Sunday, December 4, 2016

MAKAN DENGAN CINTA

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:





Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia akan belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia akan belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia akan belajar menghargai

-----

Anda mungkin sudah akrab dengan nukilan terjemahan puisi Children Learn What They Live, karya Dorothy Law Nolte di atas. Puisi yang sering dikutip para pendidik ini juga sangat relevan untuk kita jadikan sebagai pedoman dalam memberi makan si kecil.

Jika anak makan dengan ancaman, dia akan belajar trauma
Jika anak makan dengan apresiasi, dia akan belajar menyukai 
Jika anak makan dengan gembira, dia akan selalu menunggu jam makan tiba
Jika anak makan dengan aneka rupa, dia akan belajar menjelajahi dunia
Jika anak makan dengan cinta, ia juga akan belajar cinta

Masalah anak susah makan adalah salah satu ujian cinta orangtua kepada anaknya. Banyak orangtua menjadi begitu stres dan uring-uringan tiap kali menyuapi anaknya. Ini masih belum seberapa. Banyak juga orangtua yang tak mau disibukkan dengan urusan susah makan, dan memilih menyerahkan si kecil kepada neneknya atau pembantu.

Bagaimanapun, pengasuhan orangtua secara langsung tidak mungkin tertandingi oleh pengasuhan sang nenek, apalagi oleh asisten rumah tangga. Pembantu mungkin bisa telaten menemani si kecil seharian, tapi orangtua tentu lebih paham mengenai aspek gizi dan tumbuh kembang anak.

Setiap anak itu unik. Agar bisa menyelesaikan masalah susah makan, orangtua harus melakukan pengamatan langsung terhadap si kecil. Supaya bisa mengamati, tentunya paling tidak salah satu dari ayah atau ibu harus hadir di rumah menemani si kecil. Hampir tidak mungkin tugas pengamatan ini kita wakilkan kepada orang lain, entah asisten rumah tangga atau neneknya.

Si nenek mungkin sudah berpengalaman mengasuh balita. Tetapi kadang ilmu mereka tidak cocok lagi dengan perkembangan ilmu kesehatan zaman sekarang. Masalah balita zaman dulu jelas berbeda dengan masalah balita zaman sekarang.

Dulu para ibu hampir selalu menyusui semua anaknya, yang jumlahnya kadang sampai belasan. Sekarang kondisinya jauh berbeda. Banyak balita yang tidak mendapatkan ASI dan hidup dari susu formula.

Dulu jajanan anak tidak begitu banyak. Sekarang jajanan pemicu radang tenggorok menyerbu anak-anak dari segala penjuru. Dulu televisi belum ada di setiap rumah. Sekarang “kotak pandora” ini ada di setiap kamar di dalam rumah kita. Dulu anak-anak bermain di luar rumah, sekarang mereka dikungkung seharian di dalam rumah.

Ada kalanya masalah anak susah makan bermula dan berlarut-larut karena si kecil tidak diasuh langsung oleh orangtuanya. Biasanya bapak ibunya bekerja kantoran lalu si anak diserahkan nasibnya ke pabrik susu formula. Orangtua tidak berani meninggalkan pekerjaan kantor karena khawatir tidak bisa membeli susu formula buat anaknya.

Padahal secara natural setiap perempuan diciptakan dengan sepasang payudara yang bisa menghasilkan susu dengan kualitas tiada tandingannya. Hebatnya lagi, payudara ini tetap bisa memproduksi susu, baik di rumah, di kantor, maupun di jalan. Susu itu bisa diperah kapan saja dan bisa awet segar di dalam lemari es. Jadi, walaupun pemilik payudara itu tak berada di rumah, si anak bisa tetap minum ASI.

Jika si ibu berusaha sungguh-sungguh memberikan ASI buat anaknya, tentunya dengan dukungan “bapak ASI”, setidaknya anak akan tercukupi ASI-nya sampai dua tahun. Ini akan memperkecil kemungkinannya mengalami masalah susah makan.

Gangguan susah makan akibat tidak mendapat ASI sering kali satu paket dengan gangguan daya tahan tubuh. Anak susah makan pada umumnya memiliki daya tahan tubuh yang kurang baik dan mudah jatuh sakit. Merawat anak seperti ini jelas membutuhkan kesabaran ekstra.

Jangan sampai kita hanya senang punya anak balita yang lucu, yang fotonya bisa dipajang di Facebook dengan kutipan kata-kata sayang, tapi sehari-hari dia menjadi tumpahan amarah karena ia dianggap rewel. Memarahi anak yang rewel karena susah makan hanya akan membuat dia makin susah makan. Si anak menjadi rewel bukan karena ia ingin melakukannya melainkan karena DNA mereka memang demikian.

