Thursday, January 10, 2013

OBAT TRADISIONAL (1)



Obat tradisional, khususnya obat herbal, hingga sekarang masih sering menjadi bahan perdebatan yang tak kunjung habis. Para pengobat tradisional mendewa-dewakannya. Tapi kalangan medis sering menganggapnya tidak ilmiah dan belum ada cukup bukti!
Perdebatan kedua pihak ini selalu muncul tiap kali hadir primadona baru obat tradisional seperti buah mahkota dewa, buah pace, virgin coconut oil, buah merah, sarang semut, dan sebagainya. Para herbalis biasanya mengangkat pamor tanaman primadonanya dengan testimoni para pemakai yang berhasil sembuh. Bagi mereka, pengalaman itu adalah bukti kemujaraban tanaman tersebut. Tapi kalangan dokter selalu bilang bahwa testimoni-testimoni itu belum bisa dijadikan sebagai bukti.
Bagi kebanyakan orang awam, perselisihan kedua kubu ini mungkin bisa membingungkan. Tapi jika kita bisa memahami logika ilmu kedokteran modern, kita akan mafhum. Ilmu kedokteran modern ditegakkan di atas data-data penelitian ilmiah. Dan penelitian ilmiah baru bisa dianggap sah jika telah memenuhi metodologi ilmiah dan kaidah-kaidah statistik.
Bukan berarti pengalaman-pengalaman para pemakai itu hanya dianggap bualan atau omong kosong belaka. Namanya saja cerita. Kita boleh percaya, boleh juga tidak. Masalahnya, kesembuhan beberapa orang belum bisa mewakili populasi karena belum memenuhi kaidah statistik. Itu sebabnya pengakuan beberapa orang belum dianggap sebagai bukti dalam pandangan ahli medis.
Seperti halnya obat modern, obat tradisional sebetulnya juga racun yang punya manfaat. Jika digunakan secara tepat, ia bisa menyembuhkan banyak macam penyakit, termasuk penyakit yang sulit ditangani oleh obat modern sekalipun. Tapi jika pemakaiannya salah, bisa saja penyakitnya malah tambah parah.
Tak sedikit obat tradisional yang sudah terbukti aman dan ampuh. Banyak penderita hipertensi, diabetes, bahkan kanker mengalami “perbaikan klinis” setelah minum obat tradisional. Kenapa istilahnya perbaikan klinis, bukan sembuh? Banyak orang mengaku sembuh setelah minum obat tradisional tapi sebetulnya mungkin saja itu bukan sembuh melainkan hanya membaik.
Seperti kita tahu, pemakaian obat tradisional biasanya menyebar secara getok tular lewat cerita-cerita pengakuan orang. Kadang kita tak bisa membedakan, apakah cerita itu nyata atau hanya cerita karangan yang digunakan untuk marketing. Testimoni-testimoni kesembuhan ini kebanyakan masih perlu dicek kebenarannya. Misalnya apakah kesembuhannya permanen ataukah hanya efek perbaikan sementara.
Meski begitu, banyaknya pengalaman orang yang mengalami perbaikan klinis setidaknya memberikan gambaran bahwa obat tradisional berpotensi menyembuhkan penyakit-penyakit yang hingga kini masih sukar disembuhkan.
Sejarah obat modern pun sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari obat tradisional. Banyak obat modern yang awalnya adalah obat tradisional herbal. Kita bisa menyebut contoh efedrin, asetosal (aspirin), vinkristin, vinblastin, digitalis, artemisin, morfin, kodein, dan masih banyak lagi. Semua nama ini merupakan contoh senyawa tunggal yang masuk kategori obat modern.
Obat-obat pelega hidung (dekongestan) yang banyak digunakan sekarang pada umumnya adalah turunan dari efedrin. Efedrin sendiri awalnya—sekarang tidak lagi—diisolasi  dari Efedra, marga tanaman yang banyak digunakan dalam pengobatan tradisional Cina.
Salisilat, inti asetosal (obat antidemam yang juga digunakan untuk mencegah serangan jantung atau stroke) pada awalnya juga obat tradisional yang diperoleh dari kulit kayu marga tanaman Salix. Vinkristin dan vinblastin (dua senyawa yang banyak digunakan untuk kemoterapi kanker) diisolasi dari tapak dara, Catharanthus roseus, tanaman yang biasa dijadikan penghias pekarangan rumah. Digitalis (obat jantung) berasal dari Digitalis purpurea, tanaman yang banyak tumbuh di Eropa. Artemisin (obat antimalaria) berasal dari Artemisia annua, tanaman yang banyak tumbuh di Cina.
Morfin, obat penekan sistem saraf pusat yang sering disalahgunakan itu, berasal dari tanaman opium (Papaver somniverum). Belajar dari struktur kimia morfin, para ilmuwan kemudian mengembangkan kodein yang biasa dipakai sebagai obat batuk.
Semua contoh ini membuktikan bahwa tanaman obat punya potensi menghasilkan senyawa tunggal untuk obat modern. Jadi, kalau kita meremehkan obat tradisional dengan alasan “tidak ilmiah”, itu seperti melupakan sejarah obat modern.
Secara ilmiah, obat tradisional memang masih belum bisa dibandingkan langsung dengan obat modern. Obat tradisional biasanya baru memiliki data penelitian yang amat sedikit. Sebagian bahkan mungkin sama sekali tak punya data penelitian ilmiah. Pemakaiannya di masyarakat hanya didasarkan pada pengakuan orang, mungkin pengalaman tetangga, kawan, atau cerita Pak Karto yang tertulis di majalah. Banyak di antaranya bahkan kelihatan terang benderang sebagai strategi jualan.
Ini berbeda dengan obat modern. Obat modern sudah memiliki cukup banyak data penelitian ilmiah. Khasiatnya bukan hanya didasarkan pengalaman Pak Karto, tapi berdasarkan pengamatan yang sistematis terhadap ribuan pasien. Dosis kerjanya sudah diketahui pasti sampai tingkat miligram bahkan mikrogram. Efek samping (side effect) dan efek buruknya (adverse reaction) juga sudah diketahui dengan jelas. Karena itu, dokter pun tidak ragu meresepkannya.

Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


1 comment:

  1. trims infonya mas brow,sarang semut salah satu obat tradisional yang sangat ampuh melawan berbagai penykit mematikan.

    ReplyDelete