Tuesday, January 1, 2013

OBAT TRADISIONAL (6)


Pasal ke-5: Gunakan secara rasional.


Sejauh ini, obat tradisional memang belum mendapat tempat sepadan dengan obat modern. Kendala utamanya adalah biaya penelitian yang sangat tinggi. Agar bisa setara dengan obat modern, obat tradisional harus harus melewati banyak tahap dalam waktu yang sangat lama.
Kita ambil contoh kumis kucing. Secara empiris, tanaman bernama ilmiah Orthosiphon stamineus ini sudah biasa dipakai kakek nenek kita sebagai obat tekanan darah tinggi. Pada tahap ini, derajat kumis kucing masih sebagai jamu.
Secara empiris, khasiatnya sudah diakui. Tapi belum ada bukti ilmiah yang mendukungnya. Masyarakat dipersilakan memakai, tapi dokter belum sudi meresepkannya. Agar bisa diresepkan, obat tradisional harus punya data penelitian ilmiah yang komplet lebih dulu.
Supaya punya bukti ilmiah, tanaman ini harus diuji dahulu efeknya pada binatang coba. Jika terbukti aman dan menunjukkan efek penurunan tekanan darah, dokter baru akan mengakui khasiatnya. Tapi pada tahap ini pun dokter masih belum bersedia meresepkannya.
Kumis kucing baru akan dianggap setara dengan obat modern jika telah diuji pada manusia, bukan hanya pada binatang coba. Tahapan inilah yang kita kenal sebagai uji klinis. Setelah lulus uji klinis, obat ini baru bisa setara dengan obat-obat modern antihipertensi seperti kaptopril, hidroklorotiazida (HCT), dan sebangsanya.
Obat tradisional yang sudah melewati uji klinis ini biasa disebut “fitofarmaka”. Kalau obat tradisional sudah berbaju fitofarmaka, dokter baru sudi meresepkannya. Obat tradisional kategori ini sudah layak diresepkan karena memang sudah punya bukti klinis yang mendukung, bukan sekadar pengakuan Pak Karto atau Bu Karti.
Di Indonesia sejauh ini baru ada beberapa gelintir produk fiotfarmaka seperti Tensigard® (antihipertensi), X-Gra® (antidisfungsi seksual pria), Stimuno® (peningkat daya tahan tubuh), Nodiar® (antidiare), dan Rheumaneer® (antinyeri). Kita bisa mengetahui status fitofarmaka dari tanda khusus berupa lingkaran dan logo seperti kristal salju berwarna hijau di kemasannya.
Sekalipun sebuah obat tradisional sudah masuk kategori fitofarmaka, mekanisme kerjanya sebetulnya masih belum diketahui secara detail. Ini memang salah satu kekurangan kekurangan obat tradisional. Ini berbeda dengan obat-obat modern yang cara kerjanya diketahui secara sangat detail dan jelas.
Para peneliti belum bisa memastikannya karena kandungan obat tradisional jauh lebih kompleks daripada obat modern. Sebagai gambaran, dalam sehelai daun kumis kucing terdapat ratusan macam senyawa fitokimia. Begitu pula di dalam buah pace, pare, mahkota dewa, buah merah, dan sebagainya. Sebagian besar senyawa fitokimia ini tidak diketahui strukturnya, apatah lagi mekanisme kerjanya. Semuanya masih sebatas dugaan-dugaan.
Kebanyakan penelitian obat tradisional masih dalam tahap menguji ada tidaknya efek tertentu. Misalnya, apakah memang benar ekstrak buah mahkota dewa mempunyai efek menurunkan kadar gula darah. Penelitian-penelitian tersebut belum bisa menjawab pertanyaan lebih lanjut: senyawa apa yang punya efek menurunkan kadar gula darah; bagaimana strukturnya; dan bagaimana mekanisme kerjanya. Semua masih samar-samar.
Jika dokter mengatakan “belum ada buktinya”, itu sama sekali tidak berarti tanaman tersebut “pasti tidak berkhasiat”. Bisa saja tanaman tersebut memang berkhasiat. Masalahnya, belum ada penelitian yang mendukung. Dalam ungkapan para cerdik cendekia, "Ketiadaan bukti (absence of evidence) tidak sama dengan bukti ketiadaan (evidence of absence)." 
Dari fakta di atas, kita bisa melihat bahwa obat tradisional mestinya tidak boleh dipandang sebelah mata, juga tidak boleh digunakan secara membabi buta. Jangan meremehkannya, tapi jangan terlalu mudah percaya dengan klaim kemanjurannya.
Kalaupun sebuah obat herbal berkhasiat, biasanya khasiat itu baru akan kelihatan setelah pemakaian lama, sebulan atau bahkan beberapa bulan. Jadi, jangan berharap asam urat langsung terkendali pada pemakaian dua atau tiga hari. Jangan pula berharap berat badan turun 5 kg dalam seminggu. Jika efeknya begitu cespleng, justru kita harus curiga, mungkin saja obat itu sudah dicampur dengan obat kimia sintetis.  
Bagaimanapun, minum obat tradisional adalah hak setiap pasien. Sekalipun dokter melarang, keputusan akhir tetap berada di tangan pasien. Jika seseorang sudah memutuskan untuk minum obat tradisional, sebaiknya ia terus memantau perubahan yang terjadi pada kesehatannya, baik perubahan yang baik maupun perubahan yang buruk.
Obat tradisional harus digunakan dengan kritis. Kita tidak perlu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa tanaman anu pasti punya khasiat anu. Akan tetapi, kita juga tidak boleh terlalu cepat menghakimi bahwa khasiat tanaman obat hanya mitos belaka. Semua harus dipandang secara rasional.
Bisa saja suatu saat nanti ilmuwan berhasil mengisolasi obat antihepatitis dari meniran dan temu lawak; obat antidiabetes dari ekstrak sambiloto dan brotowali; atau obat kanker dari buah mahkota dewa.
Kita boleh berharap ‘kan? 


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


No comments:

Post a Comment