Wednesday, March 27, 2013

OBAT FLU-PILEK (2)



Di pasar, merek dagang obat flu jumlahnya bejibun. Harap maklum, permintaan pasar memang sangat tinggi. Pabrik-pabrik farmasi berlomba membuat produk obat flu. Semua diklaim paling manjur.

Sebetulnya, apa sih beda satu obat flu dengan obat lain? Untuk tahu jawabannya, pertama-tama kita harus tahu isinya. Secara umum, obat flu-pilek biasanya berisi:

1.       Analgesik-antipiretik.

Ini istilah medis untuk obat yang khasiatnya meredakan nyeri (analgesik) dan menurunkan demam (antipiretik). Baca juga Bab Obat Sakit Kepala & Nyeri. Obat flu berisi pereda nyeri karena memang salah satu gejala flu yang mungkin timbul adalah sakit kepala. Adapun kandungan antipiretik dimaksudkan untuk menurunkan gejala panas badan (demam) yang menyertai flu.

Dalam tulisan-tulisan medis, istilah analgesik biasanya berpasangan dengan antipiretik. Ini karena obat yang berkhasiat meredakan nyeri biasanya juga berkhasiat menurunkan demam. Contoh golongan obat ini antara lain parasetamol dan asetosal. Di kemasan obat, parasetamol kadang ditulis sebagai asetaminofen, sedangkan asetosal kadang ditulis dalam versi panjangnya, asam asetil salisilat.

2.      Dekongestan (Pelega Hidung)

Obat golongan ini bekerja melegakan hidung tersumbat. Istilah dekongestan berasal dari kata de- yang berarti menghilangkan, dan congest yang merujuk pada penyumbatan saluran hidung. Contohnya fenil propanolamin dan pseudoefedrin. Mungkin telinga kita tidak begitu familiar dengan nama fenil propanolamin. Ya, obat ini memang lebih dikenal sebagai PPA, singkatan dari phenyl-propanolamine. PPA inilah bahan obat yang sempat berkali-kali diributkan karena adanya berita bahwa obat ini ditarik dari pasar. Untuk lebih jelasnya, silakan baca Bab PPA & Obat Pelega Hidung.

3.      Antihistamin (Obat Alergi)

Obat ini bekerja dengan cara menetralkan histamin. Histamin sendiri adalah bahan yang bertanggung jawab terhadap timbulnya gejala flu-pilek seperti hidung meler dan bersin-bersin. Contoh obat golongan ini klorfeniramin maleat, difenhidramin, tripolidin, bromfeniramin maleat.

Dari sekian banyak contoh antihistamin di atas, yang paling banyak digunakan adalah klorfeniramin maleat. Nama ini mungkin tidak begitu akrab di telinga awam. Dalam bahasa sehari-hari, kita mengenalnya dengan sebutan CTM, singkatan dari chlor-trimeton, nama lain klorfeniramin maleat. CTM, klorfeniramin maleat, chlor-trimeton, semuanya setali tiga uang alias sami mawon.

Selain punya khasiat antialergi, antihistamin juga punya khasiat sampingan menekan refleks batuk dan efek samping membuat kantuk. Itu sebabnya, saat minum obat flu yang mengandung antihistamin, kita disarankan untuk tidak mengendarai kendaraan bermotor karena obat ini bisa menyebabkan kantuk dan mengurangi konsentrasi.

Obat flu hanya akan menyebabkan kantuk kalau ia berisi golongan antihistamin, misalnya CTM dan kawan-kawan. Kalau tidak mengandung antihistamin, obat flu biasanya tidak menyebabkan kantuk. Jadi, agar kita tidak mengantuk, pilihlah obat flu yang tidak mengandung kelompok antihistamin.

 4.      Obat batuk

Karena flu kadang disertai batuk, banyak produk obat flu mengandung obat batuk. Ada dua kelompok besar obat batuk, yaitu penekan batuk (antitusif) dan pengencer dahak (ekspektoran). Antitusif bekerja langsung di otak dengan cara menekan sistem refleks batuk. Contoh obat, dekstrometorfan dan noskapin.

Sementara ekspektoran bekerja dengan cara membantu mengurangi kekentalan dahak sehingga lebih mudah dikeluarkan. Contoh obat, bromheksin, guaifenesin (biasa disebut juga gliseril guajakolat, GG), ambroksol, dan karbosistein. Untuk penjelasan lebih detail, baca Bab Obat Batuk.

* * *

Obat flu-pilek umumnya berisi satu atau beberapa jenis obat golongan di atas. Kadang, satu tablet berisi semua jenis obat di atas. Di Indonesia, sebagian pabrik farmasi punya kecenderungan untuk membuat satu obat berisi bermacam-macam kombinasi bahan aktif. Obat “sapu jagat” semacam ini memang bisa sangat laris karena banyak orang membelinya. Namun, dari sisi keamanan terapi, cara ini sebetulnya tidak sesuai dengan kaidah farmasi yang baik. Harusnya pencampuran obat dilakukan seminimal mungkin untuk menghindari interaksi obat dan efek samping yang tidak perlu.

Sebaiknya pilihlah obat yang isinya memang benar-benar kita butuhkan. Jangan membiasakan diri minum obat sapu jagat. Sebagai contoh, jika pileknya tidak disertai dengan sakit kepala atau demam, kita tak perlu minum obat flu-pilek yang berisi parasetamol. Jika flu kita tidak disertai penyumbatan saluran napas, tak perlu minum obat yang mengandung PPA atau pseudoefedrin. Ingat, obat sejatinya adalah racun. Makin banyak kita minum obat, artinya makin banyak kita minum racun—sesuatu yang tidak kita perlukan dan hanya akan membebani tubuh.

