Saturday, January 5, 2013

OBAT TRADISIONAL (2)


Dalam urusan obat tradisional, ada beberapa “pasal” yang bisa dijadikan sebagai pedoman gampang agar kita bisa memperoleh manfaat dengan sekecil mungkin mudarat.

Pasal ke-1: Utamakan metode terapi yang sudah terbukti aman dan efektif.


Salah satu aturan umum pengobatan: untuk penyakit-penyakit serius yang bisa ditangani secara medis, sebaiknya utamakan penyembuhan cara medis. Kalaupun mau mengombinasikan dengan obat tradisional, silakan saja. Tak ada larangan asalkan, sekali lagi, dikomunikasikan kepada dokter.
Contoh gampang adalah kanker. Penyakit ini hingga sekarang masih menjadi momok yang amat ditakuti. Tak jarang masyarakat awam beranggapan bahwa penyakit ini mustahil disembuhkan oleh dokter. Padahal kenyataannya penyakit ini bisa disembuhkan secara medis asalkan masih dalam stadium dini, maksimal stadium dua.
Biasanya, dalam stadium satu atau maksimal dua, penyakit ini masih bisa disembuhkan secara medis dengan terapi standar meliputi operasi, radiasi, dan kemoterapi. Sembuhnya tuntas, bukan hanya sembuh sebentar lalu kambuh lagi. Jaminan ini lebih pasti daripada jaminan obat tradisional.
Banyak pasien yang—karena pandangan keliru—tidak mau pergi ke dokter dan hanya mengonsumsi obat tradisional. Padahal kesembuhan dengan obat tradisional bisa saja bersifat sementara. Selagi pasien merasa sehat, bisa saja stadium kankernya terus meningkat. Ketika pasien merasa sakitnya kambuh lagi, mungkin saja kankernya sudah stadium empat. Artinya, pada saat itu dokter mungkin “hanya bisa berikhtiar dan selebihnya adalah kehendak Tuhan”.
Hal ini tentu tidak akan terjadi kalau pasien pergi ke dokter ketika kankernya masih stadium dini. Sambil menjalani terapi medis itu, pasien tetap boleh mengonsumsi obat tradisional. Justru dengan cara ini, obat tradisional dan obat modern akan komplementer, saling melengkapi.
Contoh lain adalah konsumsi obat tradisional yang diklaim berasal dari ekstrak cacing untuk obat tifus (demam tifoid). Biasanya dokter tidak mengizinkan pasien minum obat ini. Tapi banyak pasien yang mengonsumsinya karena merasa obat dari dokter tidak manjur. 
Penyakit tifus disebabkan oleh bakteri. Dalam ilmu kedokteran, sudah ada metode standar terapi yang jelas aman dan efektif, yaitu pemberian antibiotik, tirah baring (istirahat total atau bed rest), dan diet yang mudah dicerna dan rendah serat-kasar. Dalam trilogi terapi ini, pemilihan antibiotik merupakan tahap yang sangat menentukan.
Kalau obat dokter tidak manjur, mungkin saja itu disebabkan oleh pemilihan antibiotik yang kurang tepat karena bakterinya sudah kebal. Asalkan diagnosis dan pemilihan antibiotiknya tepat, penyakit tifus dijamin akan sembuh apabila disertai dengan tirah baring dan pola makan yang tepat.
Jadi, dari sudut pandang ini, sebetulnya pasien tidak memerlukan ekstrak cacing. Akan tetapi, kalaupun pasien akhirnya memutuskan untuk minum esktrak cacing (itu memang haknya), sebaiknya ia terus memantau efek obat itu terhadap kesehatannya.
Selama ini ekstrak cacing diduga membantu penyembuhan karena kandungan asam aminonya. Namun, dugaan ini masih belum bisa menjawab pertanyaan berikutnya. Kalau sekadar kandungan asam amino, ekstrak protein hewani seperti daging-dagingan dan seafood pun kaya asam amino dan harusnya bisa menggantikan ekstrak cacing.
Sekali lagi, ini tidak berarti bahwa logika asam amino ekstrak cacing itu hanya strategi jualan tukang obat. Mungkin saja memang ekstrak cacing mengandung senyawa, entah apa namanya dan entah bagaimana struktur kimianya, yang jelas bisa membantu penyembuhan tifus. Kemungkinan itu ada, tapi kita tak pernah tahu. Wallahua’lam. Sementara dalam ilmu medis, dokter hanya akan meresepkan obat yang memang benar-benar diketahui cara kerjanya.
Contoh lain yang mirip adalah konsumsi obat cina untuk mempercepat penyembuhan luka operasi, khususnya operasi sesar. Dalam ilmu medis, sebetulnya luka sesar dijamin akan sembuh sendiri walaupun tidak diterapi khusus dengan obat-obatan, asalkan luka itu dijaga tetap bersih dan kering. Kalaupun perlu obat, biasanya cukup antibiotik, antinyeri, dan vitamin. Bahkan, jika pasien bisa menjaga betul kebersihan diri dan lingkungan, dia mungkin malah tidak perlu antibiotik. 
Dengan metode terapi ini, di hari keempat atau kelima pascaoperasi, pasien biasanya sudah bisa pulang. Jadi, berdasarkan protap ini sebetulnya pasien sesar tak perlu minum obat cina. Tapi kalau ternyata pasien tetap bersikukuh minum obat cina (itu memang haknya), sebaiknya ia terus memantau kesehatannya dan kesehatan bayinya. Sebab, sangat mungkin obat yang belum diketahui persis isinya itu masuk ke dalam kelenjar ASI.   


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


No comments:

Post a Comment