Friday, March 22, 2013

SUPLEMEN (2)


Konsultasikan ke dokter
Meskipun suplemen bisa dibeli tanpa resep dokter, Food and Drug Administration (FDA) tetap menyarankan konsumen berkonsultasi pada dokter lebih dulu sebelum mengonsumsinya. Ini perlu dilakukan terutama jika orang yang minum sedang hamil, menyusui, menderita penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung lainnya. Pasalnya, komponen tertentu dari suplemen mungkin dapat berinteraksi dengan obat atau kondisi fisik peminumnya.
FDA mencontohkan: ginkgo biloba, vitamin E, dan vitamin K bisa berinteraksi dengan aspirin (obat antinyeri dan penurun demam) dan obat pengencer darah, serta bisa meningkatkan risiko pendarahan internal.
Selain bisa berinteraksi dengan obat atau kondisi tubuh, jika diminum secara keliru, suplemen juga malah dapat merugikan kesehatan. Sebagai contoh, suplemen yang mengandung campuran ginseng dan kafein bisa menyebabkan hipertensi jika diminum dalam jangka panjang. Padahal sebagian dari kita mungkin tidak bisa memulai aktivitas harian sebelum dipacu oleh kafein dan ginseng.

Perhatikan Angka Kecukupan Gizi
Pada label suplemen, biasanya dicantumkan suatu daftar yang memuat kandungannya, berikut persen Angka Kecukupan Gizi (AKG). AKG menyatakan rata-rata jumlah vitamin atau mineral yang diperlukan tiap hari untuk mencapai kondisi sehat.
Biasanya, AKG disusun berdasarkan kebutuhan orang pada diet 2.000 kalori. Namun ini tidak sama untuk semua orang. Besarnya kebutuhan vitamin dan mineral dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, aktivitas, kondisi fisik, dll. Anda yang sangat aktif, bisa membutuhkan lebih dari 2.000 kalori per hari. Sebagai akibatnya, AKG-nya juga tentu lebih besar daripada mereka yang kurang aktif.

Gizi Makanan Lebih Baik
Setidak-tidaknya ada dua alasan mengapa mendapatkan zat gizi dari makanan lebih baik daripada lewat suplemen. Yang pertama, makanan mengandung zat gizi yang lebih kompleks. Segelas susu, misalnya, memberi kita kalsium, vitamin A, B-12, D, fosfor, magnesium, seng, dan masih banyak lagi zat gizi lain dalam komposisi yang alami. Komposisi ini tidak mungkin kita ganti dengan suplemen.
 Alasan kedua, di dalam makanan terdapat bahan-bahan fitokimia lain yang berguna dan tidak bisa ditemukan di dalam suplemen. Sebagai contoh, buah-buahan dan sayuran. Selain mengandung vitamin dan mineral, buah dan sayuran mengandung serat, protein, lemak, karbohidrat, dan puluhan bahan fitokimia yang berguna bagi tubuh, seperti flavonoid, alkaloid, minyak asiri, dll.
Meskipun mekanisme kerja sebagian bahan-bahan fitokimia ini belum diketahui sepenuhnya, para ilmuwan yakin bahwa mendapatkan zat gizi dari sumber makanan lebih baik daripada dalam bentuk senyawa murni atau ekstrak seperti di dalam suplemen.

Jangan Mudah Percaya Iklan
Di Indonesia terdapat ribuan merek suplemen yang beredar di pasar. Semua berlomba menggaet konsumen dengan iklan-iklan yang menggoda. Bahkan ada juga produsen yang mengiklankan produknya dengan cara yang sebetulnya tidak diperkenankan menurut regulasi periklanan produk farmasi, terutama produk suplemen yang mengandung bahan herbal.
Produk-produk ini sering diiklankan memiliki khasiat ini dan itu, serta aman dikonsumsi jangka panjang tanpa efek samping. Faktanya, tidak semua bahan alam pasti aman dikonsumsi jangka lama.
Pengaruh iklan bisa membuat konsumen berharap terlalu banyak dari suplemen, apalagi jika melihat model iklan yang ditampilkan. Padahal, Dian Sastro memang sudah cantik dari sononya meskipun tidak minum suplemen vitamin E.



Tip Memilih Suplemen

Jika kita yakin butuh suplemen, beberapa hal berikut bisa kita pertimbangkan:

v  Hindari suplemen megadosis atau yang komposisinya tidak berimbang, misalnya 500% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk satu jenis vitamin, tetapi hanya 20% AKG untuk vitamin lain.
v  Periksa tanggal kedaluwarsanya. Hindari suplemen tanpa tanggal kedaluwarsa.
v  Teliti juga kemasannya. Kebanyakan senyawa vitamin mudah terurai, terutama jika disimpan dalam kondisi panas (misalnya di etalase yang terkena sinar matahari langsung) dan lembap. Kemasan buram, kotor, atau terdapat endapan pada larutannya, menunjukkan isinya sudah mengalami penurunan kadar.
v  Bersikaplah kritis dalam menilai mutu dan harga. Pada dasarnya semua suplemen yang terdaftar di Badan POM telah memenuhi kualitas minimal. Meski demikian, kualitas tambahan (misalnya kemudahan diserap tubuh) bisa berbeda meskipun komposisinya sama. Kualitas tambahan ini ditentukan oleh bahan-bahan tambahan dan teknologi formulasi masing-masing produsen. Namun ini pun tidak berarti kualitas suplemen yang mahal pasti lebih baik daripada suplemen murah. Harga sebuah produk dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya kemasan dan biaya iklan. Semakin luks kemasannya dan semakin gencar iklannya, harga produk farmasi biasanya juga akan semakin mahal. Ada kalanya produsen memosisikan produknya pada harga premium karena ingin menunjukkan sifat eksklusifnya, padahal bisa saja mutu produk sebenarnya biasa saja. 
v  Hindari suplemen yang belum terdaftar di Badan POM, termasuk suplemen impor. Selama ini kita menganggap suplemen impor pasti berkualitas. Kenyataannya bisa bertolak belakang.
v  Untuk kita yang punya masalah alergi, hindari suplemen yang mengandung komponen alergen. Sebagai contoh, jika kita alergi terhadap makanan laut, hindari suplemen yang mengandung komponen bahan dari laut.


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.


No comments:

Post a Comment