Thursday, March 28, 2013

OBAT SAKIT KEPALA DAN NYERI (3)



Obat-obat yang Biasa Digunakan

Sebagian besar obat sakit kepala dijual bebas. Bisa didapatkan di apotek, toko obat, maupun toko kebutuhan sehari-hari. Dalam bahasa medis, obat sakit kepala digolongkan ke dalam analgesik. Arti harfiahnya, antinyeri. Karena khasiatnya meredakan nyeri, obat sakit kepala bisa juga digunakan untuk mengobati nyeri lain, tidak hanya di kepala. Misalnya, untuk sakit gigi, nyeri otot, rematik, hingga nyeri haid. Pokoknya, semua sakit yang melibatkan rasa nyeri.

Sebagian besar obat pereda nyeri juga punya khasiat menurunkan demam. Dalam istilah medis, khasiat menurunkan demam ini disebut antipiretik. Itu sebabnya, dalam buku-buku medis, obat sakit kepala, pereda nyeri, dan obat demam biasanya masuk dalam satu bab: Analgesik-Antipiretik

Beberapa contoh obat analgesik-antipiretik antara lain:

1.    Parasetamol
Kadang di kemasan obat ditulis asetaminofen atau N-asetil-para-aminofenol. Ketiganya bersinonim alias sama saja. (Dalam dunia farmasi, satu jenis obat punya banyak nama lain.) Dibanding obat-obat lain di dalam kelompok ini, parasetamol hingga saat ini dianggap paling aman. Baik bagi perempuan hamil, ibu yang menyusui, maupun anak-anak. Namun, penggunaan dosis besar dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan hati. Itu sebabnya, meskipun relatif aman, parasetamol tetap tidak dianjurkan untuk dikonsumsi terus-menerus dalam dosis besar. Kelebihan obat ini, bisa diminum saat perut kosong tanpa mengganggu lambung. Dosis umum sekali minum 500 mg. Contoh merek dagang: Lihat Bab Obat Demam.

2.    Asetosal.  Nama lainnya asam asetil salisilat atau aspirin. Ketiganya sami mawon alias setalen tiga wang.

Asetosal mungkin bisa dianggap obat pereda nyeri dan demam yang paling legendaris. Di masyarakat Barat, aspirin bahkan lebih kondang daripada parasetamol. Itu sebabnya, saat sakit kepala, Tom memilih obat ini, bukan parasetamol.

Di buku-buku atau artikel berbahasa Inggris, obat sakit kepala identik dengan aspirin. Jika Anda membaca artikel kesehatan berbahasa Indonesia yang mengidentikkan obat sakit kepala dengan aspirin, Anda boleh menduga artikel itu terjemahan letterlijk dari tulisan berbahasa Inggris. Di masyarakat Indonesia, obat sakit kepala yang paling banyak dikonsumsi adalah parasetamol. Budaya kita berbeda dari budaya Tom dan Jerry.   

Selain berkhasiat meredakan nyeri dan demam, aspirin dalam dosis kecil juga biasa dipakai untuk mencegah penggumpalan darah pada penderita serangan jantung atau stroke. Nama dagangnya Aspilet. Obat ini berisi aspirin 80-100 mg. Bukan untuk obat sakit kepala, melainkan obat untuk mencegah stroke atau serangan jantung. Untuk obat sakit kepala, dosis umum aspirin sekitar 500 mg.  

Contoh merek dagang yang terkenal: Aspirin, Inzana. (Jika ditulis sebagai aspirin dengan huruf “a”, berarti itu nama kimia. Tapi jika ditulis sebagai Aspirin dengan huruf “A”, berarti itu nama dagang milik produsen farmasi asal Jerman, Bayer.)

Sesuai namanya, asam asetil salisilat ini bersifat asam. Sifat asam membuat obat punya efek samping mengiritasi lambung dan karenanya tidak cocok buat orang dengan sakit mag. Juga tidak disarankan diminum dalam keadaan perut kosong. Efek samping lain yang juga bisa terjadi antara lain reaksi alergi pada kulit dan telinga berdengung. Obat ini tidak dianjurkan untuk diberikan kepada anak kecil yang menderita flu (dan infeksi virus lainnya) karena bisa menyebabkan penyakit yang disebut Sindrom Rye. Gejalanya antara lain muntah dan demam tinggi. Obat ini juga tidak dianjurkan buat kasus demam berdarah dengue karena justru akan meningkatkan risiko perdarahan.  

3.    Ibuprofen
Di Indonesia, obat ini lebih dikenal sebagai obat turun panas pada anak-anak daripada pereda nyeri. Sama seperti aspirin, ibuprofen sebaiknya dihindari kalau kita memiliki gangguan mag. Obat ini memang cukup efektif untuk demam tinggi, tapi sebaiknya tidak digunakan pada demam berdarah dengue karena justru akan meningkatkan risiko perdarahan.

Contoh merek dagang yang mengandung obat ini: Lihat Bab Obat Demam.

Dari nama merek di atas kita bisa melihat, budaya masyarakat sangat mempengaruhi persepsi kita terhadap khasiat obat. Proris lebih terkenal sebagai penurun panas pada anak-anak. Padahal, bisa saja orang dewasa minum obat ini untuk sakit gigi, misalnya.


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.



No comments:

Post a Comment