Tuesday, March 26, 2013

PPA & OBAT PELEGA HIDUNG





Di Indonesia, obat yang biasa disebut PPA (singkatan versi Inggris: phenyl propanolamine) ini sering sekali diributkan. Hampir sepanjang tahun. Dan lucunya, setiap tahun, materi yang diributkan itu-itu saja tapi tetap saja berulang. Beberapa tahun lalu, beredar hoax alias kabar tak benar yang menyebar lewat SMS dan e-mail. Isi berita itu mengatakan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Republik Indonesia telah melarang peredaran semua produk obat yang mengandung PPA. Di akhir tulisan, terdapat perintah yang tegas sekali: kirimkan informasi ini kepada setiap orang yang Anda kenal!

Badan POM sudah beberapa kali memberikan penjelasan resmi. Meski begitu, hoax ini masih saja beredar. Penyebarannya jauh lebih cepat daripada berita resmi yang dikeluarkan oleh Badan POM.

Sebetulnya bagaimana sih duduk perkaranya?

Seperti yang sudah dijelaskan di Bab Obat Flu-Pilek, khasiat utama PPA adalah melegakan hidung yang mampet. Itu sebabnya, obat ini biasa dijumpai di dalam produk obat flu-pilek dan obat batuk. Namun, selain efek melegakan hidung, obat ini juga punya beberapa efek samping, misalnya jantung berdebar-debar, tekanan darah tinggi, dan berkurangnya nafsu makan.

Karena bisa mengurangi nafsu makan, PPA di beberapa negera dimanfaatkan sebagai obat pelangsing yang dijual bebas. Dosisnya dibuat tinggi sehingga peminumnya kehilangan nafsu makan dan akhirnya bisa kurus.

Sebagai pelega hidung mampet, dosis PPA biasanya tidak lebih dari 15 mg. Tapi sebagai obat pelangsing, dosisnya bisa beberapa puluh miligram. Jauh di atas dosis yang lazim untuk obat flu-pilek dan batuk.

Dalam dosis besar ini, PPA bisa meningkatkan risiko perdarahan di otak alias stroke. Itu sebabnya Food and Drug Administration (FDA, Badan POM di Amerika Serikat) melarang peredarannya sejak November 2000. Di beberapa negara lain, PPA tidak boleh beredar, atau boleh beredar tapi hanya boleh didapatkan dengan resep dokter.



Itu kebijakan di luar negeri. Bagaimana dengan Indonesia?

Di bawah ini saya ceritakan secara bebas penjelasan resmi Kepala Badan POM Dokter Husniah Rubiana Thamrin Akib, Sp.FK, tahun 2009. Penjelasan ini masih bisa dipakai sebagai acuan hingga sekarang karena kasus salah-informasi tentang PPA masih sering berulang dan isinya sebetulnya sama saja dari tahun ke tahun. (Ini salah satu tabiat buruk kita. Meributkan hal yang sama berulang-ulang, bertahun-tahun.)




Dibatasi, Bukan Dilarang

Sampai sekarang FDA Amerika masih merupakan rujukan utama di tingkat internasional mengenai obat dan makanan. Badan POM Republik Indonesia pun biasa merujuk ke badan ini. Namun, dunia farmasi tak bisa dilepaskan dari aspek budaya masyarakat. Dalam hal PPA, masyarakat Indonesia berbeda dari Amerika.




Di Amerika, PPA, selain digunakan di obat pilek, juga digunakan sebagai obat pelangsing dalam dosis besar. Kebiasaan ini tidak berlaku di Indonesia. Di negara kita, PPA tidak lazim dipakai sebagai obat pelangsing. Obat ini lazimnya hanya digunakan dalam obat flu-pilek dan batuk dalam dosis kecil, tak lebih dari 15 mg. Dosis ini dianggap masih aman. Itu sebabnya Indonesia tidak melarang peredaran obat flu-pilek dan batuk yang mengandung PPA.

Yang dilakukan Badan POM adalah membatasi kadar PPA di dalam produk obat, maksimal 15 mg dalam satu takaran. Yang dimaksud satu takaran di sini adalah dosis sekali minum. Hanya produk yang mengandung PPA di atas 15 mg per takaran yang harus ditarik dari pererdaran.  

Jadi, di Indonesia, PPA tidak dilarang beredar, melainkan dibatasi pemakaiannya. Obat-obat flu-pilek yang mengadung PPA masih boleh beredar, masih bisa diminum sebagai pelega hidung, asalkan sesuai dengan batasan di atas.

Yang perlu dicatat, PPA memang punya beberapa efek samping buruk yang harus diwaspadai, misalnya jantung berdebar, tekanan darah meningkat, pusing, dan susah tidur. Itu  sebabnya obat ini tidak boleh diminum oleh pasien yang punya darah tinggi, masalah jantung, diabetes, atau glaukoma (tekanan tinggi bola mata).

Makin besar dosis yang diminum, makin besar pula kemungkinan timbulnya efek samping tersebut. Hal ini perlu ditegaskan karena orang Indonesia punya kebiasaan tidak baik dalam minum obat, yakni minum beberapa tablet sekaligus, melebihi dosis yang dianjurkan.  

Efek buruk ini sebetulnya bukan hanya dimiliki oleh PPA, tapi juga obat-obat dekongestan lain yang masih satu golongan, misalnya efedrin, fenilefrin, dan pseudoefedrin. Jadi, kalau kita dianjurkan waspada terhadap PPA, mestinya kita juga waspada terhadap efedrin dan pseudoefedrin.

