Saturday, March 16, 2013

OBAT HIPERTENSI (2)


Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan kemungkinan menderita darah tinggi, antara lain:

1.      Usia. Makin tua seseorang, makin berkurang elastisitas pembuluh darahnya. Hampir semua orang lansia memang mengalami hipertensi sekalipun mungkin derajatnya berbeda-beda. Pada kaum hawa, kondisi hipertensi biasanya mulai muncul setelah menopause (mati haid).  

2.      Keturunan. Faktor nasib ini jelas tidak bisa diapa-apakan. Namun, ini tidak berarti bahwa anak penderita hipertensi PASTI akan menderita hipertensi. Hanya saja, peluangnya memang lebih besar.

3.      Konsumsi garam tinggi. Kandungan utama garam adalah mineral natrium (dalam bahasa Inggris disebut sodium). Mineral ini akan menyebabkan air tertahan di pembuluh darah. Makin banyak garam yang kita makan, makin besar volume cairan darah di pembuluh, sehingga makin tinggi pula tekanannya.

4.      Kegemukan. Makin gemuk seseorang, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk mengalirkan oksigen dan nutrisi ke jaringan-jaringan lemak penyebat kegendutan itu. Akibatnya, volume darah yang mengalir di pembuluh pun makin besar sehingga tekanannya pun makin tinggi. Penambahan berat badan 1 kg di atas berat badan ideal diperkirakan bisa meningkatkan tekanan darah sekitar 1 mmHg. Jadi, semakin gemuk seseorang, semakin besar kemungkinanannya terkena hipertensi.

5.      Kurang aktif. Pada orang yang kurang bergerak dan jarang berolahraga, detak jantungnya cenderung lebih cepat dengan tekanan yang lebih tinggi sehingga tekanan darahnya pun cenderung lebih tinggi.

6.      Kebiasaan merokok. Senyawa di dalam asap rokok bisa mempercepat kerusakan pembuluh darah sehingga elastisitasnya pun lebih cepat berkurang.

7.      Sering stres. Kondisi stres bisa menyebabkan lonjakan tekanan darah sesaat. Saat stres reda, tekanan darah kembali normal. Akan tetapi jika stres berlangsung lama dan berulang-ulang, kondisi tekanan darah tinggi yang temporer ini bisa menjadi permanen. Apalagi jika penderita melampiaskan rasa “galau” dengan cara banyak makan, banyak begadang, dan merokok, maka risiko hipertensi permanen bisa menjadi berlipat-lipat. 

8.      Kurang tidur. Sama seperti stres, kondisi kurang tidur juga bisa menyebabkan kenaikan tekanan darah yang sementara. Tekanan darah akan kembali normal ketika kita kembali cukup istirahat. Namun, jika kondisi kurang tidur berlangsung kronis, kondisi tekanan darah tinggi yang sementara tadi bisa berubah menjadi permanen.

9.      Kehamilan. Kondisi hamil kadang bisa menyebabkan hipertensi yang biasanya dikenal dengan preeklamsia. Hipertensi jenis ini berbahaya bagi janin tapi biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah melahirkan.

10.  Konsumsi obat tertentu. Sebagian obat jika dikonsumsi dalam jangka lama mungkin (tidak selalu) bisa menyebabkan hipertensi, misalnya sebagian pil KB, sebagian obat flu dan migrain.

11.  Penyakit lain. Beberapa jenis penyakit bisa meningkatkan risiko seseorang menderita hipertensi, seperti diabetes, gangguan fungsi ginjal, dan tinggi kolesterol.
Dari daftar di atas, kita bisa melihat bahwa sebagian besar penyebab hipertensi adalah faktor-faktor yang bisa dikendalikan. Memang ada faktor yang tidak bisa diapa-apakan seperti usia dan keturunan, tapi sebagian besar lainnya adalah faktor-faktor yang bisa diubah.
Obat Hipertensi
Obat hipertensi termasuk kelompok obat resep. Sebaiknya pasien tidak melakukan pengobatan sendiri. Sering kali obat hipertensi lebih efektif diberikan dalam bentuk kombinasi dua macam obat. Dosisnya pun harus benar-benar sesuai kebutuhan. Penentuan jenis dan dosis obat ini membutuhkan keahlian dokter.     
Terdapat banyak jenis obat hipertensi. Kalau diringkas, sebagian besar obat ini bekerja lewat salah satu dari dua cara, yaitu mengurangi volume cairan darah atau membuat pembuluh darah lebih longgar. Kadang satu jenis obat saja tidak efektif. Dalam kondisi itu, dokter mungkin meresepkan lebih dari satu jenis obat.
1.      Mengurangi cairan darah. Obat jenis ini biasa disebut “diuretik”. Ini istilah untuk obat yang membuat kita sering buang air kecil. (Akhiran “-uretik” berasal dari kata yang sama dengan “urine” alias air seni.) Pada saat kita kencing, tubuh mengeluarkan air dan natrium (garam) sehingga cairan di dalam pembuluh darah pun berkurang sehingga tekanan darah pun berkurang.

Contoh obat dan merek dagang:

Merek dagang
Furosemid
Lasix®, Farsix®,  Classic®, Diuvar®, Edemin®, Furosix®, Gralixa®, Impugan®, Laveric®, Naclex®, Roxemid®, Silax®, Uresix®
Sprinolakton
Aldactone®, Carpiaton®, Letonal®, Spirola®, Spirolacton®
Hidrokolorotiazid (HCT, hydrochlorothiazide) Biasanya dikombinasikan dengan jenis obat hipertensi golongan lain
Blopress Plus®, Co-Diovan®, Co-Irvebal®, CoAprovel®, Lodoz®, Lorinid Mite®, Micardis Plus®, Olmetec Plus®, Rasilez HCT®

Selain obat-obat di atas, masih ada banyak lagi jenis obat golongan diuretik, misalnya amilorid, klortalidon, dan masih beberapa lagi. Karena obat-obat ini akan merangsang produksi air kemih, kita tidak disarankan minum menjelang tidur kalau tidak ingin sering terbangun karena kebelet pipis.


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.



No comments:

Post a Comment