Friday, March 22, 2013

OBAT RADANG TENGGOROK



Tabet isap!

Sebagian besar orang mungkin akan langsung mengingat tablet isap setiap kali disebut “obat radang tenggorok”. Tidak salah. Tablet yang dalam bahasa Inggris disebut lozenge ini memang termasuk salah satu obat radang tenggorok. Namun, urusan radang tenggorok sebetulnya jauh lebih kompleks daripada sekadar tablet isap.

Radang tenggorok termasuk salah satu masalah kesehatan yang umum. Sama seperti flu dan pilek. Sebagian besar radang tenggorok disebabkan oleh virus. Sebagian kecil disebabkan oleh bakteri.
Virus dan bakteri hanya dua kemungkinan penyebab. Selain keduanya, masih banyak kemungkinan penyebab lainnya, seperti:

1.      Iritasi atau alergi makanan. Bisa akibat makanan atau minuman, misalnya makanan yang terlalu panas, terlalu dingin, gorengan, pemanis buatan, sirup gula yang terlalu manis, penyedap rasa, dan sejenisnya. Bisa juga iritasi terjadi akibat akibat getah buah, misanya sawo, nanas, atau nangka.
2.      Polusi udara. Misalnya, asap rokok (baik pada perokok aktif maupun perokok pasif), debu, asap knalpot, asap pembakaran, uap cairan kimia, dan sejenisnya.
3.      Infeksi di hidung bagian dalam. Infeksi di daerah ini bisa menyebabkan cairan ingus yang berisi kuman turun ke tenggorok dan menularkan infeksi.
4.      Sakit mag parah. Pada gangguan lambung yang parah, cairan asam lambung bisa naik dan mengiritasi tenggorok.
5.      Bernapas menggunakan mulut. Ini sering terjadi pada orang yang hidungnya buntu akibat pilek atau orang yang tidur dengan posisi kepala yang salah. Aliran udara lewat mulut menyebabkan tenggorok menjadi kering dan mudah mengalami iritasi. (Dalam kondisi sehat, tenggorok kita selalu dalam keadaan lembap.)
6.      Iritasi pita suara. Misalnya karena terlalu banyak mengeluarkan suara keras atau terlalu bersemangat berpidato.
7.      Infeksi amandel. Amandel berada di ujung atas tenggorok. Jika organ ini mengalami infeksi, tenggorok bisa ikut mengalami radang.

Ada banyak faktor yang mungkin menjadi penyebab radang tenggorok. Sebelum kita berpikir tentang obat, sebaiknya kita mengidentifikasi dulu penyebabnya. Kita ingat-ingat apa saja yang kita lakukan sebelum mengalami radang tenggorok. Makanan apa saja yang kita santap.
Setelah kita bisa mengidentifikasi penyebabnya, barulah kita berpikir tentang obat yang tepat. Masing-masing penyebab di atas mungkin membutuhkan obat yang berbeda-beda.

Jika disebabkan oleh virus, radang tenggorok pada umumnya akan sembuh dengan sendirinya dalam tempo 1-2 minggu. Sama seperti flu-pilek. Tanpa diobati secara khusus pun akan sembuh dengan sendirinya. Tak perlu antibiotik karena obat ini tidak efektif membasmi virus. Jika radang disebabkan oleh bakteri, barulah dokter akan meresepkan antibiotik. Baca juga Bab Antibiotik.

Jangan membeli antibiotik sendiri. Sayangi anak cucu kita nanti. Di Indonesia, antibiotik semacam amoksisilin seolah-olah sudah menjadi obat bebas untuk semua jenis radang tenggorok. Padahal, sebagian besar radang tenggorok disebabkan oleh virus.

Bagaimana membedakan radang yang disebabkan oleh virus dan bakteri? Sebagai orang awam, kita sulit membedakan keduanya. Dokter bisa membedakannya lewat gejala klinisnya. Sebagai patokan sederhana, sebaiknya kita ke dokter jika radang disertai dengan salah satu dari gejala di bawah:

·         Demam lebih dari 38 C
·         Nyeri saat menelan makanan
·         Pembesaran kelenjar getah bening di leher (tampak dari pembengkakan leher)
·         Bengkak atau adanya nanah di amandel
·         Sakit kepala, mual, atau muntah
·         Ada riwayat kontak dengan penderita radang tenggorok
·         Radang tidak sembuh lebih dari seminggu

Jika ada salah satu dari gejala di atas, mungkin radang disebabkan oleh bakteri. Jika penyebabnya bakteri, sebaiknya kita tidak melakukan pengobatan sendiri agar terhindar dari kemungkinan salah menggunakan antibiotik.  

