Friday, March 22, 2013

OBAT SEMBELIT (3)


Jika kita sudah melakukan semua tindakan pencegahan di atas dan masih saja sembelit, kita bisa minta bantuan kepada obat-obatan. Di apotek tersedia beberapa macam obat antisembelit. Sebagian bisa dibeli bebas, sebagian lainnya harus dengan resep dokter.
Penulisan golongan obat di bawah ini berdasarkan urutan dari yang paling aman sampai yang paling banyak efek sampingnya.

·         Suplemen serat
Ini sebetulnya bukan termasuk obat. Produk ini banyak dijual bebas, bahkan di toko-toko. Ini pilihan paling aman—dibandingkan kelompok obat di bawah. Penggunaan suplemen ini tidak menimbulkan ketergantungan, bisa digunakan berkali-kali. Meski begitu, tetap perlu diingat bahwa tidak ada satu pun produk obat dan suplemen yang 100% aman. Suplemen serat memang relatif aman tapi pola penggunaannya tetap harus diperhatikan. Konsumsi serat ini harus disertai dengan banyak minum air putih. Kalau kita minum suplemen serat tapi kurang minum, serat ini justru bisa menimbulkan penyumbatan di usus.
Suplemen ini sebetulnya lebih tepat digunakan untuk pencegahan. Jika kita sudah mengalami sembelit parah berhari-hari, minum suplemen mungkin tidak sanggup mengatasinya.
Yang tak boleh dilupakan—ini yang paling penting—serat dari buah dan sayur jauh lebih baik daripada serat suplemen. Jika kita mengonsumsi buah dan sayur, kita tak hanya mendapatkan serat tapi juga vitamin, mineral, antioksidan, dan berbagai nutrisi lainnya.

·         Pelicin dan pelunak
Obat jenis ini bisa menjadi pilihan jika suplemen serat tidak sanggup mengatasinya. Contoh obat golongan ini: natrium laurilsulfoasetat, dokusat (dioktil sulfosuksinat), parafin cair, gliserin, polietilen gilkol (PEG), sorbitol, laktulosa.
a.       Natrium lauril sulfoasetat termasuk golongan sabun yang lembut. Larutannya digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam dubur. Masih bersaudara dengan natrium lauril sulfat—bahan dasar sabun cuci yang biasa kita pakai sehari-hari. Sabun memang memiliki sifat licin. Itu sebabnya sebagian orang kampung zaman dulu menggunakan larutan sabun cuci yang dimasukkan ke dalam anus (Don’t try this at home!) sebagai pertolongan pertama kalau anaknya sulit buang hajat.
b.      Parafin cair berfungsi mirip oli alias pelumas yang membuat dinding anus menjadi licin sehingga feses mudah keluar. Parafin adalah minyak mineral yang berbentuk cair. Pengunaannya dengan cara diminum. Sekalipun relatif aman, golongan minyak pelumas ini tetap tidak dianjurkan dipakai jangka panjang karena minyak ini bisa mengganggu penyerapan vitamin yang larut lemak, seperti A,D, E, dan K.
c.       Gliserin punya fungsi yang mirip dengan parafin, yakni membuat feses menjadi lunak. Bahan-bahan di atas relatif aman karena hanya bekerja lokal di anus. Bisa digunakan untuk ibu hamil maupun bayi. Sekalipun relatif aman, obat golongn ini pun tetap tidak dianjurkan digunkan terlalu sering sebab bisa menyebabkan iritasi anus.
d.      Sorbitol, laktulosa, PEG, dan garam inggris (garam magnesium), natrium fosfat termasuk kategori ini. Contoh merek yang terkenal: Dulcolactol®, yang mengandung laktulosa. Di usus besar, bahan-bahan yang dalam ilmu farmasi disebut osmotic agent tersebut mengikat air sehingga membuat feses lebih lunak. Selain itu, bahan-bahan tersebut bisa merangsang pergerakan usus.

Sebagian obat pelicin dan pelunak digunakan dengan cara diminum, seperti parafin, laktulosa, dan garam inggris. Sebagian lainnya tidak diminum, tapi dimasukkan ke dalam dubur, misalnya natrium lauril sulfoasetat, PEG, dan sorbitol. Bentuknya berupa supositoria (seperti torpedo), cairan kental, atau gel yang dimasukkan ke dalam dubur. Dalam farmasi, bentuk cairan kental yang dimasukkan ke dalam anus ini disebut enema. Contoh produk enema yang terkenal: Microlax®.
Sekalipun relatif aman untuk pemakaian sesekali, kelompok obat ini tetap tidak boleh digunakan terus-menerus karena bisa menyebabkan efek merugikan, seperti gangguan keseimbangan elektrolit.

