Thursday, January 3, 2013

OBAT TRADISIONAL (4)


Pasal ke-3: Pantau terus efek yang terjadi.


Pedoman ini terutama penting jika obat tradisional yang akan kita minum bukan termasuk bahan yang biasa kita konsumsi sehari-hari. Contoh, sambiloto, buah mahkota dewa, brotowali, buah merah, dan sebangsanya.
Sekali lagi, obat tradisional mungkin saja punya efek yang merugikan. Contoh, obat herbal untuk hipertensi atau diabetes. Dalam dosis besar, obat-obat ini bisa menyebabkan hipotensi parah (tekanan darah kelewat rendah) atau hipoglikemia berat (kadar gula darah kelewat rendah).
Overdosis ini sangat mungkin terjadi karena dalam pengobatan tradisional tidak ada standar dosis yang bisa dijadikan pedoman semua orang. Berapa gram rimpang atau berapa lembar daun yang harus dikonsumsi? Karena tak ada standar dosis inilah sebaiknya kita menggunakan obat tradisional secara bertahap dari dosis yang kecil dulu, sambil memantau perubahan yang terjadi, misalnya perubahan tekanan darah atau kadar gula darah. Kalaupun dosis perlu ditambah, peningkatannya bisa dilakukan secara bertahap sampai menghasilkan perubahan yang diinginkan.   
Karena alasan ini pula, obat-obat herbal antidiabetes atau antihipertensi sebaiknya tidak digabungkan dengan obat dari dokter. Atau, kalau mau digabungkan, pasien harus minta dokter menyesuaikan dosis obat resepnya. Jika keduanya langsung dipakai begitu saja bersama-sama, sangat mungkin pasien mengalami hipotensi atau hipoglikemia.
Ini baru soal obat hipertensi dan diabetes, belum obat-obat herbal lainnya. Mungkin saja di masyarakat sebetulnya ada banyak pemakai obat tradisional yang mengalami efek buruk tapi laporan mereka tidak terdokumentasikan dengan baik. Ini memang kelemahan obat tradisional. Efek buruk ini sulit diramalkan karena hingga sekarang mekanisme kerja obat tradisional di dalam tubuh masih wallahua’lam.
Cerita penemuan vinkristin dan vinblastin dari ekstrak tapak dara mungkin bisa menjadi bukti jelas bahwa obat tradisional pun bisa berbahaya. Awalnya tanaman ini diduga memiliki efek antidiabetes. Para peneliti kemudian menguji efek ekstrak tanaman ini sebagai obat antidiabetes.
Namun, ternyata para peneliti itu menemukan fakta lain yang mengejutkan. Ekstrak tapak dara ternyata bisa menurunkan jumlah sel darah putih dan mengganggu fungsi sumsum tulang belakang. Efek buruk yang disangka-sangka ini kemudian membuat para ilmuwan berubah pikiran. Mereka tak lagi meneliti efek antidiabetesnya, tapi efeknya sebagai obat leukemia (kanker darah putih). Belakangan terbukti bahwa zat-zat fitokimia di dalam tapak dara memang bisa digunakan untuk kemoterapi leukemia.
Bagi orang yang menderita leukemia (sel darah putihnya terlalu ganas), efek penurunan sel darah putih ini justru menguntungkan. Tapi bagi orang sehat yang tidak menderita leukemia, efek penurunan sel darah putih dan gangguan sumsum tulang belakang bisa sangat membahayakan. Ini adalah contoh bahwa pemakaian obat tradisional bisa saja menimbulkan efek buruk yang sangat mungkin tidak kita sadari.
Dalam hal obat tradisional, selama ini kita lebih banyak menerima informasi khasiatnya daripada efek buruknya. Sebagai contoh, selama ini kita lebih banyak tahu khasiat buah mahkota dewa dan buah merah untuk penyakit ini dan itu, dibandingkan dengan kemungkinan efek sampingnya. Padahal dalam ilmu farmasi, informasi tentang keamanan mestinya dipastikan lebih dulu sebelum informasi tentang khasiatnya. First, do no harm.
Keamanan obat tradisional juga sangat ditentukan oleh kondisi pemakai. Misalnya, jamu cabe puyang secara empiris terbukti aman dikonsumsi. Namun jika jamu ini diminum oleh wanita hamil di bulan-bulan terakhir kehamilan, jamu ini diduga berbahaya karena justru bisa menghambat kontraksi rahim dan mempersulit persalinan. 

Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


1 comment:

  1. terimakasih banyak sob, sangat membantu sekali artikelnya...

    ReplyDelete