Sunday, December 4, 2016

PILIH MAKANAN SEHAT: TELUR, IKAN, DAN UDANG

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:


PROTEIN HEWANI

Balita berada dalam masa pertumbuhan yang pesat. Dia membutuhkan banyak protein untuk pertumbuhannya. Selain dari kacang-kacangan, ia juga sebaiknya mendapat protein dari bahan hewani seperti telur, daging ayam, daging sapi, ikan, susu, udang, dan seafood. Secara umum, protein hewani memiliki gizi yang lebih lengkap daripada protein nabati. 

Berikut ada beberapa sumber protein hewani yang utama:

1.      Telur
Untuk si kecil, kalau bisa kita tidak hanya memberinya telur ayam petelur tapi juga dikombinasi dengan telur ayam kampung. Harganya memang lebih mahal tapi telur ayam kampung memiliki komposisi gizi, terutama lemak esensial, yang lebih baik daripada telur ayam ras.

Sumber: Thestir.cafemom.com/

Masing-masing anak mungkin punya kesukaan tersendiri dalam urusan telur. Anak saya, misalnya, lebih suka kuning telur daripada bagian putihnya. Tak masalah. Kadang dalam sehari dia makan dua butir telur karena kebetulan neneknya memelihara ayam kampung sehingga punya banyak stok telur.

Kita, orang dewasa, sering menghindari kuning telur karena takut kolesterolnya. Aturan seperti ini tidak perlu diterapkan untuk balita. Mereka membutuhkan kolesterol untuk pertumbuhan sel-selnya yang berlangsung pesat.

Kalau telur ayam terlalu besar untuk si kecil, kita bisa memberinya telur puyuh. Persentase kandungan kolesterol telur puyuh lebih tinggi  daripada telur ayam. Namun, sekali lagi kita tak perlu takut dengan kandungan kolesterolnya karena si kecil memang membutuhkannya.

2.      Ikan
Banyak balita tidak menyukai ikan karena amisnya. Jika anak kita termasuk golongan ini, kita harus berjuang keras agar dia menyukai atau setidaknya mau makan ikan. Entah dengan menghilangkan sama sekali bau amisnya atau memasaknya menjadi bentuk lain sehingga si kecil tidak mengenalinya lagi sebagai ikan.

Ikan tidak hanya kaya protein tapi juga lemak esensial, vitamin A, vitamin D, dan mineral. Sungguh sayang jika buah hati kita tidak menyukai makanan ini.

Baik ikan laut atau ikan air tawar adalah sumber protein yang baik. Namun, secara umum, ikan laut mengandung lemak esensial yang lebih komplet daripada ikan air tawar. Lemak dari ikan banyak mengandung omega-3, salah satu jenis lemak baik, yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan sel-sel otaknya. Omega-3 ini merupakan salah satu zat gizi yang sering ditambahkan ke dalam susu formula dalam bentuk AA atau DHA.

Kita tahu, minyak ikan juga lazim dijadikan sebagai suplemen penambah nafsu makan. Nah, daripada minum suplemen, tentu lebih sehat jika si kecil makan ikan langsung. Dengan cara ini, ia tidak hanya mendapatkan minyak ikan tapi juga protein tinggi.

Sumber: Kids-cooking-activities.com/
Lemak dari ikan diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak di masa pertumbuhan. Itu sebabnya kita biasa mendengar nasihat, “Makan ikan biar cerdas.” Ini bukan slogan kosong karena memang omega-3 diperlukan untuk pertumbuah sel-sel otak si kecil.

Ikan juga kaya vitamin A, vitamin B, terutama B2 (riboflavin), dan vitamin D. Vitamin B2 diperlukan tubuh untuk berbagai proses metabolisme. Adapun vitamin D membantu penyerapan kalsium untuk kesehatan tulang.

Dari daftar gizi di atas, kita bisa tahu betapa besarnya manfaat ikan bagi kesehatan. Si kecil akan kehilangan banyak manfaat jika ia tidak begitu menyukai ikan, misalnya karena amisnya. Agar si kecil memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari ikan, sebaiknya kita memasak ikan dengan cara yang tepat.

•     Pilih ikan segar
Makin lama ikan disimpan, akan makin banyak kandungan omega-3 yang hilang. Kesegaran ikan biasanya bisa dilihat dari bau, tampilan kulit, dan insang. Ikan yang sudah tidak segar, selain kandungan nutrisinya kurang, juga bisa menyebabkan alergi, perut kembung, atau bahkan diare.

Jika bisa, setelah dibeli dari pasar, jangan disimpan terlalu lama. Sebaiknya langsung diolah. Kalau hendak disimpan di dalam freezer, sebaiknya bersihkan dan buang dulu isi perutnya, baru dimasukkan kulkas.

•     Jangan melulu digoreng
Agar manfaat omega-3 maksimal, sebaiknya ikan tidak melulu digoreng. Cara penggorengan memang praktis dan hasilnya memang ikan akan menjadi lebih gurih. Namun, cara goreng sebetulnya bukan cara terbaik untuk mempertahankan gizinya.

Pada saat ikan digoreng, omega-3 bisa larut ke dalam minyak goreng yang sebagian akan menjadi jelantah. Proses penggorengan, apalagi jika dilakukan dalam waktu lama dan suhu tinggi, juga bisa menghasilkan lemak trans yang merugikan kesehatan.

Paling gampang, sebetulnya ikan cukup kita kukus saja. Kalau lidah si kecil belum tercemar oleh garam atau MSG dosis tinggi, rasa daging ikan saja sebetulnya secara natural sudah cukup gurih, apalagi ikan mengandung glutamat, zat penyusun MSG alami. Sesekali kita pun perlu mencoba makan ikan tanpa bumbu apa-apa agar lidah kita bisa mengingat kembali rasa daging ikan yang masih alami.

Alternatif lain, ikan bisa kita masak sebagai sup, dipanggang, ditumis, dimasak tim, dibuat bakso, atau lainnya. Sesekali ikan digoreng atau dibuat nugget tentu tak masalah asalkan jangan terus-menerus demikian. 

•     Panaskan secukupnya
Daging ikan pada dasarnya mudah matang dan mudah dicerna. Tidak seperti daging ayam atau daging sapi yang butuh waktu masak lama agar bisa matang. Jika memang sudah matang, jangan biarkan ikan berlama-lama dipanaskan. Segera angkat.

Makin lama dipanaskan dan makin tinggi suhunya, makin banyak kandungan omega-3 yang hilang. Penggorengan yang lama juga akan menyebabkan daging ikan menjadi lebih keras dan lebih sulit dikunyah balita.

3.      Udang
Dalam hal gizi, udang setara dengan ikan-ikanan. Kalau si kecil memang benar-benar tidak mau makan ikan, kita bisa mencoba memberinya udang. Paling mudah, udang kita masak tumis dalam keadaan utuh. Adanya cangkang udang yang keras akan melindungi bagian daingnya supaya tidak terkena panas teralu tinggi. Setelah matang dan ketika akan kita sajikan kepada si kecil, barulah bagian cangkang dan kepalanya kita buang agar udang lebih mudah dikunyah.


Daging udang bisa juga kita ulek halus lalu kita campurkan ke dalam sup sayur atau bahkan nasi tim. Rasa udang yang gurih akan membuat sup menjadi lebih sedap sehingga akan meningkatkan kemungkinan si kecil mau makan wortel, brokoli, atau kembang kol. 

No comments:

Post a Comment