·         Perangsang gerakan usus (stimulan motilitas usus)
Contoh yang paling banyak digunakan di Indonesia: bisakodil. Merek dagang yang paling terkenal: Dulcolax®. Obat ini bisa diminum, bisa duga digunakan dengan dalam bentuk supositoria yang dimasukkan ke dalam dubur.
Dibandingkan golongan obat lainnya, obat jenis ini paling mudah digunakan. Tinggal minum di malam hari, maka esok paginya kita sudah bisa BAB. Kalau mau lebih cepat BAB, kita bisa memilih supositoria. Meski begitu, sekali lagi, obat jenis ini tidak disarankan sering-sering dipakai, apalagi secara terus-menerus lebih dari dua minggu karena justru bisa membuat kita mudah mengalami sembelit.

Dari sekian banyak produk di atas, yang paling aman sebetulnya suplemen golongan serat. Namun, suplemen jenis ini mempunyai kelemahan dalam hal efek BAB-nya tidak bisa didapat seketika. Biasanya butuh beberapa hari. Ini berbeda dengan obat golongan perangsang gerakan usus yang hanya membutuhkan waktu beberapa jam.
Contoh lain obat golongan ini: antrakunion dan obat tradisional dari daun sena. Ekstrak daun sena dipakai di sebuah merek yang cukup terkenal, bahkan termasuk salah satu peraih Top Brand Award, yaitu Laxing®. Produk ini termasuk salah satu merek laris karena dipersepsi tidak hanya sebagai obat pencahar, tapi juga pelangsing.
Menurut beberapa situs rujukan, seperti National Health Service Inggris dan National Institutes of Health Amerika, obat tradisional daun sena sebaiknya tidak digunakan secara terus-menerus lebih dari dua minggu. Artinya, urusan langsing harus dipisahkan dari urusan sembelit. Obat antisembelit semestinya tidak diperlakukan sebagai obat pelangsing.


Serat
Vegeta®, Mulax®, Fiber®, Metamucil®, Mucofalk®, Forty Plus®
Pelembab dan pelicin
Laktulosa
Dulcolactol®, Duphalac®, Lacons®, Lactugra®, Lactulax®, Lantulos®, Laxadilac®, Opilax®, Pralax®, Solac®
Natrium fosfat
Fleet Enema®, Fosen®, Fleet Phosposoda®
Dokusat (dioktil sulfosuksinat)
Laxatab®
Garam inggris (magnesium)
Laxasium®
Lauril sulfoasetat, sorbitol & PEG
Microlax®, Laxarec®
Perangsang usus
Bisakodil
Dulcolax®, Bicolax®, Brolaxan®, Codylax®, Custodiol®, Laxacod®, Laxana®, Laxamex®, Laxana®, Melaxan®, Prolaxan®, Stolax®
Ekstrak sena dan obat tradisional lain
Laxing®, Maximus®, Eucarbon®
Antrakuinon
Danthron®

Fenolftalin
Di Indonesia, sebagian obat antisembelit mengandung fenolftalin. Buku Informasi Spesialite Obat Indonesia setidaknya masih mencantumkan empat merek obat antisembelit yang mengandung fenolftalin. Di beberapa negara, bahan ini sudah tidak boleh digunakan sebagai obat bebas antisembelit karena diketahui bisa meningkatkan risiko kanker pada hewan coba.
Memang belum ada data penelitian massal pada manusia, tapi beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Italia, Jerman, dan Kanada, memutuskan untuk melarang penggunaannya sebagai obat bebas antisembelit. Dari fakta ini saja kita bisa melihat bahwa ketika kita membeli obat antisembelit, kita dihadapkan pada risiko minum obat yang tidak sepenuhnya aman.
Di Indonesia, obat ini secara hukum masih sah beredar sebagai obat bebas karena memang tidak ada larangan dari Badan POM. Meski begitu, demi alasan kesehatan, kita sebaiknya menghindarinya. Untuk informasi lebih detail, silakan klik http://monographs.iarc.fr/ENG/Monographs/vol76/mono76-15.pdf.


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


No comments:

Post a Comment