Obat-obat flu-pilek di pasaran sebagian besar dalam bentuk kombinasi yang berisi dua, tiga, empat, bahkan lima jenis obat dari kelompok parasetamol (antinyeri-antidemam), CTM (antialergi), PPA (pelega hidung), dekstrometorfan (penekan batuk), ekspektoran (pengencer dahak). Dari sisi keamanan, makin banyak kombinasinya, makin besar efek samping dan mudaratnya. Karena itu, sebagai pedoman umum: gunakan obat yang memang kita perlukan saja.


Jika gejala flu berupa

Pilihlah Obat yang Mengandung
Bersin-bersin, hidung meler ringan, batuk ringan

Hidung meler sampai tersumbat
Demam atau sakit kepala
Batuk kering
Batuk berdahak


Biasanya saat kita mengalami flu-pilek, jarang sekali semua gejala di atas muncul bersamaan. Pada umumnya hanya dua atu tiga saja saja gejalanya. Karena itu, kalau memang harus menggunakan obat flu, pilih obat yang memang kita perlukan saja sesuai gejala. Sebagai contoh, kalau flu-pilek tidak disertai batuk, buat apa membeli obat batuk yang mengandung ekspektoran atau antitusif? Begitu pula kalau meler hidung kita tidak sampai membuat hidung tersumbat, tak ada gunanya kita membeli obat flu yang mengandung dekongestan. Obat-obat yang tidak kita perlukan ini hanya akan membebani tubuh dengan efek samping.

Dari tabel berikut kita bisa melihat, makin ke bawah, makin banyak kandungan obatnya, dan tentu saja makin banyak kemungkinan efek samping dan mudaratnya. Perhatikan juga dosisnya. Sebagian produk mengandung pseudoefedrin 30 mg per takaran, sebagian lainnya mengandung 60 mg. Sebagai pilihan pertama, gunakan yang dosisnya 30 mg per takaran. Jika menggunakan produk pseudoefedrin 60 mg, hati-hati terhadap risiko efek sampingnya seperti jantung berdebar-debar atau susah tidur.

Komposisi obat
Contoh merek dagang






2 jenis
Antialergi & pelega hidung

Actifed, Alerfed, Crofed, Flutrop, Grafed, Lapifed, Librofed, Mertisal, Protifed, Nichofed, Nostel, Protifed, Quantidex, Tremenza, Trifed, Trifedrin, Valved, Zentra, Alco Plus, Aldisa SR, Bodrexin Pilek Alergi, Cirrus, Rhinofed, Rhinos Junior, Rhinos SR, Clarinase, Cronase, Fexofed, Telfast Plus, Triaminic Pilek, Nalgestan
Penekan batuk & pelega hidung
Bantif Child, Triaminic Batuk & Pilek
Pengencer dahak & pelega hidung
Triaminic Expectorant & Pilek
Parasetamol & pelega hidung
Sanaflu, Topras






3 jenis
Parasetamol,
antialergi & pelega hidung
Contrex, Corhinza, Colpica, Decolgen FX, Decolgen Syrup, Decolgen Tablet, Deconal, Fludane, Flurin, Flu-Tab, Mixagrip, Molexflu, Panadol Cold & Flu Night, Paranomin, Procold, Refagan, Trifedrin Plus, Extra-Flu, Flunax
Parasetamol, pelega hidung & penekan batuk
Bodrex Flu & Batuk, Panadol Cold & Flu, Recomint, Sanaflu Plus Batuk, Ultragrip
Antialergi, pelega hidung & penekan batuk
Actifed Plus Cough Suppressant, Lapifed DM, Alco Plus DMP, Hustadin, Noscapax, Tuseran Pedia DMP
Antialergi, pelega hidung & pengencer dahak
Actifed Plus Expectorant, Gifed Expectorant, Lapifed Expectorant, Valved DM, Berlifed, Polaramine Expectorant
Parasetamol, antialergi & pengencer dahak
Hustab, Kidikol, Pinkid's Cough




4 jenis
Parasetamol, antialergi, 
Pelega hidung & penean batuk
Alpara, Anadex, Antiza, Corsagrip, Flu Stop, Fludane Plus, Fludexin, Flurin Dmp, Flutamol P, Lacoldin, Kontrabat, Mixaflu, Tuzalos, Frigrip
Parasetamol, antialergi, 
Pelega hidung & pengencer dahak
Anacetine, Bestocol, Bisolfon Flu, Bronchitin, Bodrexin Syrup, Bodrexin Flu & Batuk, Bodrex Flu & Batuk Berdahak, Bycolen, Flutamol, Frigrip, Ikadryl Flu, Kafsir, Oskadon Flu & Batuk Berdahak, Ponflu, Supra Flu, Stop Cold, Ikadryl Flu, Combi Flu
Antialergi, pelega hidung, antibatuk & pengencer dahak
Dextral, Dextrosin

5 jenis
Parasetamol, antialergi, pelega hidung, antibatuk &
pengencer dahak
Sebetulnya di kolom ini masih ada contoh produk-produk obat “sapu jagat” yang berisi lima jenis obat. Demi alasan keamanan, sebaiknya hindari penggunaannya kecuali tidak ada pilihan yang lebih aman, yang komposisinya memang benar-benar kita butuhkan.

Satu hal lagi yang perlu diingat: apa pun penyakit kita, jangan pernah lupa pedoman umum berobat: jika sakit berlanjut, segera hubungi dokter.


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.



3 comments: