jika digunakan untuk kasus diare akibat infeksi atau toksin dari makanan atau minuman. Sebab, jika gerakan usus dihambat, kuman atau toksin tersebut justru tertahan di saluran cerna dan tidak bisa dikeluarkan.


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.




No comments:

Post a Comment