Sunday, December 4, 2016

BATASI MINUM SUSU

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:





Susu formula adalah minuman sehat. Tapi ia bisa juga menjadi biang keladi masalah susah makan pada anak jika dikonsumsi secara tidak tepat. Contoh, banyak orangtua memberi anaknya susu formula sebanyak yang anak mau. Kapan pun anak minta susu, orangtua memberinya. Akibatnya, anak tidak mengerti rasa lapar sehingga nafsu makannya pun terganggu.

Susu, seperti kita tahu, berisi karbohidrat (laktosa), lemak, dan protein. Begitu susu masuk ke dalam lambung, air dan zat-zat gizi itu akan membuat rasa lapar si anak seketika hilang. Ketika mereka lapar lagi, mereka akan berpikir tentang susu lagi, bukan tentang nasi dan lauk pauk seperti kita. Maka ketika mereka disuguhi nasi, sayur, dan lauk, mereka tidak begitu berminat makan.

Inilah alasan kenapa kita sebaiknya tidak memberikan susu formula pada si kecil menjelang jam makan. Kalau kita mau memberikan susu, setidaknya jarak antara minum susu dan makan sekitar 1,5 jam. Boleh saja si kecil minum susu formula. Tapi jangan lupa pedoman umumnya: setelah anak disapih, susu tidak boleh menjadi makanan utama.

Sapih Pelan-pelan
Hingga anak berusia satu tahun, ASI memang tetap makanan utamanya. Tapi sejak usia enam bulan, anak harus diperkenalkan pada makanan pendamping ASI (MPASI). Tujuannya adalah melatih anak makan selain susu. Di sini, tahapnya baru latihanmakan, bukan makan yang sebenarnya.

Setelah umur satu tahun, MPASI harus bervariasi. Porsinya harus sedikit demi sedikit ditingkatkan. Si kecil harus mendapatkan karbohidrat dari makanan pokok seperti nasi. Ia juga harus mendapatkan protein dan lemak dari lauk-pauk. Ia juga harus mendapatkan mineral dan vitamin dari sayur dan buah.

Begitu berumur dua tahun, anak mestinya sudah bisa lepas dari susu. Jadi, sejak si kecil berusia enam bulan, orangtua harus sudah merencanakan proses penyapihan agar anak tidak terus-terusan tergantung kepada susu.

Susu Bukan Pengganti Nasi
Anak ASI pada umumnya lebih sehat daripada anak yang sejak bayi minum susu formula. Meski demikian, anak ASI pun tetap bisa saja mengalami susah makan. Anak saya contohnya.

Dia mendapat ASI eksklusif enam bulan dan tetap mendapat ASI sampai dua tahun penuh. Tapi toh ia tetap mengalami susah makan sejak diperkenalkan dengan MPASI. Anak ASI saja bisa susah makan, apalagi anak-anak yang sejak bayi tidak mendapatkan ASI dan hidup dari susu formula.

Banyak orangtua keliru dalam memandang fungsi susu formula. Mungkin karena termakan propaganda iklan, mereka menganggap susu formula sebagai pengganti makan. Padahal, susu bukan pengganti nasi dan lauk.

Susu hanyalah salah satu jenis makanan bergizi, sama seperti ikan, tempe, telur, dan lain-lain. Banyak orangtua yang begitu mengandalkan susu sampai menjadikannya sebagai solusi anak susah makan. Tiap kali anaknya mogok makan, ia langsung diberi susu.

Dalam jangka pendek, cara ini memang bisa menyelamatkan anak dari kelaparan dan kurang gizi karena memang susu adalah minuman bergizi tinggi. Bahkan anak-anak yang cuma minum susu tanpa makan pun bisa lebih gemuk daripada anak yang makan nasi, lauk, sayur, dan buah. Namun, dalam jangka panjang cara seperti ini justru akan membuat anak makin susah makan.

Mestinya, ketika anak mengalami susah makan, orangtua mencari tahu penyebabnya lebih dulu lalu mencari solusinya, bukannya langsung lari ke susu formula. Misalnya, jika anak ogah makan karena kurang diajak bermain, orangtua harus berusaha mengajaknya bermain.

Di sinilah masalahnya. Banyak orangtua tidak mau repot-repot. Maunya yang gampang-gampang saja tanpa mempertimbangkan kesehatan anaknya. Tinggal beli susu, bayar pembantu, beres. Mengatasi anak susah makan memang butuh perjuangan. Tapi bukankah itu memang kewajiban orangtua sekaligus hak tiap anak? J 

Gizi susu formula memang bisa padat sekali sebab ditambah dari luar mirip suplemen multivitamin. Tapi susu formula sehebat apa pun tidak pernah bisa menggantikan gizi makanan yang variatif. Jangan mudah terpedaya oleh iklan susu. Di tengah gempuran iklan susu formula di televisi, memang hanya ibu-ibu perkasa yang bisa menjaga anaknya agar tidak menjadi “anak sapi”.


Gemuk Bukan Tanda Sehat
Hingga sekarang masih banyak orangtua yang berpandangan bahwa anak gemuk itu lebih sehat daripada anak yang kurus. Apalagi balita yang gemuk ginuk-ginuk biasanya memang tampak lebih menggemaskan daripada yang langsing.

Karena ingin punya anak gemuk, banyak orangtua menempuh jalan gampang, memberi susu sebanyak-banyaknya. Pagi susu, siang susu, sore susu, malam susu. Itu pun masih ditambah dengan aneka cemilan berbahan susu, keju, atau sejenisnya. Padahal, susu mestinya sebagai pelengkap saja, bukan makanan utama. Di lagu anak-anak pun, kita diajari, “Belalang kupu-kupu, siang makan nasi, kalau malam minum susu.”

Sumber: 123rf.com/

Begitu anak disapih, susu sebaiknya tidak lagi menjadi makanan pokok. Sehari tak perlu sampai tiga atau empat kali. Boleh saja si kecil minum susu formula tapi ia harus mulai dibiasakan memperoleh gizi dari makanan yang bervariasi seperti orang dewasa. Makanannya harus meliputi nasi (makanan pokok), lauk-pauk, kacang-kacangan, sayur, dan buah.

Anak yang makannya sedikit-sedikit pun tidak masalah asalkan sering dan jumlah total gizinya masih bisa mencukupi kebutuhan nutrisinya sehari-hari. Gemuk bukan indikator kesehatan pada bayi. Berat badan yang sehat pada bayi bisa dilihat di Kartu Menuju Sehat (KMS).

Anak yang menurut KMS tergolong agak kurus pun bisa saja sebetulnya sehat. Mungkin memang dia termasuk tipe anak kurus yang lincah. Anak saya termasuk dalam kategori ini. Tampaknya karena turunan DNA dari ayah dan ibunya yang tidak pernah merasakan jadi orang gemuk.


Walaupun si kecil sedang banyak makan pun, ia tidak bisa gemuk mempluk-mempluk. Paling-paling pipinya menjadi lebih bulat dan perutnya lebih gendut. Yang penting, dia sehat, aktif bergerak, cerdas, dan jarang sekali sakit. Ini indikator yang lebih penting daripada badan gemuk.  

No comments:

Post a Comment