Saturday, March 16, 2013

OBAT HIPERTENSI (1)



Di Indonesia, penyakit yang oleh orang-orang tua zaman dulu disebut “bludrek” ini termasuk salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi tapi tidak disadari. Menurut riset Kementerian Kesehatan, sekitar 30% orang dewasa memiliki tekanan darah di atas normal.
Yang lebih mengejutkan lagi, tiga perempat dari mereka yang menderita hipertensi tidak menyadarinya. Dengan kata lain, banyak dari kita yang sudah memiliki hipertensi tapi mengabaikannya. Ini terjadi karena hipertensi stadium awal umumnya memang tidak menimbulkan gejala sakit yang jelas. Gejalanya baru akan terasa jelas saat stadiumnya sudah lanjut.
Tinggi rendahnya tekanan darah ditentukan oleh dua hal, yaitu volume darah dan kelenturan pembuluh darah. Pada orang sehat, pembuluh darah seperti selang elastis yang diameternya mudah menyesuaikan diri dengan volume darah. Tapi pada sebagian orang, elastisitas pembuluh darah ini menurun, misalnya akibat lapisan kerak kolesterol yang melekat selama bertahun-tahun. Karena dinding tidak lagi elastis, tekanan cairan darah yang melewatinya pun menjadi lebih tinggi. Apalagi jika jumlah cairan darahnya lebih banyak. Kondisi inilah yang disebut tekanan darah tinggi.
Tekanan darah dinyatakan dengan satuan mmHg, dalam dua angka yang dipisah oleh tanda garis miring, misalnya 120/80. Angka pertama menyatakan tekanan saat jantung memompa darah. Angka kedua menyatakan tekanan ketika jantung berhenti sesaat sebelum memompa darah lagi. Tekanan darah yang sehat berkisar di angka 120/80.
Jika tekanan darah seseorang mencapai 140/90, kondisi itu sudah bisa disebut hipertensi. Pada stadium awal, tekanan darah sebesar ini mungkin tidak menimbulkan masalah kesehatan apa-apa. Itu sebabnya banyak yang tidak menyadarinya. Jika dibiarkan saja tanpa perubahan pola hidup, hipertensi ini bisa menjadi lebih parah. Gejalanya berawal dari seringnya sakit kepala, pusing, vertigo, dan kalau kronis bisa menyebabkan gangguan fungsi ginjal, payah jantung, hingga serangan jantung atau stroke.
Hingga sekarang, ilmu kedokteran modern masih menganggap hipertensi sebagai penyakit yang BELUM BISA disembuhkan. Ini memang kabar buruk. Tapi kabar baiknya, penyakit ini bisa dikendalikan dengan baik sehingga penderitanya bisa hidup sehat walafiat. Caranya dengan menerapkan pola hidup sehat, pola makan sehat, dan olahraga teratur. Bila hipertensinya cukup parah, selain harus menerapkan pola hidup di atas, pasien juga harus minum obat... seumur hidup! Seumur hidup? Ya, sepanjang hayat dikandung badan. Memang seperti inilah faktanya—jika kita bicara dengan kaca mata medis.
Karena itu, dalam ilmu medis, istilah “mengobati” hipertensi tidak berarti menyembuhkannya tapi mengendalikannya. Dan yang disebut sebagai “obat hipertensi” itu bukanlah obat yang menyembuhkan darah tinggi, yang diminum beberapa kali lalu penyakit sembuh. Obat hipertensi hanya mengendalikan tekanan darah. Penyakit hipertensinya sendiri tidak lantas sembuh. Karena itu, obat harus diminum terus-menerus.
Ini poin penting yang harus disadari oleh penderita. Minum obat seumur hidup mungkin terdengar seperti berita buruk, tapi kita bisa melihat berita baiknya, yaitu bahwa penyakit ini bisa dikendalikan sehingga kita bisa hidup sehat, segar bugar.
Sekali lagi, yang dibicarakan di sini adalah standar dalam ilmu kedokteran modern. Kalau kita bicara dengan standar lain, katakanlah ilmu pengobatan tradisional, mungkin saja kita akan mendapat pendapat yang berbeda. Banyak herbalis, sinse, tabib, dan ahli-ahli pengobatan tradisional percaya bahwa penyakit darah tinggi bisa disembuhkan dengan minum obat tradisional tertentu. Tentu saja kita akan sulit membandingkan kedua pendapat ini karena keduanya menggunakan falsafah yang berbeda dalam menguji kebenaran sebuah klaim.  
Mungkin timbul pertanyaan: apakah tidak berbahaya minum obat terus-menerus sepanjang hidup? Bukankah kita dianjurkan untuk sebisa mungkin menghindari konsumsi obat? Lagi-lagi, jawaban pertanyaan ini adalah bahwa konsumsi obat didasarkan pada pertimbangan antara manfaat dan mudarat.
Jika kita minum obat terus-menerus, mungkin kita akan terkena efek sampingnya. Tapi jika kita tidak minum obat, mudaratnya dalam jangka panjang akan lebih besar lagi. Jika tidak dikendalikan, hipertensi akan menimbulkan komplikasi gangguan ginjal, hingga kemungkinan serangan jantung dan stroke. Artinya, manfaat minum obat lebih besar daripada mudaratnya.
Oleh karena hipertensi masih belum bisa disembuhkan, cara terbaik menjauhi “kutukan” minum obat sepanjang hayat adalah dengan mencegahnya. Mungkin terdengar klise, tapi memang inilah satu-satunya cara.
Dalam stadium awal, hipertensi mungkin tidak menimbulkan gejala sama sekali. Ini bisa membuat penderita tidak menyadari bahwa tekanan darahnya sudah bermasalah. Itu sebabnya kita sangat dianjurkan untuk rajin memantau tekanan darah kita walaupun tidak merasakan gejala sakit apa-apa. Dengan begitu, kalaupun kita mengalami hipertensi, kita bisa mengetahuinya secara dini sehingga terhindar dari komplikasi yang berbahaya.
Hipertensi memang gabungan antara kabar buruk dan kabar baik. Kabar buruknya, penyakit ini sering diderita tanpa disadari. Kabar baiknya, ia mudah dideteksi secara dini.
Pemeriksaan tekanan darah yang paling baik adalah ketika kita dalam keadaan santai, seperti ketika kita berada di rumah. Saat kita berada di ruang dokter, sebagian dari kita kadang merasa sedikit grogi atau sedikit terengah-engah setelah berjalan. Kondisi ini bisa menyebabkan tekanan darah kita sedikit naik sehingga angka yang dihasilkan pun mungkin kurang akurat.


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.



No comments:

Post a Comment