Sunday, December 4, 2016

TIAP ANAK ITU UNIK

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:







Jika anak Anda susah makan, sebelum Anda senewen dan disangka mengalami PMS, mari sadari dulu bahwa Anda tidak sendirian. Hampir semua orangtua pernah mengalaminya. Tak usah merasa menjadi orangtua yang paling melarat di dunia. Masalah ini merupakan problem umum yang dihadapi oleh sebagian besar balita, hanya kadarnya yang berbeda-beda.

Ada anak yang sekadar susah makan, dalam arti masih mau makan walaupun susah. Ada yang picky eater, cuma mau makan makanan tertentu. Ada pula yang benar-benar tidak mau makan dan hanya mau minum susu selama tiga tahun atau bahkan lima tahun. Jadi, sekali lagi, jangan menganggap anak Anda sebagai anak yang paling rewel di dunia.

Kabar baiknya, problem yang biasa dialami anak balita ini biasanya akan berkurang sedikit demi sedikit dan akan menghilang dengan sendirinya seiring dengan bertambahnya usia anak.  

Kalau seorang anak mengalami susah makan, bisa jadi memang ia memiliki kelainan bawaan misalnya geligi atau organ cerna yang belum tumbuh sempurna. Namun, pada sebagian besar anak, masalah utamanya bukanlah kelainan bawaan melainkan kurang tepatnya cara orangtua dalam memberi makan dan mengawal tumbuh kembang si anak.

Sabar dan Telaten
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang teknik-teknik memberi makan anak, pertama-tama kita harus sadar bahwa usaha untuk mengatasi masalah anak susah makan butuh kesabaran ekstra. Ya, sabar yang ekstra. Klise memang tapi demikianlah faktanya. Kesabaran dan ketelatenan adalah bekal utama sebelum kita bicara tentang trik ini dan itu.

Paling awal, kesabaran ini diperlukan untuk mengenali sifat-sifat dan perilaku si anak. Mungkin terdengar aneh, sebetulnya banyak orangtua, termasuk kami, yang belum begitu mengenal sifat dan perilaku anak dengan baik.

Setiap anak memiliki keunikan tersendiri. Ini yang harus dikenali oleh orangtua agar bisa menemukan trik yang paling tepat buat dia. Kita boleh meniru trik orang lain tapi satu trik yang berhasil buat seorang anak, belum tentu berhasil untuk anak kita.

Sebagai contoh, anak kami. Sebelumnya kami masih berpikir dengan perspektif nasi. Yang namanya makan, harus dengan nasi. Jadi kami mulanya menyiasati masalah sulit makan itu dengan menyiapkan lauk yang berganti-ganti. Sekali dua kali memang berhasil, tapi tetap saja ia sering menolak makan.

Nasi Bukan Segalanya
Kami butuh waktu beberapa minggu untuk mengamati dan membuat kesimpulan bahwa dia bukan jenis “anak nasi”. Jika disuguhi nasi, ia lebih sering menolak daripada menerima. Bahkan, sebelum dia fasih bicara, dia sudah sangat pintar bilang “ndak doyan”. Untungnya, meski tidak suka nasi, dia mau makan kacang-kacangan, mulai dari kacang hijau, kedelai, termasuk tempe, hingga kacang tanah dan kacang tunggak.

Pada mulanya kami menvonis dia sebagai anak yang susah makan karena memang jarang mau makan nasi. Tapi setelah pengamatan dengan karbohidrat lain, kami meralat vonis sebelumnya. Kamilah yang tidak mengerti. Memang dia tidak makan nasi setiap hari, tapi itu bukan masalah besar karena toh gizi dari nasi bisa digantikan oleh gizi dari makanan-makanan lain.

Dalam urusan makan anak, orang-orang tua tidak selalu benar. Jika kami menggunakan pedoman orang-orang tua zaman dulu yang menganggap nasi sebagai segala-galanya, tentu anak saya sudah masuk kategori gawat darurat karena kadang dalam beberapa hari dia sama sekali tidak makan nasi.

Tiap kali kami berkunjung ke rumah ayah-ibu saya, emak saya bahkan selalu mengomeli istri saya kalau dia melihat si kecil tidak mau makan nasi sama sekali. Tapi karena kami tahu bahwa gizi nasi bisa tergantikan oleh makanan lain, kami tidak mencemaskannya sama sekali.

Setelah melakukan pengamatan beberapa minggu, kami biasanya baru mengetahui sifat-sifat uniknya dalam soal makan. Misalnya, dia biasanya menjadi lahap makan setelah dibiarkan bermain air sepuasnya. Pada awalnya, kami lebih sering melarang dia bermain air lama-lama karena kami khawatir dia jatuh sakit. Dalam kebiasaan keluarga Jawa, anak kecil memang tidak boleh lama-lama bermain di kamar mandi.

Tetapi karena dia sering menagis jika dilarang bermain air, akhirnya kami membolehkan dia kecipak-kecipuk di depan kamar mandi sampai puas. Awalnya kami bereksperimen sederhana, membiarkan dia bermain air sepuasnya, entah main semprotan, kecipak-kecipuk, hingga berendam di dalam bak.

Mulanya sekadar agar dia tidak menangis karena memang dia jenis “putri duyung” yang suka sekali bermain di air. Jika ia dibiarkan bermain lalu diberi bak dan selang dengan air yang mengalir, ia akan segera menjadi anak yang paling bahagia di dunia. Air akan ia semprotkan di lantai lalu ia bermain perosotan di lantai yang licin itu.