Mereka mengalami problem susah makan karena sesuatu yang ada di dalam diri mereka, yang mereka sendiri tidak bertanggung jawab atasnya. Apa pun yang mereka bawa ke dunia ini bukanlah pilihan mereka sendiri melainkan konsekuensi dari apa yang dilakukan oleh ibu dan bapaknya. Maka memarahi anak yang tidak mau makan hanya menunjukkan ketidaksabaran orangtua menghadapi masalah dalam dirinya sendiri. Lagi pula, bukankah sikap marah justru akan merusak pahala mengasuh anak? J 

Satu-satunya pilihan bagi orangtua adalah membuktikan cintanya kepada si kecil dengan cara belajar mengatasi masalah. Mungkin butuh perjuangan berat tapi memang tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Memberi gizi yang baik adalah wujud cinta orangtua kepada anaknya. 

Sumber:Incrediblesmoothies.com/


Tak ada cinta yang lebih tulus daripada cinta seorang ibu kepada anaknya. Jika memang cinta orangtua benar-benar tanpa syarat, maka inilah saatnya untuk membuktikannya. Kita mungkin sampai kewalahan, tapi itu semua akan menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan.

Kerumitan mengatasi problem susah makan akan melengkapi pengalaman kita mengikuti perkembangan si kecil hari demi hari, sejak ia baru berupa setitik noda di gambar USG, sampai ia lahir dan tumbuh senti demi senti. Kita tahu bagaimana dia belajar tengkurap, berguling ke kiri, lalu menangis karena tidak bisa telentang kembali. Itu adalah momen-momen ajaib yang hanya akan kita dapatkan dengan perjuangan yang penuh pengorbanan.

Tidak hanya si ibu, sang ayah pun harus ikut berjuang dan berkorban. Jangan sampai perempuan dibiarkan pontang-panting sendiri mengurusi anak tanpa bantuannya. Apalagi jika si istri masih harus bekerja dan menangani langsung pekerjaan rumah tangga sehari-hari.

Tugas pengasuhan anak adalah tugas kedua orangtua, bukan tugas kaum perempuan saja. Jika seorang laki-laki masih berpikir bahwa tugas ini adalah tugas kaum hawa saja, mungkin ia lupa bahwa dia menyumbang 50% kromosom yang menyebabkan si kecil mengalami susah makan. J

Berdamai dengan Mertua
Daya tahan terhadap stres merawat anak adalah “kompetensi dasar” yang semestinya dimiliki oleh semua orangtua. Begitu juga kemampuan untuk tahan terhadap omelan mertua. Kompetensi yang terakhir ini terutama harus dimiliki oleh perempuan.

Kita tahu, salah satu persoalan klasik pengasuhan anak adalah intervensi mertua. Intervensi ini kadang sampai menyebabkan stres, terutama bagi anak mantu perempuan. Anda tentu ingat guyonan yang menyatakan bahwa pasangan yang paling bahagia di dunia adalah Adam dan Hawa karena mereka tidak memiliki mertua. Humor seperti ini timbul karena memang masalah menantu-mertua adalah problem umum yang terjadi di mana-mana.

Hal ini pun terjadi pada kami dalam urusan makan si kecil, terutama saat kami berkunjung ke rumah ibu saya. Tiap kali melihat si kecil tidak mau makan nasi, ibu saya biasanya mengomeli istri saya dan menyuruh dia menyuapi si kecil dengan nasi dan garam seperti yang ia lakukan zaman dulu. (Saya tentu saja tidak diomeli karena saya anaknya sendiri J

Tak lupa ia juga akan menyuruh istri saya mencekoki si kecil dengan temu ireng, atau melakukan ini dan itu. Padahal, cucunya masih sehat walafiat, masih mau makan kentang, roti, kacang hijau, pisang, ubi, talas, dan berbagai jenis sumber karbohidrat lainnya.

Si kecil memang tidak gemuk tapi badannya sehat dan sangat aktif. Dia memang tidak makan banyak tapi sedikit-sedikit dan cukup sering. Jadi, tidak cukup alasan untuk khawatir apalagi sampai mencekokinya dengan garam atau temu ireng.

Begitu pula kalau kami membawa si kecil ke rumah mertua saya. Kalau kebetulan anak kami tidak mau makan karena demam atau batuk pilek, mertua saya akan mengomeli istri saya dan dengan gusar akan menyuruh kami segera membawanya ke dokter. Padahal si kecil cuma mengalami sakit ringan yang bisa sembuh dengan sendirinya dan hanya memerlukan perawatan di rumah. (Lagi-lagi saya tidak kena omelan langsung karena saya mantu laki-laki J)

Bagaimanapun, mertua adalah juga orangtua. Namun, ada kalanya ilmu mereka sudah kedaluwarsa, walaupun tentu tidak semuanya. Untuk hal-hal yang kita yakini bahwa ilmu kita sudah benar karena ada referensi yang sahih, kita tak perlu melakukan perintah mereka yang justru membahayakan si kecil.


Banyak kearifan orang tua zaman dulu yang masih layak kita ikuti. Pemberian air tajin, misalnya. Ini adalah kearifan tradisional yang layak dilestarikan meskipun tidak ada rujukannya di referensi kesehatan yang disusun dokter-dokter Amerika. 

No comments:

Post a Comment