Di jajaran obat bebas, banyak sekali obat flu, pilek, dan batuk yang mengandung PPA, eferdrin, dan pseudoefedrin bersama obat-obat jenis lain. Ini juga merupakan salah satu kebiasaan industri farmasi yang tidak baik, yaitu mencampur berbagai obat dalam satu sediaan. Agar kita terhindari dari paparan obat yang tidak kita perlukan, setiap kali hendak membeli dan minum obat, biasakan untuk selalu membaca komposisinya.


Untuk mengurangi efek samping obat pelega hidung, kita bisa memilih dekongestan dalam bentuk obat tetes hidung. Karena langsung diteteskan di hidung, obat ini tidak begitu banyak diserap oleh tubuh sehingga efek sampingnya pun minimal. Secara umum, obat tetes hidung ini bisa dipakai oleh ibu hamil maupun penderita hipertensi. Contoh dekongestan tetes: oksimetazolin, xilometazolin. Contoh merek dagang: Afrin®, Iliadin®, Otrivin®.



Meski relatif aman, produk dekongestan tetes hidung ini tidak boleh dipakai sering-sering dan lebih dari tiga hari. Pasalnya, makin sering dan makin lama digunakan, obat ini justru bisa membuat penyumbatan hidung semakin sulit diatasi kecuali dengan cara menaikkan dosisnya terus-menerus. Ini efek buruk yang harus dihindari dengan cara menggunakannya sesekali saja jika memang penyumbatan hidung sangat mengganggu.



Jika penyumbatan hanya disebabkan oleh ingus yang kental, kita bisa menggunakan tetes hidung yang berisi larutan garam steril. Contoh merek dagang: Breathy®. Karena isinya hanya air dan garam, obat tetes ini sangat aman, bisa dipakai lebih sering dan lebih lama. 



Dalam produk obat flu, dekongestan biasanya dikombinasikan dengan kelompok obat lain, misalnya antihistamin (CTM dkk), antinyeri-antidemam (parasetamol dkk), dan obat batuk. Contoh-contoh kombinasi dan merek dagang bisa dilihat di Bab Obat Flu-Pilek

Obat
Contoh merek dagang
PPA (fenil propanolamin)
Allerin®, Alpara®, Anacetine®, Anadex®, Antiza®, Bestocol®, Bodrexin Syrup®, Codecon®, Colfin®, Collerin Expectorant®, Combi Flu®, Contac 500®, Corsagrip®, Cough EN Expectorant®, Decolgen Tablet®, Decolsin®, Deconal®, Dextral/Dextral Forte®, Dextrosin®, Dextrosin Anak®, Extra-Flu®, Farapon®, Flu Stop®, Flucadex®, Flucodin®, Fludane®, Flunax®, Flu-Tab®, Flutamol®, Fluzep®, Frigrip®, Kontrabat®, Lacoldin®, Lapisiv®, Mixaflu®, Mixagrip®, Molexflu®, Nalgestan®, Neo Novapon®, Neozep Forte®, Nodrof®, Oskadon Flu & Batuk Berdahak®, Paranomin®, Paratusin®, Ponflu®, Pyridryl®, Recomint®, Sanaflu Plus Batuk®, Sanaflu/Sanaflu Forte®, Stop Cold®, Topras®, Triadex®, Tuzalos®, Ultragrip®       
Pseudoefedrin
Actifed®, Actifed Plus Cough Suppressant®, Actifed Plus Expectorant®, Alco®, Aldisa SR®, Alerfed®, Bantif Child®, Berlifed®, Bodrex Flu & Batuk®, Bodrex Flu & Batuk Berdahak®, Bodrexin Flu & Batuk®, Bodrexin Pilek Alergi®, Cirrus®, Clarinase®, Colpica®, Contrex®, Corhinza®, Crofed®, Cronase®, Decolgen FX®, Decolgen Syrup®, Disudrin®, Fexofed®, Flurin®, Flurin Dmp®, Flutrop®, Gifed Expectorant®, Grafed®, Hustadin®, Ikadryl Flu®, Lapifed®, Lapifed DM®, Lapifed Expectorant®, Librofed®, Mertisal®, Neo Protifed®, Neo Triaminic®, Nichofed®, Noscapax®, Nostel®, Panadol Cold & Flu®, Panadol Cold & Flu Night®, Paratusin®, Polaramine Expectorant®, Procold®, Pro-Inz®, Protifed®, Quantidex®, Refagan®, Rhinofed®, Rhinos Junior®, Rhinos Neo®, Rhinos SR®, Telfast Plus®, Tremenza®, Triaminic Batuk & Pilek®, Triaminic Expectorant & Pilek®, Triaminic Pilek®, Trifed®, Trifedrin®, Trifedrin Plus®, Tuseran Pedia DMP®, Tussigon®, Valved®, Valved DM®, Zentra®
Efedrin
Asmadex®, Asmano®, Asmasolon®, Asthma Soho®, Bronchitin®, Ersylan®, Grafasma®, Kafsir®, Koffex For Children®, Mixadin®, Oskadryl®, Phenadex®, Poncolin®, Poncolin D®, Theochodil®, Thymcal®  
Fenilefrin
Bisolvon Flu®, Coricidin®, Dextrofen®, Dextrosin®, Domeryl®, Fludexin®, Fortusin®, Ikadryl DMP®, Lodecon®, Lodecon Forte®, Mersidryl®, Neladryl DMP®, Nipe®, Poncodryl DMP®, Supra Flu®, Zacoldine®



Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.



1 comment:

  1. Jadi ngeri mau konsumsi obat pelega hidung.

    ReplyDelete