Selalu Waspada
Tentunya selama ia bermain, kami tetap mengawasinya, jangan sampai dia kedinginan atau melakukan sesuatu yang berbahaya. Ternyata, selain bisa menghentikan tangisnya, cara ini juga efektif sekali sebagai penambah nafsu makan.

Setelah bermain air sepuasnya, dia biasanya minta mentas sendiri dan setelah itu makan dengan lahap. Dugaan saya, selain karena hatinya puas, kelihatannya ini juga karena air yang dingin membuat tubuhnya aktif membakar energi untuk menghangatkan diri sehingga menjadikan dia lapar.

Trik bermain ini kami terapkan tidak hanya dalam urusan makan tapi juga urusan mandi. Kalau si kecil tidak mau mandi, saya ajak dia ke kamar mandi, lalu saya melepas baju saya sendiri dan berjongkok sembari menyuruh dia menyabuni badan saya. Pada saat dia menyabuni badan saya, saya menyabuni badannya.

Cara ini selalu berhasil membuat dia mau mandi dengan riang gembira. Bonusnya, setelah mandi penuh kegembiraan itu biasanya dia akan makan dengan lahap. Dari berbagai pengamatan ini, kami menyimpulkan bahwa dia menjadi lebih bernafsu makan kalau diajak bermain sampai puas.

Pengamatan selama beberapa minggu juga membuat kami tahu bahwa si kecil doyan makan sumber karbohidrat selain nasi seperti kentang, pisang, roti, singkong, ubi jalar, dan makanan yang dibuat dari tepung terigu. Jadi walaupun dia jarang makan nasi, dia masih bisa mendapatkan gizi dari tepung terigu dan kacang-kacangan.

Intinya, sebagai orangtua kita harus mau mengakui bahwa kita kadang belum begitu mengenal sifat dan perilaku anak kita sendiri. Kita harus telaten melakukan pengamatan pada anak. Trik yang berhasil pada seorang anak belum tentu berhasil untuk anak lain, tapi pesan utamanya sebetulnya sama: orangtua harus telaten mengamati keunikan pada anaknya.

Pengamatan ini mirip dengan penelitian di laboratorium. Perlu eksperimen. Yang namanya eksperimen, kadang berhasil, kadang gagal. Yang penting kita tetap memantau keadaan si anak, jangan sampai eksperimen itu membahayakan dia, misalnya membuat dia sampai kelaparan dan sakit.

Begitu pula dengan eksperimen bermain air. Kalau tidak kita awasi, bisa saja karena saking asyiknya bermain, si anak sampai kedinginan atau menelan banyak air mentah. Bisa juga air itu menjadi sumber penyakit kulit jika tempat bermainnya kotor.

Berpikir dengan Kacamata Anak
Setiap anak itu unik. Tiap anak punya hal yang disukai dan tidak disukai. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun punya kegemaran sendiri-sendiri dalam hal makanan. Saya, misalnya, suka tempe yang digoreng basah, sementara istri saya suka tempe yang digoreng kering. Saya suka kerupuk ikan yang agak alot, istri saya suka kerupuk yang renyah kriuk-kriuk.

Pada anak-anak, sifat unik ini sudah mulai tampak dan harus dikenali oleh orangtua. Anak saya, misalnya, suka makan sup dan soto ayam tapi kalau di mangkuknya ada irisan bawang daun, dia akan bilang dengan judes, “Ndak doyan!”

Untuk memudahkan pengamatan, kita bisa menggunakan buku harian khusus anak. Di buku itu kita catat makanan apa saja yang kita siapkan, bagaimana responnya, dan bagaimana kondisi anak. Dari situ nanti kita akan terbantu untuk membuat dugaan dan kesimpulan.

Agar lebih mudah membuat dugaan dan kesimpulan, kita sebaiknya berpikir menggunakan kacamata si anak. Bayangkan diri kita menjadi si kecil. Perspektif orang dewasa bisa jadi jauh bertentangan dengan perspektif si anak. Tanpa berempati kepada mereka, kita tidak mungkin bisa memahami dunia anak-anak.


Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Mereka belum mengenal konsep jijik, kotor, bahaya, dan sejenisnya. Agar kita bisa memahami pikiran anak-anak, kita harus membayangkan diri menjadi mereka. 

1 comment:

  1.  Obat Pembesar Penis Herbal Vimax Canada
    http://obatkuatoriginal.com/pembesar-penis/vimax-canada-pembesar-penis-herbal.html
     Lintah Oil Pembesar Penis
    http://obatkuatoriginal.com/pembesar-penis/lintah-oil-minyak-lintah.html
     Obat Hernia | Celana Hernia
    http://obatkuatoriginal.com/produk-herbal-kecantikan-dan-kesehatan/obat-hernia-celana.html
     Obat Ambeien | Obat Wasir
    http://obatkuatoriginal.com/produk-herbal-kecantikan-dan-kesehatan/obat-ambeien-wasir.html
     Cara Mengencangkan Payudara
    http://obatkuatoriginal.com/produk-herbal-kecantikan-dan-kesehatan/pembesar-payudara-elektrik.html
     Perangsang Wanita
    http://obatkuatoriginal.com/perangsang-dan-pelicin/potenzol-cair.html

    Kontak Pemesanan :
    Pin BBM : 2B0A56EA
    Tlp / sms / WhatsApp : 081368707020

    ReplyDelete