Wednesday, March 20, 2013

VITAMIN C



Di pasaran terdapat ribuan merek suplemen vitamin. Biasanya satu produk suplemen mengandung beberapa jenis vitamin (multivamin). Seringkali dosisnya lebih besar dari kebutuhan harian kita, terutama vitamin C. Ini vitamin yang paling sering dijual dalam dosis tinggi.
Kebutuhan rata-rata kita terhadap vitamin C tidak lebih dari 100 mg sehari. Tapi coba perhatikan kemasan produk-produk suplemen vitamin C. Banyak di antaranya yang mengandung vitamin C 500 mg hingga 1.000 mg.
Vitamin C memiliki banyak sekali fungsi: menjaga daya tahan tubuh, menetralkan radikal bebas perusak sel-sel tubuh (seperti polutan dan asap rokok), mengurangi risiko kanker, memperlambat penuaan dini, mempercepat penyembuhan luka, dan sebagainya.
Di antara bermacam-macam vitamin, vitamin C adalah vitamin yang paling banyak dibutuhkan manusia. Kebutuhan kita terhadap vitamin ini sekitar 75-90 mg per hari. Sementara vitamin-vitamin lain hanya dalam hitungan mikrogram. Kalaupun miligram, tidak lebih dari sepertiganya.
Pendek kata, vitamin C adalah vitamin multifungsi. Sedemikian banyak fungsinya, sehingga vitamin ini dicampurkan ke dalam berbagai produk farmasi, mulai dari suplemen, obat flu, antiinfeksi mulut, obat panas dalam, hingga antianemia.

Siapa yang Butuh Ekstra?
National Institutes of Health merekomendasikan untuk orang-orang tertentu agar mengonsumsi vitamin C lebih besar dari rata-rata orang. Mereka adalah perokok, penderita stres fisik maupun mental yang berkepanjangan, orang dengan HIV/AIDS, penyandang TBC, luka bakar, kanker, hipertiriodisme, dan infeksi dalam jangka lama.

Hati-hati pada Sakit Mag
Larutan vitamin C di dalam air bersifat asam (namanya saja “asam askorbat). Jika diminum dalam dosis tinggi, vitamin C bisa menyebabkan keasaman lambung meningkat tajam. Karena itu jika mag Anda bermasalah, hindari minum vitamin C dalam keadaan perut kosong. Untuk mengurangi efek asam ini, sebaiknya vitamin C diminum bersama makanan lain.
Selain cara tersebut, kita juga bisa memilih sediaan vitamin C yang tidak berupa asam askorbat, namun terikat dengan mineral, misalnya kalsium askorbat. Karena bagian asamnya dihilangkan, bentuk ini relatif lebih bersahabat buat lambung yang bermasalah. Di dalam tubuh, bentuk asam maupun bentuk kalsium tetap memiliki fungsi yang sama, sebagai vitamin C.

Buah dan Sayur Lebih Baik
Sumber utama vitamin C adalah buah dan sayuran. Hampir semua buah mengandung vitamin C. Jeruk, semangka, apel, jambu, anggur, melon, mangga, nanas, apokat, pisang, dan sebagian besar buah-buahan. Dari golongan sayuran, vitamin C terdapat pada tomat, brokoli, kol, cabe, paprika, dan hampir semua sayuran segar lainnya.
Vitamin C termasuk golongan vitamin larut di dalam air. Karena itu kita akan kehilangan manfaatnya jika memasak sayuran yang kaya vitamin C, kemudian membuang kuahnya. Dibandingkan dengan vitamin yang lain, vitamin C paling mudah terurai oleh panas dan lembap. Karena itu manfaat sayuran sebagai sumber vitamin C akan berkurang jika dimasak pada suhu tinggi. Dengan alasan yang sama, suplemen vitamin C akan kehilangan manfaat jika disimpan di tempat panas dan lembap.
Vitamin C sebetulnya paling bagus didapat dari makanan sehari-hari, berupa buah atau sayuran. Sebab, buah dan sayur mengandung komposisi gizi yang lebih baik daripada suplemen. Dari makanan nabati ini, kita tidak hanya akan mendapat vitamin C, tapi juga vitamin lain, mineral, serat, dan bahan-bahan fitokimia yang bermanfaat bagi kesehatan. 

Perlukah Minum hingga 1.000 mg?
Penyerapan vitamin C di saluran cerna dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah besarnya dosis yang kita minum. Semakin besar dosis, persetase yang diserap semakin kecil. Gambaran mudahnya, Jika kita minum kurang dari 20 mg, sekitar 98%-nya diserap oleh tubuh. Namun jika kita minum 1.000 mg, yang diserap oleh tubuh hanya sekitar 50%. Dengan kata lain, penyerapan vitamin C akan lebih baik jika diminum beberapa kali dalam dosis kecil, daripada satu kali dalam dosis besar.
Meskipun kebutuhan harian kita terhadap vitamin C tidak lebih dari 100 mg, dalam kenyataannya, banyak dari kita yang minum vitamin C jauh lebih besar dari itu, mulai dari ratusan hingga ribuan milligram dalam sehari. Selain hanya akan dibuang lewat urine, tidak ada alasan bagi orang kebanyakan untuk minum vitamin C lebih dari 500 mg per hari.

Perlu Diperhatikan

                    Hindari minum vitamin C dengan dosis kelewat tinggi (di atas 2.000 mg). Selain hanya akan dibuang, kadar vitamin C yang terlalu tinggi bisa menyebabkan gangguan lambung dan diare. Di dalam tubuh, vitamin C juga bisa menjadi oksalat, dan akan meningkatkan risiko batu ginjal.
                    Jangan minum vitamin ini ketika melakukan tes laboratorium. Jika kita melakukan tes gula darah, misalnya, maka kelebihan vitamin C di dalam darah akan “dibaca” sebagai glukosa oleh alat pendeteksi. Akibatnya, tentu saja kadar glukosa terbaca lebih tinggi dari yang sebenarnya, dan tentu saja bisa menyebabkan interpretasi yang keliru.
                    Vitamin C larut air, sehingga tidak pernah disimpan di dalam tubuh. Karena itu kita harus mendapatkannya setiap hari.
                    Jika kita penderita hipertensi dan menjalani diet rendah natrium, sebaiknya kita memperhitungkan kadar natrium ketika minum vitamin C dalam bentuk tablet effervescent (tablet buih). Di dalam tablet buih, terdapat natrium dalam bentuk bikarbonat. Bahan inilah yang menghasilkan buih jika berada di dalam larutan asam. Jumlah natrium bisa 150-230 mg (setara dengan 6-10% kebutuhan normal orang sehat).


Dapatkan buku karya pemilik blog iniBUKU OBAT SEHARI-HARIterbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia, toko buku online, dan toko buku lain.



No comments:

Post a Comment