Sunday, December 4, 2016

SIASAT AGAR ANAK MAU MAKAN

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:



What, When, How To, How Much
Dalam hal makan, orangtua dan anak punya wewenang yang berbeda. Orangtua mengatur what (jenis makanan) dan when (jam makan), sementara anak menentukan how to (cara makan) dan how much(seberapa banyak yang ia makan).

Ketika si anak sudah merasa kenyang atau sudah tidak berselera, ia akan berhenti makan. Orangtua tidak perlu memaksanya menghabiskan makanan di piring yang kadang jumlahnya memang terlalu banyak. Paksaan seperti ini bisa membuat si anak justru makin tidak suka dengan kegiatan makan.




Ukuran lambung balita hanya sebesar kepalan kedua tangan mereka. Itu sebabnya mereka cepat kenyang hanya dengan tiga sendok suapan nasi. Jangan samakan lambung mereka dengan lambung orang dewasa yang bisa melar dan kadang muat nasi sampai dua piring. Balita bisa kenyang dengan sedikit makanan tapi mereka butuh makan lebih sering.


Ukuran lambung balita hanya sebesar kepalan kedua tangan mereka.

Kalau anak hanya mengobrak-abrik makanan di piring, orangtua tak perlu bersungut-sungut apalagi keluar tanduknya. (Sungut dan tanduk bukan bagian dari anatomi tubuh manusia, ‘kan? J) Daripada marah-marah, bayangkan sisi baiknya saja. Kalau si kecil senang mengobrak-abrik makanan, mungkin nanti saat dewasa dia akan menjadi seorang bos besar J.

Tawarkan Belasan Kali
Jika si anak menolak satu jenis makanan, jangan menyerah. Kita bisa mencoba menawarkannya lagi di lain waktu. Jika dia tetap menolaknya lagi, tetap jangan menyerah. Sayangnya, orangtua kadang menyerah setelah si anak menolak sampai tiga kali.

Padahal, menurut berbagai referensi yang terpercaya, orangtua disarankan menawarkan makanan tersebut sampai belasan kali. Ada yang menyebut 11 kali, ada yang menyebut 15 kali. Namun, tentu saja kita harus menggunakan trik yang berbeda. Kalau kita cuma mengulang-ulang cara yang sama, tentu kita tidak layak berharap memperoleh hasil yang berbeda.

Masing-masing anak mungkin punya kecenderungan yang khas. Anak saya, misalnya, awalnya tidak begitu suka makan tahu yang biasanya dihidangkan kepadanya sebagai tahu goreng. Tapi rupanya dia justru mau makan tahu yang cuma direbus begitu saja. Lebih mudah memasaknya, lebih bagus gizinya.

Cara Mengenalkan Makanan Baru
Salah satu trik mengenalkan makanan baru adalah dengan menawarkannya bersama makanan yang dia sukai. Misalnya, jika dia suka kacang hijau, dan kita ingin membuatnya suka makan ikan, kita bisa mengolah ikan itu dengan kacang hijau.

Sekali lagi, kita harus melihat dengan perspektif anak. Kita, orang dewasa, mungkin merasa aneh makan kacang hijau dengan ikan. Anak kecil tidak berpikir demikian. Kalau dia menyukai kacang hijau, dia mungkin akan lebih mudah menyukai makanan yang diolah bersama kacang hijau.

Persepsi terhadap makanan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan. Bagi kebanyakan orang Indonesia, kacang hijau dicampur gulai daging itu aneh. Tapi bagi orang keturunan Arab, kacang hijau dan gulai daging itu makanan lezat, apalagi kalau dinikmati dengan roti maryam.

Bagi orang Jawa tulen, bubur beras lazimnya dimakan dengan santan dan atau gula merah. Tidak lazim dicampur aduk dengan ikan. Tapi bagi orang Manado, bubur beras yang diolah dengan ikan itu makanan yang superlezat.

