Friday, January 4, 2013

OBAT TRADISIONAL (3)


Pasal ke-2: Pilih yang bahannya aman.


Selama ini obat tradisional diyakini tidak punya efek samping yang buruk. Atau, kalaupun ada, efek buruk ini boleh diabaikan. Pandangan seperti ini tidak sepenuhnya benar. Bagaimanapun, obat tradisional tetap berisi bahan kimia yang asing bagi tubuh dan karena itu punya efek samping atau bahkan efek buruk. Karena itu, penggunaannya pun tetap harus sangat hati-hati.
Oleh karena masalah keamanan obat tradisional sebagian besar masih wallahua’alam, kita sebaiknya membatasi pemakaiannya pada obat-obat yang memang sudah digunakan secara luas dan terbukti aman secara empiris. Contoh, obat-obat tradisional berbahan dasar bumbu dapur seperti kunyit, jahe, bawang putih, jeruk nipis, kencur, kayumanis, dan sejenisnya biasanya aman dalam dosis wajar karena bahan-bahan ini sudah biasa kita konsumsi.
Contoh lain, penggunaan daun atau ekstrak daun jambu biji untuk diare. Secara tradisional, rebusan daun jambu biji sudah biasa digunakan untuk mengatasi diare. Dalam bentuk yang lebih modern, ekstrak daun jambu biji juga banyak digunakan di dalam produk obat-obat diare yang dijual bebas. Di dalam usus, ekstrak daun jambu biji diduga mengatasi diare dengan dua mekanisme. Selain punya khasiat antibakteri, ekstrak daun ini juga bisa membuat feses lebih padat dan mengurangi kontraksi (gerakan) usus. Sekalipun mekanisme kerjanya masih sebatas dugaan, sejauh ini ekstrak daun jambu biji dalam dosis itu terbukti aman dan ampuh.
Contoh lain, konsumsi jus jambu pada pasien demam berdarah dengue (DBD). Kebiasaan ini harus kita lihat dalam konteks yang proporsional. Berdasarkan pasal ke-1, sebetulnya tanpa konsumsi jus jambu pun demam berdarah akan sembuh dengan sendirinya asalkan pasien tidak terlambat mendapat pertolongan medis.
Namun, dalam praktiknya, banyak pasien atau keluarga pasien yang merasa kurang afdol sebelum minum jus jambu. Bagaimanapun, minum obat tradisional adalah hak pasien. Dalam konteks ini, kita bisa menggunakan pasal ke-2 sebagai pedoman.  
Meski sudah ada metode terapi yang standar, konsumsi jus jambu boleh saja dilakukan karena konsumsi jus jambu tidak berbahaya. Tapi harus dicatat bahwa fungsinya bukan sebagai terapi substitutif (menggantikan metode standar), melainkan terapi komplementer (melengkapi). Toh pasien memang dianjurkan untuk banyak minum. Apalagi buah jambu juga banyak mengandung vitamin dan mineral yang penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Secara sederhana, tingkat keamanan obat tradisional bisa diketahui dari banyak tidaknya bahan tradisional itu dikonsumsi oleh masyarakat. Buah jambu sudah jelas biasa kita makan. Daun jambu dalam dosis obat diare juga sudah biasa dikonsumsi. Obat lain seperti sari kurma, angkak, atau air kelapa juga sudah biasa kita konsumsi. Artinya, bahan-bahan ini tergolong aman jika dikonsumsi secara wajar walaupun khasiatnya sebagai obat DBD masih diragukan atau belum pasti. Yang penting aman dulu, khasiatnya belakangan.
Dalam pengobatan, ada sebuah fenomena unik yang dikenal sebagai “efek plasebo”. Pasien mengalami perbaikan klinis walapun ia hanya diberi plasebo (pil yang isinya cuma tepung). Secara ilmiah, tepung jelas tak bisa mengobati penyakit. Tapi kenapa kondisi pasien bisa membaik? Jawabannya masih wallahua’lam. Tapi, diduga, pasien mengalami perbaikan klinis lewat efek psikis karena ia merasa yakin telah minum obat. Para ahli jiwa memang menyatakan bahwa pikiran bisa sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik.

Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


No comments:

Post a Comment