Jika tidak segera diobati, infeksi ini bisa menular ke orang-orang yang melakukan kontak secara dekat, misalnya anggota keluarga, teman di kelas, atau kawan di asrama. Infeksi bakteri ini lebih banyak menyerang anak-anak dan remaja daripada orang dewasa. Pada orang dewasa, kemungkinannya hanya sekitar 1 dari 10. Sementara pada anak-anak dan remaja, kemungkinannya sekitar 3 dari 10. Itu sebabnya pada anak-anak, radang tenggorok harus lebih kita waspadai.
Jika gejalanya ringan, misalnya rasa gatal dan kering di tenggorok, batuk, demam di bawah 38 C, hidung meler, nafsu makan berkurang, atau suara agak parau, kita mungkin bisa mengobati gejala-gejala itu dengan obat-obat yang bukan obat resep.

Memang ada infeksi virus yang berbahaya, namun sebagian besar radang tenggorok akibat virus tidak berbahaya dan bisa sembuh dengan sendirinya.

Sebelum kita menggunakan obat-obat apotek, kita bisa memanfaatkan obat-obatan sederhana untuk meredakan rasa sakitnya. Misalnya, berkumur dengan air garam hangat (1 sendok 5 ml garam dalam 250 ml air), berkumur air rebusan daun sirih, atau minum teh hangat yang dicampur madu.

Selain itu, yang tak kalah penting untuk dilakukan adalah mengurangi faktor-faktor yang bisa memperparah radang, seperti:
·         Menghindari polusi udara
·         Mengeluarkan suara seperlunya saja
·         Makan makanan yang lembut
·         Mengatur udara ruangan agar cukup lembap dan tidak terlalu kering, mematikan AC

Untuk mengurangi gejala akibat radang itu, kita bisa menggunakan obat-obat yang bisa dibeli tanpa resep dokter, misalnya:

·         Jika radang disertai nyeri atau demam, kita bisa minum obat pereda nyeri dan penurun panas seperti parasetamol atau ibuprofen. (Baca Bab Obat Pereda Nyeri dan Bab Obat Demam)
·         Jika radang disertai rasa gatal tenggorok, hidung meler dan tersumbat, kita bisa minum obat antihistamin atau dekongestan, seperti CTM dan pseudoefedrin. (Baca Bab Obat Alergi dan Obat Fu-Pilek)
·         Jika radang tenggorok disertai asma, kita bisa minum obat asma. (Baca Bab Obat Asma)
·         Sama seperti pada obat sariawan, untuk mengurangi iritasi sekaligus sebagai antiseptik lokal di tenggorok, kita bisa menggunakan tablet isap, misalnya yang berisi dekualinium. Contoh merek dagang: SP Troches®, Degirol®, Efisol®. Bisa juga menggunakan obat semprot tenggorok yang berisi fenol. Contoh merek dagang: Cooling 5®.

Kalau FG Troches®? Obat ini termasuk golongan antibiotik yang bekerja lokal di rongga mulut dan tenggorok, mengandung fradiomisin dan gramisidin-S. Di Indonesia tablet isap ini cukup populer di kalangan masyarakat awam sampai sering diperlakukan seperti permen. Ini jelas kebiasaan yang tidak sehat. Sekalipun risiko resistensinya tidak sebesar antibiotik yang diminum seperti amoksisilin, tablet isap golongan antibiotik tidak boleh digunakan terus-terusan. Kalau memang terpaksa membeli sendiri, setidaknya tanyakan seluk-beluk obat ini kepada apoteker. Jangan gunakan tablet isap ini lebih dari seminggu.

Makin sering kita minum obat, lama-lama obat itu bisa menjadi tidak mempan lagi. Itu sebabnya obat harus digunakan secara cermat. 


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.




No comments:

Post a Comment