Hal yang sama juga berlaku untuk anak kecil. Bagi mereka, tak masalah ikan dicampur kacang hijau atau nasi dilumat dengan mangga. Kalau mereka menyukai rasanya, mereka akan memakannya.

Bisa jadi setelah ditawarkan berulang kali, apalagi jika diolah dalam bentuk lain, si anak kemudian menerimanya. Jadi, kalau kita baru menawarkannya tiga kali dan selalu ditolak, anggap saja itu sebagai pemanasan karena kita masih harus menawarkannya lagi sampai belasan kali. Sekali lagi, sabar, sabar, dan sabar... J

Makan Setengah Jam Saja
Berapa lama waktu makan yang wajar? Masing-masing orangtua mungkin punya batasan sendiri-sendiri. Ada sebagian orangtua yang karena begitu sabarnya sampai bersedia menunggui anaknya makan sampai satu jam. Namun, sebagian besar referensi kesehatan menyatakan, batasan waktu yang masih disebut “wajar” itu sekitar 30 menit.

Tentu saja kita boleh punya pendapat pribadi. Waktu 30 menit bukan batasan yang kaku. Ini hanya memberi pedoman umum: kalau anak kita makannya lambat sekali sampai katakanlah satu jam hanya dua tiga suapan, itu pertanda bahwa dia punya masalah. Dan kita harus segera berusaha mencari solusinya.

Beri Pilihan, Dia Memutuskan
Anak-anak suka bermain. Memilih satu dari dua alternatif pun bisa menjadi sebuah permainan yang menarik. Ini bisa kita manfaatkan dalam urusan makan. Kalau kita ingin dia makan sayur, kita bisa menyiapkan dua alternatif, misalnya brokoli dan wortel. Lalu dengan mimik antusias, kita ajak dia bermain, “Pilih yang warnanya hijau atau oranye?” Dengan cara ini, si kecil akan menjadi lebih tertarik untuk makan brokoli atau wortel, daripada jika kita bertanya kepadanya, “Adek mau brokoli?”

Trik yang sama juga kami terapkan pada anak kami dalam urusan lain, misalnya mandi. Saat mandi, dia kadang tidak mau disabuni. Untuk menyiasatinya, kami lalu menyediakan dua sampai tiga sabun yang warnanya berbeda. Hijau, kuning, biru. Sebelum mandi, dia kami tawari untuk memilih warna sabun yang disukainya. Setelah itu dia tidak menolak lagi disabuni dengan sabun pilihannya sendiri.

Anak-anak punya kecenderungan ingin melakukan apa saja sesuai keinginannya sendiri. Dengan dibiarkan memilih sendiri, dia merasa akan lebih senang dan menikmati pilihannya.

Jangan Iming-Imingi Es Krim
Mari akui saja, sebagian besar dari kita mungkin pernah melakukan trik ini kepada anak yang sedang mogok makan. “Kalau Adek mau makan ini, nanti Mama belikan es krim.” Kami pun dulu sering melakukannya. Kebetulan anak kami, seperti kebanyakan anak, sangat menyukai es krim.

Namun, semua referensi menyatakan, teknik iming-iming ini bukanlah cara yang baik. Orangtua boleh memberi iming-iming tapi hadiahnya sebaiknya bukan makanan, entah itu es krim, cokelat, permen, atau jajanan sejenisnya.

Sumber: Dreamstime.com

Tujuan kita adalah agar si kecil doyan makan nasi, lauk, sayur, dan buah. Kita harus mengajarkan bahwa semua makanan itu sama-sama enak. Kalau kita mengiming-imingi si kecil dengan hadiah es krim, itu akan semakin memperkuat pikirannya bahwa es krim memang makanan paling enak, sedangkan nasi dan sayur itu tidak enak.


Anak-anak sebaiknya dididik untuk makan makanan yang memang akan dia makan sehari-hari. Kita boleh memberi apresiasi tapi hadiahnya bukan makanan. Bisa dengan imbalan, misalnya, diajak bermain mandi bola, naik odong-odong, atau jalan-jalan.

No comments:

Post a Comment